Advertisement

Mu’allagat adalah 7 buah karya puisi (syair atau kasidah) masa pra-Islam yang dinilai paling tinggi mutunya dibanding­kan dengan yang lain pada masanya, baik dilihat dari segi pemilihan kata-katanya, derap irama sajaknya, isi yang terkandung di dalamnya serta kekayaan imajinasinya.

Menurut Ibnu Abdi Rabbih, karya puisi semacam itu bagi yang sangat mengagumi­nya ditulis pada kain rami dengan air emas dan digantungkan di Ka’bah, sehingga di­sebut al-rnutahhabat (yang disepuh emas) atau al-rnuallaqat (yang digantungkan), meskipun ada yang berpendapat bahwa al­muzahhabat sederajat lebih rendah dad­pada al-mu’allagat.

Advertisement

Tujuh karya puisi itu adalah gubahan:

  • Umru al-Qais. Karya dari putra raja Kindah yang hidup mewah dan gemar me­nyanjung wanita ini sangat terkenal de­ngan ungkapan-ungkapan barunya yang ti­dak tertandingioleh penyair lain pada ma­
  • Zuhair ibnu Abi Sulma. Puisinya terkenal karena mengandung banyak kata­kata hikmat dan isinya banyak mengan­dung nasihat-nasihat yang sangat berguna, terutama bagi Arab Jahiliyah yang sangat cenderung akan tindak kekerasan.
  • Al-Haris ibnu Halizah. Puisinya di­kenal dengan kelancaran bahasanya dan derap sajaknya.
  • Tarfah ibnu al-Abd. Karyanya ter­kenal dengan kepadatan bahasanya dan ketepatan memilih kata-katanya.
  • Lubaid ibnu Rabiah. Di antara ke­istimewaannya adalah sajak ratapannya yang hikmat-hikmat dan perumparnaan.- perumpamaannya dituangkan dalam Baha­sa yang indah.
  • Amru ibnu Kulsum. Sastrawan yang karya prosanya sama baiknya dengan kar­ya puisinya ini yang lebih menonjol ada­lah sajak-sajak kebanggaannya (fakhr).
  • Antarah al-Absi. Penyair yang ibu­nya budak ini yang lebih menonjol adalah sajak-sajaknya tentang keberanian (hama­sat) dan kebanggaan. Ada pula pendapat bahwa 7 orang penyair itu termasuk an­Nabigah az-Zubyani dan A’sya Qais.

 

Advertisement