Advertisement

Martabat Tujuh adalah suatu ajaran (dalam tasawuf), yang menyatakan bahwa wujud (yang ada) memiliki tujuh marta­bat, yaitu: Martabat Ahadiyah (Ahadiy­yat), Martabat Wandah (Walulat), Marta-bat Wahidiyah_ (WcT/iidiyyat), Martabat Alam Arwah (Alain al-Arwah), Martabat Alam Misal (Alain Martabat Alam Ajsam (`lam al-Ajsam), dan Marta-bat Alam Manusia (`Alam al-InsJn).

Menurut para ahli, rumusan tentang Martabat Tujuh itu dinyatakan pertama kali oleh Muhammad bin Fadlullah al Bur­hanpuri (seorang Syekh dari Gujarat, In­dia; w. 1620/1029 H), dalam karyatulis­nya, at-Tuhfat al-Mursalat ila Ri7I! an Na­biyy (Hadiah yang dikirimkan kepada Ruh Nabi). Ajaran tentang Martabat Tu­juh ini tersebar luas di Aceh pada paruhan pertama abad ke-17. Ini dapat disimpul­kan dari kenyataan bahwa ajaran tersebut dapat dijumpai dalam tulisan-tulisan yang dihubungkan orang kepada Syekh Syam­suddin Sumatrani (1630/140 H; menjadi Kadi di istana Sultan Iskandar Muda).

Advertisement

Ajaran Martabat Tujuh itu diterima juga oleh Tarekat Syattariyah, yang pada abad ke-17 (11 H) memiliki syekh-syekh yang terpengaruh di Madinah (seperti Syekh Ahmad Qusylsyi dan Syekh Ibrahim Qu­rani). Syekh Abdur Rauf Singkil (w. 1693/ 1105 H), yang mendapat ijazah dari Syekh Ibrahim Qurani (di Madinah) dan menjadi mufti dan pengajar agama di Aceh dalam paruhan kedua abad ke-7, ikut menjadi penyebar ajaran Martabat Tujuh. Murid-muridnya yang banyak, yang berasal dari berbagai daerah di Nu­santara ini, ikut berperanan dalam penye­baran ajaran itu, sehingga dikenal bukan saja di Aceh, tapi juga di daerah-daerah lain di Sumatra, Jawa, dan lain-lain, ter­utama di kalangan kaum tarekat.

Martabat Ahadiyah, sebagai martabat­wujud yang pertama, disebut juga oleh Burhanpuri dengan sebutan Martabat Mutlaq Za t semata, atau La Teayyun (Tidak menampakkan diri). Wujud pada martabat pertama ini sunyi (suci) dari sifat-sifat dan segala bentuk kaitan. Ia adalah kunhi (zat/esensi) al-Haqq (Tu­han) Subhanah wa Ta`ella. Martabat kedua, Wandah, disebut juga dengan se­butan yang lain, yaitu: Hakikat Muham­madiyah (Hakikat Terpuji), atau Ta ‘ay­yun (penampakan Pertama). Ia merupa­kan pengetahuan al-Hagq (Tuhan) secara ifinal (global/umum), tentang zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan segenap mauffidat (yang ada) lainnya. Martabat ketiga Wa­hidiyah, disebutnya juga dengan sebutan Hakikat Manusia atau Ta’ayyun Kedua. Ia merupakan pengetahuan Tuhan secara tafsil (terperinci), tentang zat yang sifat­sifat-Nya serta segenap mauffidat (yang ada) lainnya. Tiga martabat pertama itu dikatakan qadim (tidak bermula) dan me­rupakan martabat-martabat ketuhanan.

Martabat keempat, Alam Arwah, adalah alam yang simpel (sederhana, tidak tersu­sun dari unsur-unsur), dan tidak bersifat materi. Martabat kelima, Alam Misal, ada­lah alam yang sudah tersusun dari unsur­unsur yang halus, tapi tidak akan meng­alami percerai-beraian, usang, atau rusak. Martabat keenam, Alam Ajsam (alam jas­mani) merupakan alam yang tersusun dari unsur-unsur yang kasar, dan dapat meng­alami percerai-beraian. Martabat ketujuh, Alam Manusia, merupakan martabat yang dikatakan menghimpun semua martabat sebelumnya (satu sampai dengan enam). Martabat keempat sampai dengan ketujuh disebut juga martabat-martabat alam atau ciptaan.

Menurut Burhanpuri, martabat ketu­hanan tidak dapat dinamakan kepada mar­tabat alam ciptaan; demikian juga sebalik­nya, martabat ciptaan tidak dapat dinama­kan kepada martabat ketuhanan. Kelihat­annya tiga martabat pertama tidaklah me­ngacu kepada tiga wujud yang berbeda kualitasnya, tapi mengacu hanya kepada satu wujud, yaitu Allah. Wujud Allah yang satu itu dapat memandang diri-Nya, atau dapat dipandang oleh manusia, dengan tiga macam pandangan (i`tibc7r), yakni: pertama, sebagai Wujud yang dapat me­mandang diri-Nya sebagai Wujud Mutlak atau Zat semata; kedua, sebagai Wujud yang dapat mengetahui secara garis besar zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan segenap mau­judat lainnya; ketiga, sebagai Wujud yang dapat mengetahui dengan terperinci zat­Nya, sifat-sifat-Nya, clan segenap mauju­dat lainnya.

Berbeda dengan tiga martabat pertama, empat martabat berikutnya bukanlah mengacu kepada satu diri (wujud), yang dapat dipandang dengan em pat pandang­an, tapi mengacu kepada segenap ciptaan Tuhan, yang dapat dibagi ke dalam empat kelas, yakni: kelas imateri (Alam Arwah), kelas materi halus yang tidak mengalami kehancuran (Alam Misal), kelas materi ka­sar yang bisa mengalami kehancuran (Alam Jasmani), dan kelas manusia.

Wujud al-Haqq (Tuhan) bukan saja ak­tual seperti tergambar dalam tiga macam pandangan di atas, tapi juga “menampak­kan diri-Nya” secara tidak langsung da­lam Alam Arwah, Alam Misal, Alam Jas­mani, dan Alam Manusia. Dari empat tern-pat penampakan diri-Nya secara tidak langsung itu, maka Alam Manusialah yang dipandang sebagai tempat penampakan diri-Nya paling sempurna. Dari Alam Ma­nusia ini, hanya para rasul atau nabi, para wali atau sufi saja yang dipandang sebagai tempat paling sempurna bagi penampakan diri (sifat-sifat dan nama-nama) Tuhan se­cara tidak langsung, atau dengan kata lain mereka adalah insan-insan kamil, yang pa­ling sempurna mencerminkan segenap si­fat dan nama Tuhan.

 

Advertisement