Advertisement

Modin berasal dari katamu’azzin (Arab), artinya juru azan (lihat Azan). Di masa­masa kerajaan atau kesultanan Islam tem­po dulu, modin merupakan salah satu se­butan atau jabatan bagi sebagian pegawai kemesjidan dengan tugas utama dan per­tama sebagai juru azan.

Sebagai tercatat dalam sejarah, di ma­sa-masa kesultanan atau kerajaan Islam zaman dulu, penghulu mempunyai ke­dudukan yang cukup penting bagi suatu pemerintahan terutama dalam kaitannya dengan soal pengurusan atau kebijaksana­an pemerintah dalam soal-soal keagamaan Islam.

Advertisement

Di daerah Swapraja Sala dan Yogyakar­ta umpamanya, para raja mengangkat Kanjeng Penghulu. Demikian pula di dae­rah lain di Pulau Jawa. Di Jakarta dan ibu kota-ibu kota kresidenan diangkat peng­hulu kepala (hoofd Penghoeloe), di ting­kat kabupaten ada penghulu dan adjunct (wakil) penghulu; sedangkan di tingkat kawedanan dan kecamatan juga ada peng­hulu naib.

Para penghulu itu diangkat oleh residen atas pertimbangan bupati, kecuali peng­hulu naib yang langsung diangkat oleh bu­pati atas usul penghulu. Adapun tugas­tugas para penghulu itu antara lain:

  • menjadi imam mesjid
  • sebagai kepala pegawai pencatat ni­kah
  • ketua pengadilan agama
  • penasihat bupati dalam masalah-ma­salah keagamaan
  • sebagai penasihat pada landraad (pengadilan negeri).

Dalam melakukan tugas-tugas tersebut, para penghulu dibantu oleh para petugas kemesjidan seperti modin, katib (berasal dari kata Arab katib artinya juru tulis atau khatib yang berarti “juru khutbah”), mer­bot (berasal dari kata Arab murabbi mak­sudnya perawat atau pemelihara mesjid) dan lain-lain.

Dahulu kala, konon jumlah pegawai ke­mesjidan itu diusahakan supaya tidak ku­rang dari 40 orang terutama di kota-kota yang ada mesjid jami. Adapun tujuan uta­aanya ialah agar pada setiap melakukan salat Jumat jemaahnya tidak kurang dari 40 orang. Hal yang demikian tentu mu­dah dipahami karena di Indonesia ini khu­stisnya di masa-masa silam, pengaruh mazhab Syafil begitu kuat dan merakyat. Sedangkan menurut mazhab ini, di antara syarat dibolehkannya mendirikan salat Jumat adalah bila jumlah jemaah menca­pai 40 orang dan itu pun harus semuanya mukallaf (balig).

Sebagai salah seorang petugas kemesjid­an, modin mempunyai peran cukup pen­ting. Bukan saja karena ia turut mengu­mandangkan syiar Islam terutama melalui azan yang dikumandangkannya, melain­kan juga turut menentukan pelaksanaan waktu salat. Itulah sebabnya mengapa se­tidalcnya sebagian ulama ada yang men­syaratkan modin (mu’azzin) hams se­orang yang adil di samping syarat-syarat lainnya seperti mumayyiz, mengetahui waktu salat, muslim dan laki-laki.

Dalam pada itu ada pula beberapa ke­utamaan yang patut diindahkan para mo­din berkenaan dengan masalah azan ini. Di antaranya:

  • suci dari hadas kecil apalagi hadas besar
  • berdiri dan menghadap kiblat
  • mengeraskan suara dan lebih baik lagi bila bagus (enak) suaranya
  • menolehkan kepala ke arah kanan ketika mengumandangkan lafal hayya as-salah dan ke arah kiri sewaktu menga­lunkan kalimat hayya al-falah
  • tidak berbicara di waktu melakukan azan
  • memasukkan ujimg jari ke dalam kedua lubang telinga.

 

Advertisement