Advertisement

Mubah adalah hukum Islam yang me­nunjukkan boleh dipilih antara melakukan dan tidak melakukan. Ia adalah salah satu dari hukum taklifi, di samping wajib, man-dub, haram dan makruh (lihat Hukum Taklifi). Ia disebut juga takhyir yang ber­arti bahwa seorang boleh memilih antara memperbuat atau meninggalkannya. Da-lam kehidupan sehari-hari banyak ditemui perbuatan yang hukumnya mubah. Makan dan minum di atas sekedar mempertahan­kan kelangsungan hidup, hukumnya ada­lah mubah asal tidak sampai ke batas yang menimbulkan efek negatif terhadap kese­hatan. Makan dan minum sekedar mem­pertahankan kelangsungan hidup, hukum­nya adalah wajib, sedangkan makan dan minum yang berlebih-lebihan yang bisa merusak kesehatan, hukumnya adalah ha-ram.

Imam Syatibi dalam kitabnya al-MuwJ­faqat menjelaskan bahwa mubah adalah suatu perbuatan yang tidak dituntut un­tuk dilakukan dan tidak pula untuk di­tinggalkan. Oleh karena itu, baik melaku­kan atau meninggalkan tidaklah dianggap suatu ketaatan. Oleh karena tidak mengan­dung unsur ketaatan, tidak ada sangkut­pautnya dengan dosa dan pahala. Berlain dengan itu, dalam pendapat salah seorang dari tokoh Mu`tazilah, tidak ada satu pun dalam hukum Islam didapati hu­kum mubah dalam arti tidak menyangkut dengan dosa dan pahala. Dalam hukum Is­lam yang ada hanya tuntutan untuk mengerjakan dan tuntutan untuk mening­galkan. Tuhan menyuruh orang melaku­kan segala sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan sesuatu yang membawa mu­darat. Segala perbuatan menurut syariat adalah bergantung kepada niat. Suatu per- buatan yang bermanfaat apabila diniatkan mengharap pahala dari Allah, ia akan dibe­ri pahala, tetapi jika niatnya adalah untuk sesuatu yang tidak disukai Allah, ia akan mendapat murka Allah. Oleh sebab itu tidak ada satu pun perbuatan yang tidak bersangkut paut dengan dosa dan pahala. Kelihatannya mendasarkan pen­dapatnya kepada suatu keyakinan bahwa Allah menjadikan segala sesuatu bukannya tanpa tujuan. Oleh sebab itu talc satu pun perbuatan manusia yang tidak dinilai oleh Allah. Di sisi lain al-Kati melihat bahwa hukum mubah dalam suatu perbuatan ter­dapat, apabila manfaat dan mudarat yang terkandung di dalamnya sama berat. Ada­lah sulit digambarkan suatu perbuatan yang bersifat demikian. Oleh karena itu dapat dipastikan tidak adanya hukum mu-bah.

Advertisement

Syatibi dalam pemikiran mubahnya le­bih lanjut menjelaskan bahwa suatu per­buatan yang dinilai mubah dalam satu tingkatan, bisa bersifat wajib dalam ting­katan lain. Umpamanya makan dan mi­num yang hukumnya adalah mubah, da­lam batas di luar dari sekedar kelangsung­an hidup, hukumnya bukanlah mubah te­tapi wajib, dengan anti apabila ditinggal­kan menjadi dosa. Demikian pula bermain dalam hal-hal yang dibolehkan syariat hu­kumnya adalah mubah. Akan tetapi hu­kumnya bisa menjadi haram apabila de­ngan bermain, waktu untuk menunaikan kewajiban luput. Oleh sebab itu suatu per­buatan tidak dapat secara mutlak dinilai mempunyai hukum mubah. Sesuatu yang mubah bisa saja menjadi haram, apabila hal itu bisa menyeret pelakunya kepada malapetaka terhadap dirinya atau orang lain. Sebaliknya bisa pula menjadi wajib apabila dengan hal itu barn suatu kewajib­an dapat dilakukan.

Atas dasar adanya hukum mubah di an­tara hukum-hukum Islam, maka untuk mengetahuinya ada berbagai jalan, yang disimpulkan oleh pakar-pakar usul-fikih dalam tiga cara, yaitu:

  1. Melalui ayat-ayat yang meniadakan dosa dari sesuatu perbuatan. Umpamanya dalam surat al-Baciarah: 173, setelah men­jelaskan, larangan memakan bangkai, darah, daging babi dan hasil sembelihan yang bukan atas nama Allah, ditegaskan bahwa orang-orang yang sedang terdesak tidak berdosa memakannya. Tidak adanya suatu dosa bagi yang memakannya itu menanda­kan bahwa hukumnya adalah mubah. Pan­dangan ini sejalan dengan pandangan ka­langan ulama yang berpendapat bahwa da­lam hal tersebut hukum haramnya hilang dan timbul hukum mubah. Ia tidak sejalan dengan pandangan kalangan ulama lain yang berpendapat bahwa hukum haram­nya masih tetap, tetapi seseorang oleh ka­rena terdesak dimaafkan dart dosanya.
  2. Adanya ayat atau hadis yang menje­laskan kehalalan sesuatu perbuatan. Con­tohnya surat al-Maidah: 5 yang menjelas­kan: “Pada hari ini telah dihalalkan bagi­mu makanan yang baik-baik. . “

Tidak adanya penjelasan haramnya dalam al-Quran dan hadis, menunjukkan bahwa sesuatu itu adalah mubah. Dan jalan inilah yang paling banyak diketahui hukum mubah. Atas dasar itu, suatu per­buatan atau makanan dan minuman dapat dikatakan mubah apabila tidak didapati sesuatu dalil yang mengharamkannya. Da­lil      bisa yang berupa tegas,
dan bisa pula lewat makna dalam bentuk kias (analogi). Berbagai dalil dikemukakan oleh pakar-pakar hukum Islam atas kebe­naran konsep ini. Yang paling mudah di­pahami adalah bahwa pada dasarnya se­tiap sesuatu yang diciptakan Allah adalah untuk umat manusia, seperti diisyaratkan dalam surat al-Baciarah: 29. Hal itu me­ngandung pengertian bahwa setiap sesuatu itu boleh dimanfaatkan selama tidak ada suatu larangan. Ia boleh dimanfaatkan, se-lama memang bermanfaat bagi manusia. Atas landasan itu timbullah satu kaidah di kalangan ulama bahwa pada dasarnya tiap suatu yang bermanfaat itu adalah mu-bah, selama tidak ada suatu larangan.

Advertisement