Advertisement

Malamatiyah (malamatiyyat) adalah se­golongan orang-orang tasawuf yang mun­cul di Nisyapur dan sekitarnya, sejak paruh kedua abad ke-9 (3 H) sampai awal abad ke-11 (5 H). Mereka disebut demi­kian, karena mereka berupaya terus-mene­rus melakukan malamat (celaan, kritik, atau koreksi) terhadap keadaan batin atau jiwa mereka sendiri. Upaya demikian me­reka pandang sebagai metode terbaik un­tuk menghindari kelengahan diri dan sekali gus memacu jiwa untuk senantiasa berjuang meningkatkan kualitas batin dalam rangka mendekatkan diri pada Allah.

Belum dijumpai oleh para ahli, karya­karya tulis yang berasal dan kaum Mala­matiyah tersebut. Sumber informasi ter­tua yang cukup berharga tentang mereka adalah al-Malamatiyyat wa Usal him (Malamatiyah dan Prinsip-Prinsip Ajaran Mereka), sebuah risalah yang ditu­lis oleh Abu Abdur-Rahman as-Sulami (w. 1021/412 H), dan sudah diterbitkan di Mesir oleh Dr. Abu al-Ala Afifi. Ada juga sumber-sumber lain, yang memberi­kan informasi yang amat terbatas tentang mereka.

Advertisement

Tercatat sebagai pemuka-pemuka mere­ka, sebagai berikut: Abu Hafas an-Naisa­buri (w. 882/270 H), Hamdan al-Qassar (w. 883/271 H), Abu Usman al-Hairi (w. 901/289 H), Mahfuz an-Naisaburi (w. 915/ 303 H), Abu al-Husain al-Warraq (w. 932/ 320 H), Abu Ya`qub ari-Nahrajuri (w. 942/ 330 H), Abu Umar az-Zujaji (w. 959/348 H), Abu al-Husain al-Busyaiji (w. 959/348 H), Abu al-Husain Bandar (w. 961/350 H), Muhammad Ahmad al-Farra (w. 980/350 H) dan lain-lain.

Dasar pegangan bagi mereka untuk te­rus menerus mencela, mengeritik, atau mengoreksi jiwa mereka sendiri, antara lain adalah ayat al-Quran 5:2 (“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menye­sali diri”) dan ayat 5:54 (“… mereka ber­jihad pada jalan Allah dan tidak takut de­ngan celaan orang.”). Dengan berpegang pada ayat-ayat itu, mereka di samping te­rus menerus mencela batin sendiri, juga tidak takut (bahkan lebih senang) meneri­ma penghinaan atau celaan dari orang lain. Mereka tidak mau menilai batin mereka sebagai batin yang biik atau tidak sempur­na, dan juga tidak menginginkan pujian dari orang lain, karena dengan sikap demikian itu, dapat dihindari kelengahan claim per­juangan menyucikan batin. Sebagai con­toh disebutkan bahwa Abu Usman al-Hairi (salah seorang pemuka mereka) pernah di­uji oleh seseorang. Ia beberapa kali diun­dang untuk suatu jamuan; setiap undang­an itu dipenuhi dengan mendatangi jamu­an, tapi setiap kali ia datang, ia diusir dan pergi. Akhirnya pihak yang menguji sung­guh-sungguh minta maaf dan memuji ke­rendahan hati dan kesabaran Abu Usman. Mendengar pujian itu, ia berkata: “Anda tidak usah memujiku, karena aku tidak lebih mulia dan seekor anjing, yang da­tang bila dipanggil dan pergi bila diusir.”

Di samping prinsip terus menerus me­ngeritik atau mencela batin sendiri dan senang menerima celaan dari orang lain, mereka juga memegang prinsip menyem­bunyikan kesalehan, kezuhudan, kewara­an, ketekunan beribadat, dan hal-ihwal kebaikan lainnya, yang telah mereka mili­ki, sehingga tidak terlihat oleh orang ba­nyak. Di hadapan orang banyak mereka berupaya seperti orang kebanyakan saja. Dengan kata lain mereka di hadapan orang, berpura-pura seperti orang yang tidak sa­leh, tidak tekun beribadat, dan lain seba­gainya, bahkan ada di antara mereka yang mau melakukan sesuatu (tapi masih dalam batas tidak haram menurut syariat), yang dapat mengundang orang untuk mencela mereka. Sikap demikian mereka lakukan, demi menjaga keikhlasan hati mereka ber­ibadat kepada Tuhan, dan demi mengikis sifat riya, yang mereka nilai termasuk syi­rik.

Prinsip-prinsip ajaran mereka beijumlah 45 butir, yang erat sekali kaitannya de­ngan dua prinsip yang telah disebutkan di atas, bahkan sebagian dapat dipandang sebagai penjabaran keduanya. Prinsip-prin­sip itu antara lain: tidak mau memperhati­kan aib atau cacat orang lain; menerima penghinaan atau sikap kasar orang lain de­ngan lapang hati, tanpa membalasnya de­ngan sikap yang sama, tapi dengan ber­buat baik dan memaafkannya; berupaya menunaikan hak-hak untuk orang lain, tapi tidak mau meminta hak; memandang amal-amal mereka sebagai amal-amal yang tidak pantas mendapat penghargaan dari Tuhan, dan apa yang datang dari Tuhan, mereka pandang sebagai karunia-Nya, bu­kan sebagai balasan terhadap amal mere­ka; tidak meminta bantuan kepada makh­luk, sebab boleh jadi yang dimintakan bantuannya itu lebih butuh kepada ban­tuan.

Abu Hafas an-Naisaburi, sebagai pemu­ka pertama kaum Malamatiyah, pernah menjelaskan sikap mereka sebagai berikut: “Ahl al-Malam (golongan yang mencela jiwa mereka sendiri) adalah kaum yang te­gak bersama Allah, menjaga waktu dan hati mereka (untuk beribadat); mereka mencela diri mereka gas semua ketaatan yang telah mereka lakukan, dan memper­lihatkan kepada orang banyak, keburukan mereka, sedangkan kebaikan mereka, me­reka sembunyikan. Dengan demikian orang banyak mencela keadaan lahiriah mereka, sedangkan mereka sendiri men­cela atau mengoreksi terus keadaan bati­niah mereka. Melalui metode itulah Allah memuliakan mereka, berupa menyingkap­kan berbagai rahasia alam gaib dan mem­benarkan firasat mereka, serta melahirkan berbagai keramat bagi mereka.” Ibnu Ara­bi memuji kaum Malamatiyah itu dengan mengatakan: “Sekiranya tampak oleh orang banyak keadaan batin kaum Mala­matiyah, niscaya orang banyak itu memu­ja-muja mereka”.

Incoming search terms:

  • arti malamatiyah
  • malmatiyah

Advertisement
Filed under : Review, tags:

Incoming search terms:

  • arti malamatiyah
  • malmatiyah