Advertisement

Muharam adalah nama bagi bulan per­tama kalender Hijrah. Walaupun bulan Muharam bukan merupakan “bulan sebe­narnya” Nabi meninggalkan (hajara) Me­kah menuju Madinah, namun awal tahun Hijrah tetap menempati posisi penting bagi umat Islam sebagai simbol apresiasi diri dan renungan terhadap tindakan Nabi yang bersejarah tersebut. Kalau sebelum Islam, bulan-bulan tertentu dianggap se­bagai “bulan suci” yang hams dihormati untuk tidak saling menggunakan kekeras­an, maka nama Muharam (“terlarang”) yang tetap digunakan dalam kalender Hij­rah secara formal tidak ada hubungannya dengan pengertian pra-Islam tersebut. Bagaimanapun peristiwa bersejarah yang kemudian terjadi pada bulan Muharam telah menjadikan bulan tersebut mempu­nyai arti ekstra dan khusus bagi sebagian kaum muslimin.

Bagi kaum Syi`ah bulan Muharam me­rupakan kesempatan beragama yang isti­mewa. Hal ini sangat berkaitan dengan terbunuhnya Husein bin All secara menye­dihkan pada 680 (10 Muharam 61 H) di Karbala. Dalam kalender Syi`ah puncak ekspresi keagamaan yang bercorak luapan kesedihan dan sekaligus janji pengorbanan tersebut menjadi terkenal dengan sebutan A sy ura (“Hari Kesepuluh”). Sentralitas jiwa pengorbanan yang disimpulkan dari peristiwa Karbala memang menjadi simbol potensial dalam perjalanan hidup kelom­pok Syi`ah. Apabila bulan Muharam se­cara umum menjadi tanda dimulainya ta­hun barn Hijrah dengan menggugah apre­siasi terhadap peijuangan Nabi, bagi kaum Syi`ah satu dimensi tersendiri telah ber­kembang di sekitar Muharam sehingga lebih memperkaya pemahaman keagama­an mereka.

Advertisement

 

Advertisement