Advertisement

Malaikat, ada yang berpendapat dipin­jam dari bahasa Ibrani. Bahasa Arabnya malak, bentuk jamaknya malaikah. Kata malak berasal dari akar kata alk atau alu­ka yang artinya risalah atau mengemban amanat. Ada pula yang mengatakan, kata malaikat merupakan bahasa Arab asli. Bentuk mufradnya ma’lak. Setelah ham­zahnya dibuang berbunyi malak, lalu di­ubah menjadi mal’ak, dan oleh sebab itu bentuk jamaknya malaikah. Perubahan semacam itu sudah biasa dalam bahasa Arab. Dalam pada itu ada pula yang meng­anggap bahwa kata malak itulah bentuk aslinya, berasal dari akar kata malk atau milk yang berarti kekuatan.

Menurut hadis riwayat Muslim, dari Aisyah, bahwa jin diciptakan dari nar (api), sedangkan malaikat diciptakan dari ‘Or (cahaya). Ini menunjukkan bahwa jin dan malaikat adalah dua makhluk yang berlainan, dan dapat pula ditegaskan, bah­wa malaikat adalah makhluk immateri (niskala, tidak berwujud benda).Al-Quran menerangkan, bahwa malaikat itu bertu­gas sebagai “utusan” (rusul) yang memili­ki sayap —(ajnihah, jamak dari janah)— (35:1). Sayap yang dikaitkan dengan eksistensi malaikat adalah lambang kekuat­an yang memungkinkan makhluk niskala ini mampu menunaikan amanat yang di­embannya dengan cepat. Begitulah, maka al-Quran menegaskan: “Mereka (malaikat) tidak pernah durhaka kepada Allah dalam hal apapun yang Ia perintahkan dan mere­ka mengerjakan apa raja yang diperintah­kan” (66:6).

Advertisement

Apakah malaikat dapat dilihat dengan mata kepala? Ada dua pandangan ulama yang berbeda. Kelompok ulama, yang ber­pandangan bahwa malaikat dapat dilihat, berargumentasi: malaikat Jibril pernah berdialog dalam hal iman, Islam dan ihsan dengan Nabi Muhammad; lagi pula, ketika Jibril mengantarkan wahyu pertama ke­pada .Nabi, is menjelma dalam rupa se­orang manusia, yang menurut Waraqah bin Naufal, pernah datang kepada Musa sebagai an-Na mils. Kelompok ulama yang berpandangan sebaliknya berargumentasi, bahwa orang dapat melihat malaikat Jibril hanya dalam keadaan kasyaf (melihat de­ngan hati nurani). Oleh karena itu, se­orang Nabi misalnya, dapat melihatnya hanya dengan indra rohani, bukan dengan mata kepala. Lebih lanjut, kelompok ula­ma terakhir berpendapat bahwa keadaan malaikat dapat mengubah bentuknya se­sukanya sendiri tidak dibenarkan oleh al-Quran. Berulang kali al-Quran menegas­kan —sebagai jawaban atas tuntutan para musuh Nabi, untuk dapat melihat malai­kat dan diberi utusan seorang malaikat­bahwa malaikat tak dapat dilihat. Malai­ kat akan diutus sebagai Nabi, sekiranya bumi hanya didiami oleh malaikat, bukan oleh manusia. Kenyataan bahwa malaikat tidak dapat dilihat dengan mata kepala amat sesuai, karena malaikat sendiri ada­lah makhluk niskala (immateri, tidak ber­wujud benda).

Dalam al-Quran, pada umumnya malai­kat digambarkan sebagai zat yang mempu­nyai hubungan dengan keadaan rohani manusia. Malaikat pengemban wahyu kepada para nabi disebut Jibril (2:97, 4: 163, 26:193, 194). Umumnya malaikat digambarkan sebagai malaikat yang turun kepada kaum beriman dan menghibur me­reka (41:30). Mereka juga diutus supaya membantu kaum mukmin pada waktu bertempur melawan musuh (3:123, 124; 8:12). Mereka juga membacakan salawat kepada Nabi Muhammad (33:56), juga kepada kaum mukmin (33:43). Mereka juga memohonkan ampun bagi seluruh manusia (4:97; 16:28). Mereka pun men­catat perbuatan manusia (82:10-12). Ma­laikat juga memberi syafaat kepada manu­sia di hari kiamat (53:26), dan lain seba­gainya.

Manusia dikaruniai Tuhan kemauan dan ilmu, sedangkan malaikat tidak, dan oleh karenanya manusia lebih unggul dari ma­laikat. Keunggulan manusia terbukti bah­wa malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada manusia (2:34).

 

Advertisement