Advertisement

Muhsin atau Muhsan terambil dari kata ijapina atau ahsana yang berarti kuat atau kokoh. Ahsana juga berarti memeli­hara diri dari perbuatan tercela seperti da­lam ungkapan: ahsanat al-mar’at, artinya perempuan (itu) memelihara dirinya dari perbuatan tercela. Di samping itu ahsana juga sering-sering diartikan sebagai kawin seperti dalam ungkapan: rajulun muhsa­nun, artinya laki-laki yang telah kawin. Al-Quran mempergunakan kata muhsin atau muhsan dalam beberapa surat dan ayat dengan beberapa pengertian yang berbeda:

(1) muhsan dengan arti al-`iffah, yak­ni memelihara diri dari perbuatan tercela (dalam hal ini zina) seperti kata al-muh­sanat yang terdapat dalam al-Quran surat an-Nisa:25, surat al-Maidah ayat 5 dan surat an-Nur:4 dan 23. Dalam ketiga surat dan empat ayat ini, kata muhsanat (jamak dari kata muhsanat) diartikan sebagai wanita-wanita yang memelihara kehormat­an dirinya dari perbuatan zina. Demikian pula kata akanat yang terdapat dalam Firman Allah: “… ahsanat farjaha “, yang berarti dia (Maryam — ibu Nabi Isa) yang memelihara kehormatannya (lihat surat al-Anbiya:91 dan surat at-Tahrim: 12).

Advertisement
  • muhsan dalam pengertian al-hurriy­yah, yaitu orang-orang merdeka — bukan budak atau hambasahaya (abid). Kata muhsan dalam pengertian orang merdeka terdapat dalam suarat an-Nisa:25.
  • mullsin atau muhsan dengan pe­ngertian at-tazawwuj (kawin) seperti yang terdapat dalam surat an-Nisa:24 dan surat al-Maidah :6. Dalam kedua ayat ini kata muhsinin (jamak dari kata muhsin) dan kata al-muhganat diartikan dengan kawin atau berkeluarga. Muhsinin diartikan me­ngawini, sedangkan al-muhs’anat ditafsir­kan sebagai wanita-wanita yang bersuami.

Para ulama lebih banyak memperguna­kan kata mulmin/mutzsan untuk pengerti­an `iffah dan tazawwuj, tidak untuk anti orang merdeka (al-hurr). Kata muhsan mereka mempergunakan untuk membeda­kan (membagi) perbuatan zina, yakni zina muhsan dan zina gair muhsan. Zina muh­san

ialah zina yang dilakukan oleh orang yang telah kawin (bersuami atau beristri) atau telah pernah kawin kemudian berce­rai (duda atau janda). Sedangkan zina gair muhsan berarti zina yang dilakukan oleh orang yang belum pernah kawin (gadis atau perjaka).

Menurut kebanyakan umat Islam (jum­har hukuman bagi pezina (zani) mu Igsin ialah hukuman rajam, yaitu dilempari dengan batu iampai mati sesuai beberapa Hadis Rasulullah yang disebut­sebut sebagai mutawatir dan sering-sering dinyatakan sebagai ijmak. Adapun hukum­an bagi pezina gair muhsan ialah hukuman jilid (dera) sebanyak 100 kali jika pelaku­nya orang merdeka, dan 50 kali dera (se­paruh hukuman orang merdeka) apabila pelakunya hamba sahaya surat an-Nur:2).

Untuk menentukan zina muhsan, diper­lukan tiga syarat berikut:

(1) pezinanya telah balig atau dewasa dan berakal sehat, orang gila dan anak ke­ cil tidak dirajam tetapi hanya dikenai hu­kuman ta`zir

  • pelakunya orang merdeka, hamba sahaya hanya dihukum dera walau is telah kawin
  • pelaku zina telah pernah bersetubuh selama perkawinannya yang sah.

Berbeda dengan mayoritas umat Islam, sebagian orang Islam terutama kaum Kha­warij, mengingkari pensyariatan hukuman rajam karena tidak terdapat dalam al-Qur­an. Menurut kelompok ini, hukuman bagi setiap pezina (muhsan maupun gair muh­san) adalah sama yaitu 100 kali dera bagi pezina yang berstatus merdeka dan 50 kali bagi pezina yang berstatus hamba sahaya. Bagi mereka, ayat 2 surat an-Nur berlaku umum untuk setiap pezina.

Dalam pada itu ada juga sebagian ulama (seperti Daud az-Zahiri) yang berpendapat tentang perlunya penggabungan hukuman dera dan rajam bagi pezina mulmin. Menu-rut ulama ini, pelaku zina muhsan dihu­kum dera terlebih dahulu dan 1::;aru kemu­dian dirajam sampai mati.

Selain mempergunakan muhsan untuk pengertian yang telah berkeluarga atau pernah berkeluarga, para fukaha juga sering meinakai kata muhsan(at) untuk orang yang memelihara kesucian dirinya dari perbuatan keji (zina) seperti dalam kata gaff al-mu Imanat yang berarti menu­duh zina wanita-wanita yang suci dari per­buatan zina.

Syariat Islam mengutuk perbuatan zina, tapi berbarengan dengan itu Islam juga melarang seseorang menuduh orang lain berbuat zina tanpa bukti. Menuduh orang lain berbuat zina tanpa dapat membukti­kan kebenarannya, hukumannya haram menurut Islam dan tergolong ke dalam perbuatan dosa besar. Bahkan lebih dari itu penuduh harus dihukum.

Menurut al-Quran surat an-Nur ayat 4 dan 23, orang yang menuduh orang lain berbuat zina tanpa dapat membuktikan kebenarannya antara lain dengan menga­jukan empat orang saksi, dihukum jilid (dera) sebanyak 80 kali. Di samping itu, penuduh zina yang tidak benar (hanya fit­nah) oleh al-Quran disebut sebagai orang fasiq yang tidak boleh dijadikan saksi kecuali jika setelah dihukum dera itu dia be­nar-benar bertobat.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah menggolongkan gaff al-mukanNt ke da­lam tujuh kelompok dosa besar bersama­sama dengan menyekutukan Allah, sihir, membunuh yang tidak dibenarkan oleh syariat, memakan riba, memakan harta anak yatim dan lari dari medan tempur (peperangan) tanpa alasan yang dibenar­kan (H.R. Bukhari Muslim).

 

Incoming search terms:

  • apakah kata muhsin dan muhsan sama

Advertisement
Filed under : Review, tags:

Incoming search terms:

  • apakah kata muhsin dan muhsan sama