Advertisement

Mukallaf berasal dari bahasa Arab yang artinya sesuatu yang dibebani suatu kewa­jiban. Dalam pengertian Ilmu Fikih term mukallaf berarti orang yang dibebani ke­tentuan-ketentuan hukum syariat.

Seseorang termasuk dalam kriteria mu­kallaf bila dia memenuhi persyaratan-per­syaratan sebagai berikut:

Advertisement

Pertama, orang tersebut harus dapat me­mahami dalil-dalil penetapan hukum baik yang berasal dari al-Quran maupun yang berasal dari hadis. Jika orang tersebut tidak dapat  mem ahami dalil-dalil tersebut, maka tidak mungkin dia akan dapat me­nunaikan ketentuan-ketentuan hukum yang ditetapkan oleh dalil-dalil itu.

Kedua, orang tersebut hams telah ber­akal sempuma. Dengan kemampuan akal yang sempurna seseorang akan dapat me­mahami dalil-dalil yang menetapkan hu­kum. Namun karena tanda-tanda kemam­puan akal pada diri seseorang itu tidak nampak dengan jelas dan tidak selalu sama dengan orang lain, maka syariat selalu me­ngaitkan kemampuan seseorang dengan kebaligannya. Jika seseorang telah mema­suki periode balig dan pada dirinya tidak nampak tanda-tanda ketidaksempurnaan akal, maka orang tersebut dianggap telah dapat memahami dalil-dalil penetapan hukum sebagaimana yang ditetapkan sya­riat. Sebaliknya, meskipun seseorang telah balig, tetapi tidak berakal, seperti orang gila, atau belum berakal, kurang sempurna akalnya seperti anak kecil, atau sedang dalam keadaan tidak sadar sehingga orang tersebut tidak dapat menggunakan akal­nya, maka dia tidak dibebani dengan ke­tentuan-ketentuan hukum syariat.

Ketiga, orang tersebut harus mempunyai ahliyyah (kecakapan), untuk melaksana­kan ketentuan-ketentuan hukum yang di­bebankan kepadanya. Sedang yang dimak­sud dengan ahliyyah adalah suatu sifat yang ditetapkan oleh syariat pada diri se­seorang yang menjadikan is pantas untuk ditetapkan hak-hak baginya dan untuk ditetapkan kewajiban-kewajiban kepada­nya serta untuk dipandang sah perbuatan­perbuatannya.

Dalam masalah mukallaf ini, selanjut­nya, terdapat perbedaan pendapat menge­nai siapa saja dari makhluk Tuhan yang terkena kewajiban taklif. Dalam hal ini se­mua ulama sepakat bahwa manusia se­muanya terkena kewajiban taklif. Kemu­dian timbul perbedaan apakah jin juga ter­masuk dalam kewajiban taklif, atau de­ngan kata lain apakah jin juga termasuk mukallaf. Sebagian ulama berpendapat bahwa jin tidak termasuk mukallaf, sebab risalah kenabian dari Muhammad hanya khusus untuk manusia. Sedang sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa jin ter­masuk sebagai mukallaf. Hal ini disebab­kan risalah kenabian Muhammad menca­kup juga pada jin. Lebih jauh mereka me­ngatakan bahwa khusus untuk Nabi Muhammad masalahnya ditujukan pada jin dan manusia, sedangkan pada rasul sebelumnya risalah mereka hanya dituju­kan untuk manusia saja. Sama halnya de­ngan para malaikat, meskipun kewajiban yang ditetapkan pada mereka hanya per­buatan-perbuatan yang baik atau ketaatan saja, namun mereka mempunyai kewajib­an iman. Dan kewajiban iman pada para malaikat itu ada secara daruri (keharusan).

Mengenai hal yang terakhir ini, sebagiL an ulama menetapkan bahwa sesuai de­ngaxr dari para malaikat itu sendiri sebagai makhluk yang taat, maka risalah kenabian Muhammad kepada mereka hanyalah untuk mensucikan atau meng­angkat derajat mereka (li tasyrifihim).

Selanjutnya ada sebagian ulama yang memperluas cakupan para mukallaf atau yang terkena kewajiban taklif dari risalah kenabian Muhammad. Mereka menegas­kan bahwa risalah kenabian Muhammad juga mencakup semua benda-benda mati yang ada di alam ini. Hal ini disebabkan karena dalam beberapa mukjizat yang di­tampakkan oleh Nabi Muhammad, akal juga diciptakan dalam benda-benda mati, dengan pengertian bahwa benda-benda mati tersebut juga percaya kepada mukji­zat Nabi Muhammad maupun kepada Mu­hammad sendiri dalam kedudukannya sebagai nabi.

Advertisement