Advertisement

Muhallil secara harfiah (etimologi) ber­arti orang yang menghalalkan (sesuatu). Namun dalam istilah syariat muhallil ada­lah sebutan bagi orang yang melakukan perkawinan tahlil (zawrij at-tahlil). Yang dimaksud dengan zawdj at-tahlil yang juga lazim disebut dengan istilah nikah muhal­lil ialah suatu perkawinan yang dilakukan seseorang dengan seorang wanita yang te­lah ditalak tiga kali oleh suami yang sebe­lumnya setelah selesai masa iddahnya, de­ngan maksud agar wanita tersebut dapat menikah kembali dengan bekas suaminya yang pertama setelah dia bercerai dengan suami yang kedua. Orang yang melakukan perkawinan semacam ini disebut muhallil, karena perkawinan yang dia lakukan se­mata-mata untuk menghalalkan perkawin­an istri yang akan dicerainya itu dengan bekas suami yang pertama yang pada mu­lanya tidak boleh kawin karena telah men­talak tiga kali.

Seperti dinyatakan al-Quran surat al-Ba­qarah: 230, seorang istri yang telah dicerai (ditalak) suaminya sebanyak tiga kali, ti­dak boleh kembali (rujuk) atau menikah Iagi dengan suami yang telah mentalak tiga itu, kecuali jika dia telah terlebih da­hulu menikah dengan laki-laki lain setelah selesai masa iddahnya. Itupun bila kedua syarat berikut dipenuhi.

Advertisement

Pertama: Perkawinannya dengan suami kedua dilakukan secara wajar sebagaimana layaknya suatu perkawinan, dalam penger­tian tidak hanya merupakan pemenuhan syarat untuk dapat menikah lagi dengan suami yang sebelumnya setelah dia berce­rai dengan suami kedua nanti. Kedua: Se-lama masa perkawinan dengan suami yang kedua itu harus telah pernah melakukan hubungan kelamin (bersenggama) sesuai ketentuan al-Hadis.

Apabila kedua syarat tersebut telah di­penuhi dan kemudian mereka bercerai atau suaminya meninggal, si istri boleh menikah lagi dengan bekas suaminya yang pertama setelah selesai masa iddah. Perka­winan yang, demikian tidak dinamalcan-za­waj at-tahlil, dan pelakunya tidak dapat disebut muhallil.Perkawinan itu dinamakan zaway at­tahin dan orang yang melaksanakannya di­sebut muhallil jika akad perkawinan yang dia lakukan hanya untuk beberapa waktu untuk kemudian dia talak supaya dapat menikah lagi dengan bekas suaminya yang terdahulu. Menurut beberapa Hadis Rasul Allah. “Allah dan Rasul-Nya melaknat (mengutuk) orang yang menghalalkan (muhallil) dan orang yang dihalalkan (mu­halla lah).” Maksudnya, orang yang mela­kukan zawdi at-tahlil dan orang yang kare­na zawlij at-tahlil itu bisa menikah lagi de­ngan bekas suami atau istrinya, mereka akan mendapat laknat dari Allah dan Ra­sul-Nya.

Adapun mengenai hukum nikah muhal­lil, di kalangan para ahli hukum Islam ter­dapat beberapa perbedaan pendapat. Se­bagian dari mereka seperti Imam Malik, Imam Ahmad ibnu Hambal, as-Sauri, Daud az-Zahiri, al-Nakha’i, al-Lays, Qa­tadah, Ibnu al-Mubarak, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan lain-lain. berpendapat bahwa nikah muhallil hu­kumnya haram dan tergolong perbuatan dosa. Menurut mereka, selama perkawinan itu dimaksudkan atau diniatkan untuk se­kedar dapat menghalalkan (tahlil) perka­winan istri yang akan ditalaknya nanti de­ngan bekas suaminya yang terdahulu, ma­ka perkawinan tersebut dianggap sebagai nikah muhallil dan hukum perkawinannya dipandang batal alias tidak sah; baik mak­sud dan niat penghalalan itu disyaratkan (dinyatakan) ketika akad nikah dilang­sungkan maupun tidak dijelaskan sewaktu dilangsungkan akad nikahnya. Sebab, me­nurut mereka, pernyataan akad nikah itu pada dasarnya bergantung pada maksud dan niatnya, tidak pada perkataan atau pernyataan yang diucapkannya.

nyatakan sewaktu akad nikah berlang­sung, nikah muhallil hukumnya boleh (fd’iz) karena ketetapan muhallil tidaknya perkawinan itu didasarkan pada lahiriah pernyataan itu sendiri tidak berdasarkan pada maksud tujuannya yang tersimpan dalam hati. Kedudukan niat dalam mela­kukan berbagai akad tidak dianggap (di­pandang) menentukan akad itu sendiri.

Senada dengan pendapat kedua, Imam Syafil berpendirian bahwa muhallil yang mengakibatkan nikahnya menjadi rusak (fasid) atau tidak sah ialah muhallil yang diwaktu akad dia mensyaratkan bahwa istri yang dinikahinya itu akan dia talak di kemudian hari dengan maksud supaya ha­lal menikah dengan bekas suaminya yang terdahulu. Adapun muhallil yang tidak menyebut (menyatakan) syarat-syarat yang demikian sewaktu melangsungkan akad pernikahan, akad nikahnya tetap sah walau dalam hatinya terdapat niat untuk menceraikan istrinya nanti supaya dapat menikah lagi dengan bekas suaminya yang terdahulu.

Berbeda dengan ketiga pendapat yang telah dikemukakan di atas, Imam Abu Ha­nifah dan Zufar menyatakan bahwa nikah muhallil yang disyaratkan dalam akad hu­kumnya hanya makruh, sedangkan nikah­nya tetap sah karena suatu akad perkawin­an tidak otomatis menjadi batal hanya karena ada beberapa syarat yang dipan­dang Os’ id (rusak). Oleh karena itu suami yang pertama boleh menikahi kembali be­kas istrinya setelah dicerai oleh suami ke­dua atau setelah kematian suami kedua manakala iddahnya telah selesai.

Berlainan dengan Abu Hanifah, Abu Yusuf, murid terdekat Abu Hanifah, me­mandang nikah muhallil sebagai akad ni­kah yang fasid karena dia tergolong ke da­lam nikah mu’aqqat (nikah hanya untuk beberapa waktu) yang dilarang What ni­kah Mut’ah). Namun demikian Abu Yusuf tetap memandang sah akad pernikahan suami yang kedua ini, tetapi dia tidak menghalallcan suami pertama menikah kembali dengan bekas istrinya yang telah dinikahi dan kemudian dicerai oleh suami yang muhallil tadi.

Advertisement