Advertisement

Mihnah biasanya dipakai untuk me­nunjukkan “cobaan dan penderitaan yang dialami para tokoh.” Lebih khusus mih­nah dihubungkan dengan penderitaan dan cabaran yang diterima para ahli hadis, ter­utama Ibnu Hambal (w. 855/240 H), kare­na keteguhan mereka untuk memperta­hankan bahwa al-Quran bukanlah “dicipta­kan” (makhlaq). Peristiwa ini disponsori oleh khalifah Abbasiyah al-Ma’mun (w. 833/318 H) dalam upacaranya menyebar­kan ajaran Mu`tazilah. Sebagai penganut dan pendukung aliran Mu’tazilah khalifah memandang perlu untuk memberikan pela­jaran terhadap kelompok ahli !hadis yang semakin merajalela, khususnya di Bagdad. Berbagai kerusuhan sosial yang timbul di Bagdad antara kelompok ahli hadis dan orang-orang Syi`ah tentu meresahkan keamanan di ibukota tersebut. Sebagai se­orang khalifah yang berupaya mendapat­kan dukungan kaum Syi`ah tidak menghe­rankan kalau is menunjukkan sikap ber­musuhan terhadap ahli hadis. Al-Quran se­bagai topik kontroversil mungkin lebih me­rupakan alasan yang diciptakan guna memberikan casus belli terhadap tokoh­tokoh ahli hadis. Hal ini akan menjadi je­las kalau diperhatikan berkobarnya debat dan diskusi antara golongan Mu`tazilah dan para penentang mereka, terutama ahli hadis. Juga, tindakan-tindakan yang berle­bihan oleh unsur-unsur ahli hadis terhadap kelompok Mu`tazilah semasa pemerintah­an Harun Rasyid telah mengundang re­aksi, semacam penebusan. Kecenderungan ini menjadi lebih memungkinkan berkat dukungan yang diberikan para pembantu khalifah, baik karena alasan politik mau­pun ideologis.

Dalam kegigihan mempertahankan pen­dapatnya tentang al-Quran, Ibnu Hambal menjadi simbol keteguhan dan militanis­me ahli hadis. Pertama-tama Ma’mun me­merintahkan gubernurnya di Bagdad, Ishaq bin Ibrahim untuk menghadirkan para kadi di hadapannya guna ditanya pendapat mereka mengenai al-Quran. Me­reka yang setuju dengan pendapat khali­fah tentang sifat kemakhlukan al-Quran supaya menghadirkan saksi bagi pernyata­an tersebut. Pernyataan semacam itu juga dikirimkan ke propinsi-propinsi lain. Se­lanjutnya Ma’mun memerintahkan Ishaq bin Ibrahim untuk menghadapkan tujuh ulama terkenal di Bagdad ke hadapan kha­lifah guna diuji pendapat mereka tentang isu al-Quran. Dalam rombongan yang ber­jumlah 7 ulama ini, nama Ibnu Hambal te­lah dihapuskan oleh Ahmad bin Abi Du’ad, yang menjabat sebagai kadi kepala. Kesemuanya tak menentang pendapat khalifah. Namun dalam uji-pertemuan se­lanjutnya. Ibnu Hambal juga dihadirkan bersama-sama ulama yang lain. Dia terma­suk yang paling gigih menolak konsep ten-tang kemakhlukan al-Quran. Dalam surat selanjutnya Ma’mun memerintahkan Ibnu Ibrahim untuk mengirimkan orang-orang yang menentang pendapat khalifah ke Tharsus. Dalam keputusannya gubernur Riau Ibrahim hanya mengirimkan dueula­ma yang tetap gigih menentang pendapat khalifah, yaitu Ibnu Hambal dan Muham­mad bin Nuh. Dua ulama tersebut dikirim­kai sebagai tahanan ke Tharsus; namun be­fita kematian Ma’mun telah sampai kepa­da mereka sebelum tiba di Tharsus. Mere­ka akhirnya dikirim kembali ke Bagdad; Ibnu Muhammad meninggal sebelum sam­pal ke Bagdad.

Advertisement

Ibnu Hambal dipenjarakan di Bagdad, karena dia menolak untuk berbuat pura­pura (taqiyyah) sebagaimana yang diper­buat ulama-ulama lain guna menghindari silssaan. Sebuah majelis perdebatan diada­kan oleh Mu`tasim (w. 842/287 H), peng­ganti Ma’mun, selama tiga hari guna meng­uji dalih-dalih Ibnu Hambal. Bagaimana­pun tekanan dan argumen yang diajukan musuh-musuhnya Ibnu Hambal tetap tak berubah. Akibatnya ia pun menerima sik­saan tetapi kemudian dibebaskan mungkin khawatir akan menimbulkan huru-hara dan protes dari para pengikutnya. Setelah kejadian tersebut tak terdengar lagi bahwa Mu`tasirn mengorganisir mihnah, makium dia bukan khalifah yang tertarik, apalagi mendapatkan training mengenai masalah­masalah teologi atau kalam.

Pada masa pemerintahan Wasiq (842­847/227- 232 H), khalifah ini menghidup­kan kembali uji-tindakan (mihnah) terha­dap para ulama, kendati dia jugalah yang pernah mendorong ayahnya menghenti­kan mihnah. Walaupun ia memerintahkan para gubernurnya untuk menguji para to­koh dan ulama tentang pendapat mereka mengenai al-Quran kelihatannya Ibnu Ham bal tidak diusik-usik lagi, mungkin karena ia tak lagi aktif mengajar. Namun Wasiq memerintahkan untuk membunuh Ahmad bin Nasr al-Khuza`i pada 846 (231 H), seorang ulama yang mendukung pendapat Ibnu Hambal. Apakah memang pembunuhan tersebut sebab alasan keaga­maan atau yang lain adalah tak begitu je­las. Di antara orang-orang yang gigih mem­pertahankan ketidakmakhlukan al-Quran adalah Na`im bin Hammad, Yusuf bin Yahya bin Yahya al-Buwaiti. Mereka mati di penjara. Kadi kepala Ibnu Du’ad keli­hatannya memainkan peranan penting da­ lam mihnah, umparnanya dia menolak un­tuk menebus para tahanan muslim yang ada di tangan Bizantin seandainya mereka tidak setuju dengan pendapat khalifah tentang al-Quran. Menurut sebuah sumber, Wasiq pada saat akhir hidupnya mening­galkan paham Mu`tazilah. Sewaktu Muta­wakkil naik tahta (847-861/232-247 H) mihnah masih terus berlangsung; tetapi ia mengakhirinya pada 849 (234 H) dengan mengancam hukuman mati bagi yang me­nyatakan bahwa al-Quran adalah makhluk.

 

Advertisement