Advertisement

Maula adalah sebuah istilah yang mem­punyai pengertian ganda dan kontradiktif, yaitu tuan dan budak atau anak buah. Da-lam sejarah Islam secara umum kata maula (jamaknya mawali) lebih sering dikaitkan dengan hamba sahaya atau individu non Arab. Sedang dalam sastra istilah maula biasa digunakan untuk panggilan terhadap atasan atau seseorang yang dihormat.

Dalam proses integrasi umat orang­orang non Arab sering menggunakan insti­tusi dan mekanisme maula guna menda­patkan status sosial yang lebih baik. Se­orang non Arab (ajam) baik secara suka rela maupun terpaksa dapat menjadi ang­gota sebuah suku Arab sebagai maula.

Advertisement

Proses adaptasi semacam ini ternyata melicinkan jalan bagi pemunculan orang­orang non Arab dalam berbagai lapangan dan kegiatan di pusat-pusat penierintahan dan kota-kota besar. Mobilitas sosial yang dinikmati para maula dapat dilihat dari peranan tokoh-tokoh pemikir, penulis, sastrawan, penyair dan birokrat acing se­menjak awal periode Islam. Kalau pada mulanya istilah maula selalu dikaitkan de­ngan proses adaptasi seorang non Arab ke dalam keanggotaan masyarakat Arab (atau kemudian Islam) akhirnya istilah tersebut lebih populer dipakai secara umum guna mengidentifisir seorang non Arab (ajam) yang menjadi anggota umat. Tentunya hal ini bukan terjadi secara terpisah melain­kan merupakan realisasi dan ide central al-Quran tentang equalitas dan persaudara­an serta dampak dari semakin terbukanya sistem sosial politik serta semakin bertam­bahnya jumlah mawali semenjak Bani Ab­bas berkuasa.

 

Advertisement