Advertisement

Maulawiyah (Maulawiyyat) adalah na­ma sebuah tarekat yang dibangun oleh Muhammad Jalaluddin ar-Rumi (selanjut­nya disebut Rumi), seorang sufi terkenal dari negeri Persia yang lahir pada 30 Sep­tember 1207 (6 Rabiulawal .604 H) di Balkh, wilayah kerajaan Kawarizm, Persia Utara. Penamaan tarekat ini dengan Mau: lawiyyat dihubungkan pada gelar Maurcind (Penguasa Kami) yang diberikan pengikut­nya kepada Rumi.

Tarekat ini didirikan Rumi, pada mula­nya untuk mengenang guru dan sahabat­nya yang telah hilang, Syamsud-Din at­Tabrizi, seorang darwis (sufi) misterius yang telah berhasil mengubah Rumi, dari seorang ulama terkenal yang aktif dalam dunia pendidikan dan dakwah menjadi seorang sufi yang “mengasingkan diri” da­ri kehidupan duniawi karena sibuk taciar­rub kepada Allah.

Advertisement

Pertemuan antara Rumi dengan Syams at-Tabrizi bermula pada 1244 (642 H), ke­tika darwis ini berkunjung ke Qoniya`; ke­mudian keduanya bergaul sebagai dua orang sahabat sekaligus sebagai guru dan murid. Besarnya pesona din darwis ini di mata Rumi membuat hubungan batin an-tar keduanya begitu kuat, sehingga ketika secara diam-diam darwis ini meninggalkan Rumi, jiwa Rumi menjadi bergoncang.

Pada masa-masa mengenang dan berpi­sah dengan sahabat dan gurunya ini, dice­ritakan Sultan Walad, salah seorang putra Rumi, secara mendadak Rumi menjadi se­orang penyair yang sangat halus dan krea­ tif. Dilukiskan dalam sebuah syair;

Tak pernah sedikitpun ia berhenti mendengar musik (sama’) dan menari; Tak pernah ia melepaskan lelah

biar siang atau malam

Sudah menjadi mufti; ia menjadi penyair
Sudah menjadi pertapa, ia dim abuk cinta
Bukan anggur biasa; jiwa yang telah terang

mereguk anggur cahaya semata.

 

Suasana kejiwaan di atas menandai ma­sa-masa kelahiran tarekat ini. Kemudian musik (same), tari dan puisi tersebut di­kembangkan lebih lanjut bersama-sama. dengan Syekh Salahud-Din Zarkub, dan menjadi komponen utama dan ciri khas dalam upacara spiritual tarekat tersebut.

Abdul Hadi W.M; dalam Malam Rumi, melukiskan bagaimana upacara mistis ta­rekat ini diselenggarakan:

“Tari gasing Rumi dimulai dengan se­ruan azan, lalu nyanyian kerohanian cip­taan Rumi. Kemudian seorang pemimpin atau pir mengambil posisi duduk sebagai orbit. Setelah itu para penari satu persatu muncul -mengitari orbit, menari berputar­putar seperti orang naik haji tawaf menge­lilingi Ka’bah. Dengan iringan suling dan kendang, kemudian terdengar zikir, de­ngan menyelout nama Tuhan berulang­ulang. Pada puncak ekstase hanya terde­ngar suara Huwa. Huwa (Dia-Dia), akhirnya “hu. • . hu. . .”. Pada saat itulah puisi mulai mengalir di lubuk hati Rumi. Dia menuturkannya, muridnya mencatat dan mengingatnya, yang untuk selanjut­nya jadi nyanyian mereka.”

Di dunia Barat, tarekat ini terkenal se­bagai whirling dervishes (darwis yang ber­putar-pu tar), dihubungkan dengan tarian gasing yang sangat masyhur yang dilaku­kan oleh para darwis, sebagai penopang luar bagi zikir mereka. Mereka memakai tutup kepala (laken) yang terbuat dari beledu, dan pakaian khas semacam jubah berkabung orang India.

Di Qoniya, musik (same) telah menjadi upacara tahunan yang diselenggarakan pa­da tiap-tiap bulan September, dan meru­pakan atraksi yang menarik cukup banyak wisatawan.

Rumi meninggal di Qoniya pada 16 Desember 1273 (3 Jumadilakhir 627 H) da­lam usia 68 tahun. Sepeninggalnya, pticuk pimpinan tarekat ini dipegang oleh Hisa­mud-Din, sahabat karibnya yang menjadi inspirator masnawinya. Setelah yang ter­akhir juga meninggal, is digantikan oleh putra Rumi sendiri, Sultan Walad, yang di­paridang banyak berjasa dalam mengem­bangkan tarekat dan ajaran-ajaran ayah­nya, sampai saat meninggalnya pada 1312.

Sepeninggal Sultan Walad, tarekat ini telah menyebar ke seluruh Anatolia (Rum) dan memiliki beberapa cabang. Sekarang tarekat ini berkembang juga di negeri-ne­geri tetangga seperti Iran, Mesh, sebagian India, dan Suriah. Bahkan di negeri asal­nya Turki, tarekat ini memainkan peran kultural yang penting, dan banyak mem­bantu mengislamkan kelompok-kelompok Kristen tertentu.

 

 

Advertisement