Advertisement

Muhammadiyah adalah suatu pergerak­an Islam, yang menghubungkan dirinya terhadap Nabi Muhammad. Penghubungan tersebut dimaksudkan untuk peringatan kepada setiap warganya agar senantiasa mengingatkan diri pada tugas-tugas dak­wah amar makruf nahi mungkar sebagai yang diemban oleh Nabi Muhammad.

Pergerakan ini =didirikan, di. Yogyakarta. pada 18 Nopember 1912 (8 Zillhijjah 1330H) oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan. Kiai Ahmad Dahlan, yang pada waktu bernama Muhammad Darwis, lahir di Yogyakarta pada 1869. Ia putra dari Kiai Haji Abuba­kar bin Kiai Sulaiman, khatib mesjid kera­ton Yogyakarta.

Advertisement

Pendidikan Dahlan dimulai dari ilmu­ilmu dasar dalam pemahaman Islam, yakni nahu, saraf, tafsir dan tauhid. Setelah itu ia berangkat ke Mekah pada 1890 untuk belajar kepada Syekh Ahmad Khatib, ula­ma anal Indonesia yang terkenal di Mekah waktu itu. Kemudian pada 1903, Dahlan kembali mengunjungi tanah suci dan ber­mukim dua tahun lamanya. Daiam kun­jungan yang kedua ini, Dahlan berkesem­patan bertemu dengan Muhammad Rasyid Rida, murid Muhammad Abduh tokoh pembaharuan Islam Mesir yang terkenal itu.

Sejak saat itu Dahlan menghayati cita­cita pembaharuan pemikiran Islam, dan mulai melakukan tindakan pembaharuan tersebut dengan merobah arah kiblat mes­jid keraton, kepada arah yang .sesuai me­nurut perhitungan yang sebenarnya. Na­mun usaha tersebut mendapat tantangan dari penghulu keraton Kiai Haji Muham­mad Jaiil. Karena gagal melakukan per­obahan terhadap arah kiblar mesjid kera­ton tersebut, lalu Dahlan mendirikan mes­jid sendiri dengan meletakkan arah kiblat yang tepat. Tetapi sayang mesjid kecil yang terletak di Kauman itu diruntuhkan atas perintah penghulu keraton sendiri.

Menyadari sepenuhnya kondisi yang mengitari umat Islam apatah lagi dalam himpitan kolonial Belanda, Dahlan meli­hat kepercayaan diri dan kebanggaan ber­agama Islam haruslah ditumbuhkan. Keti­ka berhadapan dengan kebudayaan Barat yang dibawa oleh kolonial Belanda, Dah­lan melihat, persoalan pokok nyaris sirna­nya kebanggaan beragama Islam itu adalah akibat kebodohan dan keterbelakangan umat, sementara sistem pendidikan yang dimiliki oleh umat Islam waktu itu, tidak bisa diharapkan untuk menghadapi dialog kultural yang terjadi. Malah yang tampil adalah sebaliknya, anggapan apa yang da­tang dari barat harus dijauhi dan dihindari. Orang-orang yang terpelajar merasa malu masuk mesjid dan tidak mau menunjuk­kan identitasnya sebagai seorang muslim.. Potret Islam tampil dalam wajah yang su­ram dan buram, dekil dan kotor, yang hanya dianut oleh orang-orang lanjut usia dan mengharapkan segera dipanggil Tuhan untuk menerima balasan surga jannatun naim.

Demikianlah Muhammadiyah berdiri dengan tujuan menyebarkan pengajaran Nabi Muhammad kepada penduduk bumi­putra di dalam residensi Yogyakarta serta memajukan hal-hal Islam kepada anggota­anggotanya. Kemudian rumusan tersebut dirobah, setelah Muhammadiyah meluas­kan sayapnya ke luar kota Yogyakarta. Rumusan maksud dan tujuannya menjadi memajukan dan menggembirakan penga­jaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Nederland serta memajukan dan meng­gembirakan kehidupan (cara hidup) sepan­jang kemauan agama Islam kepada lid-lid­nya.

Dewasa ini Muhammadiyah sudah mempunyai 24 eselon tingkat propinsi yang disebut wilayah, 300 eselon daerah tingkat kabupaten dan kotamadya, 3000 eselon cabang tingkat kecamatan dan 10.000 eselon tingkat ranting. Di samping tercatat 600.000 anggota bernomor baku, Muhammadiyah mempunyai banyak sim- • patisan sebagai abiturien dan alumni per­guruan dan perguruan Tinggi yang terse-bar di mana-mana.

Sebagai disebut dalam Kepribadian Mu­hammadiyah, .Muhammadiyah persyari­katan merupakan gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar dengan sasar­an dua bidang, perseorangan dan masya­rakat. Dakwah terhadap perseorangan di­tujukan kepada dua sasaran, yang sudah Islam berupa pembaharuan pemahaman Islam dengan mengembalikannya kepada ajaran Islam yang asli-murni, dan yang be­lum Islam bersifat seruan dan ajakan un­tuk memeluk Islam. Sedangkan untuk ma­syarakat, dakwah Muhammadiyah bersifat perbaikan, bimbingan dan peringatan un­tuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam kehidupan_pribadi dan masyarakat.

Untuk itu Muhammadiyah menggerakkan amal usaha di bidang pendidikan, so­sial kemasyarakatan serta tablig atau pe­nyiaran Islam.. Sektor pendidikan Muham­madiyah telah menghadirkan 13.201 se­kolah, semenjak jenjang taman kanak­kanak sampai pergUruan tinggi. Sekolah­sekolah tersebut terdiri dari 3000 taman kanak-kanak, 4000 sekolah dasar, 960 madrasah diniyah, 2300 sekolah mene­ngah pertama, 2900 menengah atas, 38 madrasah muallimin/muallimat, 6 pondok pesantren luhur atau tinggi, 41 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara.

Di sektor usaha kesejahteraan sosial ter­dapat 400 unit usaha yang terdiri dan ru­mah sakit umum, poliklinik, BKIA, panti asuhan yatim piatu dan pos santunan so­sial. Sementara di sektor tablig atau pe­nyiaran agama Islam tercatat hampir 3000 mesjid dan musala serta lembaga-lembaga pengkajian Islam.

Dalam usianya yang sudah 78 tahun, Muhammadiyah telah mengalami pasang naik dan pasang surut dalam gerakannya di bawah pimpinan tokoh-tokoh yang brillian pada masanya. Kepemimpinan ter­sebut diawali oleh Kiai Haji Ahmad Dah­lan (1912-1922), Kiai Haji Ibrahim (1923-1933), Haji Hisyam (1934-1936), Kiai Haji Mas Mansur (1937-1941), Ki Bagus Hadikusumo (1942-1953), A.R. Sutan Mansur (1953-1959), H.M. Yunus Anis (1959-1962), K.H.A. Badawi (1952 —1968), K.H. Fakih Usman (1968) dan 1968 sampai 1990 Muhammadiyah dipim­pin oleh K.H.A.R. Fakhruddin, dan sejak 1990 dipimpin oleh Ahmad Azhar Basyir.

Advertisement