Advertisement

Mukjizat  berarti yang mele­mahkan atau mengalahkan. Istilah ini, dalam teologi Islam, sama maksudnya dengan kata Ziyat (dalam al-Quran), yang mengacu kepada peristiwa, perbuatan, atau hal yang luar biasa, yang terjadi da­lam rangka memperkuat wibawa rasul atau nabi, dan melemahkan atau menga­lahkan tantangan para musuhnya.

Peristiwa-peristiwa (yang dikisahkan da­lam al-Quran), yang dapat dianggap seba­gai peristiwa luar biasa untuk memperkuat wibawa nabi atau rasul, antara lain adalah: Nabi Musa memukulkan tongkat ke batu, maka memancar dan batu itu 12 mata air untuk keperluan minum kaumnya (2:60); Nabi Musa melemparkan tongkatnya, maka tongkat itu menjadi ular (7:107), atau menjadi sesuatu yang dapat menga­lahkan sihir para tukang sihir Fir`aun; Musa memukulkan tongkatnya ke laut, maka terbelah laut itu dan terbentanglah jalan penyeberangan bagi Nabi itu ber­sama kaumnya (26:63); Tuhan melunak­kan besi bagi Nabi Daud (34:10); Nabi Ibrahim dibakar oleh kaumnya yang dur­haka, tapi Nabi itu tetap selamat (21:69); Nabi Isa menciptakan burung dari tanah, menghidupkan orang mati, serta menyem­buhkan orang yang buta dan orang yang berpenyakit lepra (3:40).

Advertisement

Ada juga ulama yang berupaya melaku­kan interpretasi sedemikian rupa, sehingga sebagian dari peristiwa-peristiwa tersebut di atas tidak dipandang sebagai peristiwa luar biasa, dan karenanya tidak pula di­sebut mukjizat. Keterangan bahwa Tuhan melunakkan besi bagi Nabi Daud, dipaha­mi. sebagai isyarat ada atau berkembang­nya bengkel besi untuk pembuatan per­_alatan besi pada masa Nabi Daud; besi-besi itu tetap saja diluna.kkan melalui pernba­karan dengan api. Pukulan tongkat Nabi

Musa ke batu, hanya dipahami sebagai perintah Musa kepada kaumnya agar be­kerja keras menggali tanah berbatu untuk mendapatkan mata air, dan setelah air di­jumpai, dibuatlah 12 saluran untuk keper­luan ke-12 suku Bani Israil, yang dipimpin Nabi Musa itu. Belahnya laut dipahami se­bagai peristiwa surutnya pasang, yang me­mungkinkan Nabi Musa (setelah diberi tahu .melalui ilham) dan kaumnya menda­pat kesempatan baik untuk meninggalkan Mesir. Setelah mereka sampai di seberang, pasang pun naik dan menenggelamkan tentara Fir`aun yang mengejar.

Bagaimana pun, tidak semua peristiwa itu dapat ditafsirkan menjadi peristiwa biasa. Tongkat Musa yang berobah men­jadi ular, Nabi Ibrahim yang tidak hangus oleh api, penyembuhan oleh Nabi Isa, dan lain-lain, sulit dipahami sebagai peristiwa biasa. Oleh karena itu tetap saja ada se­jumlah peristiwa pada nabi atau rasul, yang disepakati oleh semua ulama Islam sebagai peristiwa luar biasa, dalam rangka memperkuat wibawa nabi atau rasul itu.

Berkenaan dengan mukjizat yang dimi­liki oleh Nabi Muhammad, para ulama se­pakat meyakini bahwa al-Quran merupa­kan mukjizat terbesar baginya. Kitab suci itu dapat mengungguli kehebatan sastra para pujangga Arab. Tuduhan-tuduhan yang menyatakan bahwa al-Quran itu karangan Nabi Muhammad, dapat dipatah­kan oleh kenyataan al-Quran itu sendiri, yang amat indah gaya bahasanya, tepat ramalannya, korektif kisah-kisahnya, dan benar keterangan-keterangan “ilthiah”- nya. Adapun mukjizat-mukjizatnya yang lain, berupa peristiwa luar biasa, seperti yang dimiliki oleh para nabi/rasul terda­hulu, tidak disebutkan dalam al-Quran, tapi dapat dijumpai dalam kitab hadis atau kitab tentang perjalanan hidupnya. Mukjizatnya itu antara lain: keluar air dari celah-celah jarinya, sehingga dapat dipakai untuk berwudu atau untuk diminum oleh orang banyak; dan makanan yang sedikit ternyata dapat mengenyangkan para pe­ngikutnya yang banyak. Sebagian ulama tidak tertarik kepada mukjizat -yang dibi­carakan dalam kitab hadis atau kitab bio­grafi Nabi itu, karena kesahihan beritanya dapat diperdebatkan. Mereka sudah me-rasa cukup dengan kemukjizatan al-Quran al-Karim.

Mukjizat-mukjizat yang dimiliki oleh para nabi atau rasul, kecuali mukjizat al­Quran bagi Nabi Muhammad, dipahami oleh kebanyakan ulama sebagai peristiwa luar biasa, yang melanggar sunnah yang berlaku bagi peristiwa-peristiwa yang di­ciptakan Tuhan. Pelanggaran terhadap sunnah itu dapat terjadi karena dikehen­daki oleh Tuhan. Tuhan, menurut keya­kinan mereka, boleh (jaiz) saja mencipta­kan peristiwa-peristiwa menurut sunnah­Nya, dan juga boleh dengan melanggar­nya. Dengan melakukan pelanggaran itu berarti Tuhan telah menciptakan mukjizat bagi nabi atau rasul-Nya.

Sebagaian ulama yang lain, memandang mukjizat itu juga sebagai peristiwa luar biasa, tapi tetap dalam batas-batas hukum alam yang tidak berobah. Kendati belum semua hukum alam itu diketahui, pasti ada hukum-alamnya agar tubuh manusia tidak hangus oleh api,. agar tongkat terli­hat oleh orang sebagai ular, dan lain se­bagainya. Peristiwa luar biasa yang tidak melanggar hukum alam itu, dipahami oleh sebagian ahli sebagai manifcstasi keterli­batan Tuhan untuk mewujudkan mukjizat itu, tapi oleh sebagian lagi dipahami seba­gai manifestasi keistimewaan jiwa nabi atau rasul. Yang akhir ini dapat disimpul­kan dari konsep al-Farabi tentang mukji­zat. Menurutnya, jiwa nabi atau rasul, karena memiliki kekuatan yang istimewa, bukan saja dapat menggerakkan mikro­kosmos (tubuhnya sendiri), tapi juga de­ngan cara luar biasa dapat menggerakkan makrokosmos (alam yang besar ini). Me­nangnya mukjizat terhadap sihir dapat di­pahami dengan prinsip ini sebagai menang­nya orang (nabi) yang memiliki jiwa yang lebih kuat dari jiwa lawannya.

Advertisement