Advertisement

Mesjid an-Nabawi adalah sebuah mes­jid yang semula dibangun Nabi Muham­mad di Madinah. Menurut sumber-sumber Islam yang ada, lokasi mesjid ini semula dimiliki oleh dua anak yatim. Nabi mem­belinya dan mereka, setelah unta yang ia kendarai berhenti di tempat tersebut. Se­benarnya tempat itu terisolir sebagai tern-pat penguburan lama, penuh bekas-bekas bangunan dan ditumbuhi pohon kurma sehingga menjadi tempat pemeliharaan unta. Akhirnya tempat tersebut dibersih­kan dan pohon-pohon kurma ditebang gu­na memungkinkan pembangunan sebuah tempat beribadat bagi Nabi Muhammad dan para pengikutnya.

Pada mulanya bangunan Mesjid Nabawi sangat sederhana. Sebuah ruangan terbu­ka yang dikelilingi tembok dan bata men­tah (libn) di atas fondasi batu dengan tiga buah pintu masuk. Di bagian utara yang pernah dipakai Nabi sebagai tempat me­mimpin sembahyang menghadap Bait al­Maqdis (al-Aqsa), dibangun sebuah mihrab sederhana bertiangkan pohon kurma dan beratapkan daun kurma. Ketika kiblat sembahyangl dipindahkan ke arah Mes­jid al-Haram pada pertengahan 624 (2 H) bangunan mihrab di bagian utara tidak di­usik bahkan menjadi tempat berkumpul­nya para sahabat dan dikenal sebagai “tempat berteduh” (zillah atau suffah). Kemudian di bagian selatan tentunya di­dirikan mihrab Baru. yang dapat digunakan Nabi memimpin sembahyang menghadap Mesjid al-Haram. Di sebelah timur diba­ngun beberapa rumah kecil bagi para istri Nabi. seperti Aisyah dan Saudah, yang memiliki pintu masuk langsung ke ruang tengah mesjid. Memang Mesjid Na­bawi berfungsi multi sebagai bagian rumah Nabi, tempat berkumpul para sahabat di antara mereka sendiri atau dengan Nabi, dan tentunya sebagai tempat sembahyang. Mesjid Nabawi mendapatkan perbaikan pertama kali setelah pasukan Madinah memperoleh rampasan besar-besaran pada Perang Khaibar pada 628 (7 H).

Advertisement

Kendati suci, Mesjid Nabawi tidak wa­jib dikunjungi seperti Mesjid al-Haram. Bagaimanapun makam Nabi Muhammad di lingkungan mesjid, tepatnya di dalam bekas rumah Aisyah, telah menjadi pusat perhatian bagi para penziarah dan jemaah haji untuk datang ke Madinah. Di samping itu orang-orang Islam yang sempat ber­ziarah ke Madinah berusaha untuk menu­naikan sembahyang berjemaah di Mesjid Nabawi sebanyak 40 kali secara berurutan tanpa celah-celah di antaranya.

Mesjid Nabawi mengalami berbagai per­baikan dan perluasan setelah Nabi wafat. Sewaktu Umar menjabat khalifah, ia telah memberikan perhatian khusus untuk me­luaskan Mesjid Nabawi, kendati masih te­tap menggunakan bahan-bahan yang se­derhana. Namun usaha-usaha membangun kern bali Mesjid Nabawi demikian tidak se­layaknya diinterpretasikan bahwa sewaktu Nabi hidup bangunan anal Mesjid Nabawi belum ada. Bagaimanapun sederhananya corak dan struktur, Mesjid Nabawi yang asli telah dibangun pada masa Nabi. Hal ini menjadi jelas kalau diperhatikan, perta­ma pentingnya fungsi mesjid semenjak Na­bi hijrah ke Madinah, kedua telah disebut­kan dalam Quran (9:107–108; 24:36) dengan jelas tentang adanya mesjid di Madi­nah, dan ketiga bangunan mesjid sangat sederhana sehingga tidak menuntut struk­tur yang komplit apalagi mentereng. Ke­beradaan Mesjid Nabawi asal akan lebih diperjelas lagi dengan timbulnya protes di kalangan sementara sahabat sewaktu Us-man mengadakan renovasi dan perluasan terhadap Mesjid Nabawi dengan menggu­nakan material yang lebih mewah. Tindak­annya dianggap sebagai “inovasi” (bid`ah) terhadap contoh yang diberikan Nabi. Me­mang protes kelompok ini tidak berhasil menghalangi proses renovasi di Mesjid Nabawi; bahkan sewaktu Bani Umayyah berkuasa berbagai gubernur yang bertugas di Madinah, seperti Marwan bin al-Hakam (w. 685/65 H) dan Umar bin Abdul Aziz (w. 719/101 H) telah diberi wewenang un­tuk mengadakan renovasi besar-besaran dan memperindah Mesjid Nabawi. Umar bin Abdul Aziz, umpamanya, telah men­datangkan “bahan-bahan mewah” seperti marmar, emas dan genting dan Yunani dan Mesir. Pada masa inilah empat buah menara didirikan di pojok-pojok bangun­an mesjid. Kemudian di masa kekhalifah­an Bani Abbas beberapa khalifah juga me­naruh perhatian terhadap Mesjid Nabawi. Umpamanya pada 779 (162 H) al-Mandi, sepulangnya dan sebuah kunjungan ke Madinah, memerintahkan perbaikan dan perluasan atas Mesjid Nabawi sehingga lugs bangunan mencapai 60,000 meter persegi.

Sampai dengan abad ke-12, Mesjid Na­bawi telah mengundang perhatian para penulis. Struktur asli mesjid yang terdiri dari ruangan terbuka (sahn) yang dikeli­lingi bangunan bertiang di empat penjuru tetap dipertahankan. Di bagian selatan ter­dapat makam (umapamanya bagi Nabi, Abu Bakar, dan Umar), mihrab, mimbar, pangkal pohon (tempat bersandar Nabi sewaktu menemui para pengikutnya), dan bagian yang disebut ar-Raudah. Selain itu disebutkan adanya mushaf Usmani, 19 pintu masuk — tetapi hanya empat saja yang biasa dibuka di bagian barat dan ti­mur — 290 tiang, dua menara di pojok ba­gian utara dan sebuah di selatan.

Para penguasa muslim terus memberikan perhatian terhadap bangunan Mesjid Nabawi. Sewaktu mengalami bermacam­macam musibah akibat angin ribut, petir atau kebakaran berbagai sultan dan pe­nguasa khususnya dinasti Mamalik, telah berupaya memperbaiki. Bentuk dan struk­tur bangunan yang masih dapat kita saksi­kan dewasa ini pada dasarnya adalah hasil perluasan dan renovasi besar-besaran yang dilaksanakan sultan Usmani, Abdul-Majid, pada 1854 (1270 H). Kemudian semenjak pertiga terakhir abad ke-20 ini, kerajaan Arab Saudi yang memiliki kemampuan fi­nansial melimpah telah mengadakan ber­bagai perbaikap, perluasan dan peningkat­an terhadap bangunan Mesjid Nabawi.

 

 

Advertisement