Advertisement

Muhajirun adalah sebuah istilah yang berarti “orang-orang yang berpindah tem­pat tinggal” diberikan kepada para saha­bat Nabi yang hijrah ke Madinah (Yasrib) pada 622. Keputusan Nabi untuk hijrah ke Madinah bersama sahabat-sahabatnya bukanlah terjadi secara tiba-tiba, melain­kan telah diperhitungkan secara matang hampir selama dua tahun. Dan sebagai se­orang Rasul, tentunya, Nabi Muhammad juga selalu membutuhkan petunjuk Tuhan dalam urusan penting yang dihadapi, ter­masuk hijrah ke Madinah. Akhirnya se­waktu hijrah ke Madinah dilaksanakan, • Nabi meminta para sahabatnya di Mekah yang berjumlah kira-kira 70 orang menuju Madinah dalam kelompok-kelompok kecil secara berangsur-angsur. Memang perpin­dahan 70 sahabat ke Madinah pada musim panas 622 ini memakan waktu hampir sela­ma tiga bulan: Juli, Agustus dan Septem­ber. Tidak diragukan lagi Nabi menghin­dari kejutan pada masyarakat Quraisy di Mekah.

Hijrah ke Madinah bukanlah hijrah per­tama dianjurkan Nabi kepada. para saha­batnya. Setelah kurang lebih dua tahun mengajak penghuni Mekah secara terbuka menerima ajaran yang dibawanya, pada sa­tu segi, Nabi berhasil mengumpulkan ber­puluh pengikut tetapi pada segi lain tekan­an dan ancaman orang-orang Quraisy ter­hadap pengikut Nabi juga meningkat. Per­kembangan ini kelihatannya tidak begitu mempengaruhi individu-individu muslim yang datang dari keluarga lemah atau pinggiran, apalagi yang tidak memiliki akar di Mekah. Akhirnya Nabi menganjur­kan para sahabatnya untuk hijrah ke Etio­pia (Habasyah). Tentunya Nabi telah me­miliki informasi yang baik dan mengun­tungkan sehingga is berani memutuskan hal ini, khususnya kalau diingat bahwa pe­nguasa Etiopia adalah pengikut agama Kristen. Pada 625 berangkatlah serom­bongan Muhajirun yang berjumlah 83 laki­laki dewasa bersama anggota keluarga me­reka. Perpindahan ke Etiopia ini kemu­dian dikenal sebagai “Hijrah yang Perta­ma”, sedang hijrah ke Madinah adalah yang kedua. Karena kenyataannya bahwa hijrah ke Madinah merupakan pembulca babak baru dalam perjalanan misi Nabi, tidak mengherankan jika istilah hijrah da­lam Islam hampir-hampir selalu dikaitkan dengan berpindahnya para Muhajirun ke Madinah. Di samping itu pengabadian ke­jadian itu sebagai penghitungan kalender (Tahun Hijrah) telah mempertegas sentra­litas hijrah ke Madinah).

Advertisement

Kaum Muhajirun menjadi unsur penting di Madinah. Sejumlah orang-orang Madi­nah baik Khazraj maupun Aus yang telah bertemu dan menerima Nabi bahkan sebe­lum hijrah rupanya telah siap menghadapi berbagai akibat dari kedatangan Muhaji­run ke Madinah, termasuk akomodasi. Da-lam tata kehidupan kesukuan sebagaimana yang berkembang kala itu, pemberian pro­teksi dan akomodasi terhadap para penca­ri suaka bukanlah hal yang asing dan baru. Tetapi masalah yang dihadapi Nabi bukan lagi pada tingkat suku melainkan dalam lingkup yang lebih luas. Nabi untuk perta­ma kali mengambil inisiatif guna membina hubungan solidaritas dan ukhuwah (nu’a­kiln) antara Muhajirun dari para pengikut mereka (Ansar) di Madinah. Dalam waktu kurang dari tiga tahun setelah hijrah inte­grasi kelompok Muhajirun ke dalam ma- syarakat Madinah telah berhasil baik dan ini terbukti dari tercapainya pengundang­an “Konstitusi Madinah”. Peristiwa ini juga menandai munculnya konsep baru tentang ikatan menyeluruh (umat), di an­tara berbagai unsur masyarakat yang me­nerima kepemimpinan Nabi. Kaum Muha­jirun memainkan peranan utama dalam mendukung misi Nabi sebagaimana terli­hat dari tugas-tugas penting yang mereka emban, terutama dalam melawan ancaman dan tipu daya orang-orang Quraisy.

Namun kelebihan yang dimainkan orang-orang Muhajirun tersebut menim­bulkan semacam rasa iri di kalangan Ansar sepeninggal Nabi. Berkat kebijaksanaan dan keadilan Nabi tidak pernah timbul konflik antara Muhajirun dan Ansar sela­ma masih hidup Nabi. Perkembangan yang begitu cepat selama beberapa tahun ter­akhir hidup Nabi, dengan penerimaan ber­bagai suku dan orang-orang Quraisy atas kepemimpinan Nabi rupanya punya penga­ruh negatif terhadap posisi Ansar. Sebagai tuan rumah di Madinah wajar kalau mere­ka merasa terabaikan dengan kedatangan kelompok-kelompok yang beragam terse-but. Perasaan tidak puas ini terkespresikan ketika tokoh-tokoh Ansar berupaya meng­ambil alih tampuk pimpinan ketika Nabi meninggal. Kelompok Muhajirun yang me­mang berperan besar dalam mendukung misi Nabi menolak upaya orang-orang An­sar dengan dalih bahwa Nabi telah menun­juk kelompok Muhajirun buat kepemim­pinan umat. Ternyata klaim Muhajirun tersebut dapat dibuktikan minimal selama pemerintahan al-Khulafa ar-Rasyidun bah­wa para khalifah berasal dari tokoh-tokoh Muhajirin. Namun ikatan kekerabatan dan praktis antara individu-individu Muhajirun dengan orang-orang Quraisy secara umum juga menimbulkan dilema tersendiri. Im­presi yang timbul bahwa orang Quraisy menumpang wibawa dan posisi kelompok Muhajirun menumbuhkan ketidakpuasan di kalangan Ansar. Bukankah yang bela­kangan telah banyak berkorban semenjak dini demi berhasilnya misi Nabi? Tetapi kenapa orang-orang Quraisy secara umum akhirnya justru yang menempati posisi yang lebih penting? Memang rasa ketidakpuasan orang-orang Ansar ini tidak pernah ditujukan secara eksplisit kepada Muhaji­run apalagi melembaga menjadi pola kon­flik dalam sejarah Islam, kendati terbukti bahwa Ansar serentak mendukung kepe­mimpinan Ali yang menginginkan per­ubahan atas privilege yang dinikmati Qu­raisy

Advertisement