Advertisement

Maktabah adalah sebuah ungkapan Arab yang identik dengan perpustakaan. Ber­kembangnya maktabah dalam dunia Islam telah dimulai paling tidak semenjak masa kekhalifahan Bani Umayyah. Adalah Kha­lid bin Yazid cucu Mu`awiyah orang per­tama yang diduga membangun perpusta­kaan pribadi secara agak intensif. Hal ini disebabkan terutama karena kegamaran­nya mengumpulkan naskah-naskah lama untuk diterjemahkan, khususnya yang berkenaan dengan ilmu kedokteran. Keli­hatannya kencenderungan mengumpulkan naskah, karya terjemahan dan tulisan lain­nya yang telah dirintis Khalid ini tidak di­tanggapi secara positif baik oleh para indi­vidu terkemuka maupun penguasa Umay­yah. Memang sampai dewasa ini belum ditemui adanya perpustakaan yang khusus dibangun penguasa Umayyah.

Pergeseran kekuasaan ke tangan Bani Abbas pada 749 (132 H) telah membuka lembaran baru dalam dunia ilmu pengeta­huan, termasuk perpustakaan. Semakin tingginya kadar partisipasi individu dan kelompok non Arab dalam kehidupan umat dan tats pemerintahan Abbasiyah telah semakin memperkaya budaya dan ilmu. Semenjak berkuasanya khalifah al-

Advertisement

Mansur (754-775/136-158 H) ia telah menaruh perhatian pada pentingnya ilmu kedokteran. Ia sendiri akhirnya mengang­kat Jirjis bin Bukhtaisyu, seorang ahli ke­dokteran dan Jundisyapur sebagai dokter pribadinya. Berkat hubungan inilah rupa­nya Mansur mensponsori pengumpulan naskah-naskah kedokteran baik Yunani, Suryani, maupun Persia guna diterjemah­kan ke dalam bahasa Arab. Berkembang­nya Bagdad sebagai ibukota tentu ikut ber­peran mendorong Mansur dalam mengum­pulkan berbagai tulisan. Bahkan ia sendiri telah mendorong umpamanya dua intelek­tual terkemuka Malik bin Anas dan Ibnu Ishaq untuk menggubah tulisan yang ber­kenaan dengan keahlian masing-masing sebagai fikih-muhaddis dan sejarawan.

Pengumpulan naskah dan karya tulis yang dipelopori Mansur ini ternyata terus dilanjutkan oleh para penggantinya, khu­susnya al-Mandi (w. 785/169 H), Harun ar­Rasyid (w. 809/193 H), dan al-Ma’mun (w. 833/218 H). Didirikannya Bait al-Hik­mah di masa Ma’mun dapat dianggap sebagai puncak kegiatan Bani Abbas da­lam menopang riset dan ilmu pengetahuan karena di lembaga inilah disediakan berba­gai fasilitas seperti tempat diskusi, perpus­takaan dan penerjemahan. Memang popu­laritas Bait al-Hikmah bukan hanya dika­renakan oleh kemunculannya yang awal di dunia Islam melainkan juga oleh koleksi­nya yang beragam. Namun bagaimana pun tinggi dan mulianya sebuah ide dan bagai­manapun lengkap dan megahnya sebuah fasilitas semua itu membutuhkan etos du­kungan dan pemahaman akan utilitas hal­hal tersebut. Ternyata Bait al-Hikmah kurang mendapat dukungan dari para pengganti Ma’mun khususnya sepeninggal khalifah al-Mutawakkil pada 861 (247 H).

Maktabah juga mendapatkan perhatian dan berbagai penguasa dinasti-dinasti yang lebih kecil seperti Fatimiyah dan Umay­yah di Spanyol. Tidak diragukan lagi se­makin banyaknya jumlah karya penulis muslim dalam berbagai disiplin telah then­dorong para penguasa dan hartawan untuk membangun perpustakaan minimal kolek­si pribadi. Hal ini terbukti umpamanya dari upaya dua khalifah dan dinasi yang berbeda: Hakim al-Fatimi (w. 1021/412 H) dan al-Hakam al-Umawi (w. 976/365 H) guna mendirikan maktabah untuk umum. Sebagai penguasa muslim yang tinggal jauh di ujung barat (Spanyol), Ha­kam berusaha keras untuk menjaga identi­tas pemerintahannya dan sekaligus me­nunjukkan keistimewaan tersendiri. Un­tuk tujuan ini maka, di antaranya, diba­ngunlah sebuah perpustakaan yang diupa­yakan sebagai yang paling besar di seante­ro dunia Islam. Kendati sulit untuk mene­rima sebuah informasi bahwa perpustaka­an yang didirikan Hakam tersebut akhir­nya mampu mengumpulkan 400.000 ju­dul buku, namun yang jelas maktabah ini mendapatkan perhatian khusus. Di sam­ping itu, para khalifah Fatimiyah yang berupaya menjaga dan kalau mungkin me­luaskan pengaruhnya di Afrika Utara sangat berkepentingan dengan penyiap­an para propagandis (dai). Kalau sebelum­nya para propagandis ini lebih diarahkan untuk membina dukungan politik buat keluarga Fatimiyah maka setelah mereka berkuasa berbagai upaya dilancarkan un­tuk menyiarkan ide dan doktrin mereka secara sistematis dan ilmiah. Dalam kon­teks ini tidak mengherankan kalau khali­fah Hakim melengkapi lembaga pendidik­an yang ada di al-Azhar dengan sebuah perpustakaan besar yang dikenal dengan sebutan Dar al-Hikmah.

Bagaimanapun besar peranan kontem­porer dari maktabah-maktabah besar se­perti yang disebut di atas dan yang mun­cul kemudian, kita tidak dapat menge­nyampingkan berbagai koleksi pribadi (buku-buku) yang lersebar di seantero du­nia Islam dalam melanggengkan kekayaan khazanah intelektual muslim.

 

Advertisement