Advertisement

Min al’Aidin wa al-Faizin adalah is­tilah, perkataan, yang biasanya disampai­kan dalam seremoni keagamaan hari raya Idulfitri al-Fitr) sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira umat Islam atas ke­berhasilannya melakukan ibadat puasa Ra­madan. Sebagaimana Halal bil halal, yang secara etimologi berasal dari bahasa Arab, namun secara terminologi tidak dikenal oleh budaya masyarakat Arab, istilah Min

wa al-Filizin pun — yang secara etimologis berarti kita termasuk orang­orang yang kembali dan memperoleh ke­menangan — menunjukkan gejala yang sa­ma. Sebagai bahan perbandingan, dalam konteks ini, setidaknya, di masyarakat Arab dikenal istilah Beraka Allah (semoga Allah memberkati) atau dengan pengucap­an yang lebih lengkap: Berakane Allah wa lyakum (semoga Allah memberkati kita semua). Atas dasar ini, banyak kaum mus­limin Indonesia dalam mengucapkan isti­lah Min al-Aidin wa al-Feizin mengga­bungkannya dengan istilah yang disebut belakangan. Dengan demikian, istilah Min al-Aidin wa merupakan satu ke­satuan dengan istilah Halal bil Halal da­lam tradisi seremoni keagamaan hari raya Idulfitri, yang bersifat khas budaya keaga­maan masyarakat Islam Jawa yang kemu­dian menyebar ke berbagai kepulauan Nu­santara.

Advertisement

Terlepas dari siapa yang membudaya­kannya.pertama kali ada indikasi bahwa istilah ini tidak dapat dipisahkan dari sis­tem Politik Islam Hindia Belanda, dan ka­rena itu Dr. C. Snouck Hurgronjelah seba­gai pemrakarsanya – istilah Min al-Aidin wa semangatnya berkaitan de­ngan pernyataan Nabi bahwa perang yang paling besar adalah melawan hawa nafsu; sedangkan puasa merupakan suatu latihan spiritual dalam mengendalikan hawa naf­su. Atas dasar itu, dengan kata lain, dalam konteks ini istilah tersebut bisa diungkap­kan dengan pernyataan yang lebih leng­kap: kita termasuk orang-orang yang telah kembali dari medan-peperangan yang pa­ling besar, melawan hawa nafsu, dan kita telah memperoleh kemenangan. (Selanjut­ nya lihat Halal bil Halal)

Advertisement