Advertisement

Muhkamat dan Mutasyabihat ada­lah bentuk jamak dari masing-masing kata muhkam dan mutasyabih. Secara harfiah, muhkam artinya kokoh atau yang diko­kohkan (al-mu tqan); sedangkan mutasya­bih berarti serupa dan samar.

Para ulama berbeda pendapat dalam memberikan batasan tentang arti kata muhkamat dan mutasyabihat yang terda­pat dalam beberapa ayat al-Quran. Se­bagian dari mereka ada yang mengemuka­kan bahwa yang dimaksud dengan muh­kam ialah: sesuatu yang telah jelas makna­nya; sedangkan mutasyabih kebalikannya, yakni sesuatu yang tidak jelas maknanya. Di samping masih banyak yang memberi­kan batasan berbeda tentang muhkam dan mutasyabih, ada pula di antara mereka yang memberikan batasan demikian: muh­kam artinya sesuatu yang dapat diketahui pengertian atau maksudnya baik langsung maupun tidak langsung (melalui takwil), sedangkan mutasyabih berarti sesuatu yang makna atau maksudnya dirahasiakan oleh Allah seperti makna dan maksud dari huruf-huruf al-muqatta’ah di permulaan beberapa surat al-Quran.

Advertisement

Dalam pada itu ada pula ulama yang membedakan mutasyabihat ke dalam tiga macam:

Pertama: mutasyabihat yang samasekali tidak dapat terjangkau oleh kemampuan akal manusia untuk memahaminya seperti mengetahui Zat Allah, hakikat-sifat-sifat­Nya, waktu terjadinya hari kiamat dan lain-lain;

Kedua: mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh kebanyakan para ulama atau ilmuwan (apalagi orang awam), akan tetapi dapat dipahami oleh ulama-ulama tertentu atau mereka yang mendapat ju­lukan al-rasikhan fi al-71m (orang-orang yang mendalam ilmunya) dalam al-Qur­an (lihat surat All Imran: 7).

Ketiga: mutasyabihat yang pada dasar­nya setiap orang dapat mengetahui me­lalui metoda pelajaran dan pembahasan tertentu.

Hal lain yang juga diperselisihkan oleh para ulama mengenai persoalan muhkamat dan mutasyabihat ialah perbedaan mereka tentang apakah ayat-ayat al-Quran yang berjumlah 6000 ayat lebih itu semuanya bersifat muhkam atau mutasyabih? Ada yang menyatakan semuanya muhkamat, dan ada pula yang mengatakan seluruhnya mutasyabihat. Yang pertama berdalil de­ngan surat Hud: 51 sedangkan yang kedua berhujjah dengan az-Zumar: 23.

Di samping kedua pendapat yang baru saja dikemukakan, sesungguhnya ada pen­dapat ketiga yang moderat, yakni penda­pat yang mengatakan bahwa al-Quran itu sebagian ayatnya ada yang muhkamat dan sebagian yang lain tergolong ke dalam ayat-ayat mutasyabihat sesuai dengan pe­tunjuk al-Quran surat Ali Imran: 7.

Ketiga macam pendapat di atas, paling tidak menurut sebagian ulama, satu sama lain pada dasarnya tidak bertentangan. Semua ayat al-Quran dapat dikatakan muhkamat jika yang dimaksudkan dengan kemuhkamatannya itu ialah bahwa semua al-Quran, susunan (redaksi) lafal dan ke­indahan urut-urutan nazamnya sungguh sempurna dan tak sedikit pun ada keragu­an di dalamnya. Dalam konteks pengerti­an inilah ayat 11 surat Hud diturunkan. Demikian pula al-Quran bisa dikatakan seluruhnya mutasyabihat, sejauh yang di­maksudkan dengan kemutasyabihatannya itu ialah keserupaan dan keserasian antara ayat-ayatnya, baik dalam bidang balagah (keindahan) dan Pjaz (kemukjizatan)nya maupun karena kesulitan atau ketidak­mampuan seseorang dalam menampakkan kelebihan sebagian suku katanya dari se­bagian yang lain. Dalam pengertian inilah Allah menurunkan al-Quran sebagai kitab yang mutasyabihat seperti ditandaskan dalam ayat 3 surat All Imran yang terje­mahan tafsiriahnya demikian: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (ahsan al-hadis) berupa kitab yang (ayat-ayatnya) satu sama lain semutu atau serupa lagi berulang-ulang.”

 

 

Advertisement