Advertisement

Maksiat Dalam Is­lam, ia merupakan term bagi perbuatan yang tidak mentaati perintah-perintah Allah atau yang melanggar larangan-lara­ngan-Nya. Orang Islam yang tidak melak­sanakan perintah Allah yang wajib bagi dikinya, atau melanggar larangan-larang­an-Nya yang diharamkan, disebut dengan almuslim alVsT (muslim yang maksiat). Menurut kaum Khawarij, orang yang me­lakukan suatu dosa besar, dengan kemak­siatannya, dipandang kafir, bahkan lebih ekstrim lagi ia dipandang musyrik.

Selanjutnya, soal maksiat dalam Islam, menjadi patokan, apakah perbuatan sese­orang harus ditaati atau tidak. Kalau ada perbuatannya yang termasuk maksiat, maka tidak boleh ditaati oleh orang yang lain. Rasulullah menegaskan: “Tidak ada ketaatan bagi makhluk (manusia) yang berada dalam kemaksiatan kepada Khalik (Tuhan Pencipta).”

Advertisement

Perbuatan maksiat atau durhaka ke­pada Allah, oleh al-Quran dinyatakan akan dibalas dengan siksa-Nya, kecuali jika Allah mengampuni pelakunya. Hanya Allah yang berhak mengampuni dosa dari segala kemaksiatan hamba-hamba-Nya.

Dalam pandangan Islam, semua manu­sia, kecuali para Nabi dan Rasul Tuhan, tidak luput dari maksiat. Artinya, setiap manusia yang bukan nabi, dalam hidup­nya bisa melakukan maksiat kepada Tu­han. Hanya para nabi dan rasul yang ter­pelihara dari perbuatan maksiat, karena mereka selalu dalam bimbingan, teguran dan penjagaan Tuhan. Manusia muslim yang melakukan maksiat disuruh Tuhan beitobat. Dalam kata tobat terkandung arti pembuat maksiat menyesali dan me­nyadari akan perbuatannya yang salah, sertamerta meninggalkan perbuatan mak­siat itu, dan bertekad tidak akan mengula­nginya kembali di belakang hari. Allah mengampuni dosa pembuat maksiat yang tobat sesuai dengan janji-janji-Nya dalam kitab suci al-Quran.

Advertisement