Advertisement

Makrifah (ma`rifat) berarti mengetahui atau pengetahuan. Objeknya adalah kebe­naran (al-haqq), baik dalam arti teoritis (epistemologis) maupun dalam arti praktis (etis).

Marifat al-haqq (mengetahui kebenaran atau pengetahuan tentang kebenaran), da­lam arti teoritis, berarti memiliki pengeta­huan yang benar tentang realitas sesuatu menurut apa adanya, seperti mengetahui bahwa bumi ini bulat, berpusing (berotasi) pada sumbunya, dan beredar (berevolusi) mengelilingi matahari; sedang dalam arti praktis, berarti memiliki pengetahuan yang benar tentang baik atau buruknya suatu perbuatan manusia; pengetahuan yang akhir ini bukan sekadar untuk penge­tahuan, tapi untuk diamalkan demi ter­capainya kehidupan yang ideal bagi setiap m anusia.

Advertisement

Tidak diragukan lagi bahwa keistimewa­an manusia dan binatang terletak pada adanya potensi sedemikian rupa pada ma­nusia, sehingga is dapat memiliki makrifah dalam jumlah yang semakin lama semakin tak terhitung jumlahnya, sedang binatang tidak demikian.

Di kalangan para ulama timbul perbin­cangan tentang sejauh mana manusia mampu memiliki makrifah. Mercka tidak memperdebatkan kemampuan manusia untuk memiliki makrifah tentang dunia empiris. Tampaknya sudah cukup jelas bagi mereka bahwa manusia, dengan alat indra dan akalnya, memang telah memiliki makrifah yang semakin lama semakin ba­nyak tentang dunia empiris ini. Perdebat­an timbul di kalangan para ulama, ketika mereka mengkaji antara lain tentang ke­mampuan manusia untuk mengetahui baik­buruk suatu perbuatan dan untuk menge­tahui adanya Tuhan.

Mengenai baik-buruknya suatu perbuat­an, segolongan ulama (kaum Asy`ariyah) berpendapat bahwa seandainya Tuhan ti­dak menurunkan wahyu-Nya kepada ma­nusia (melalui para rasul-Nya), niscaya ma­nusia tidak akan memiliki makrifah ten-tang baik atau buruknya suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Pendapat yang terasa aneh ini, didasarkan pada pen­dirian bahwa nilai baik dan buruk itu ti­dak bersifat obyektif, atau tidak melekat pada setiap perbuatan, tapi bergantung pada kehendak Tuhan yang (menurut me­reka) boleh saja berobah-obah. Menurut pihak ini, mencuri itu (misalnya) buruk, karena dilarang oleh Tuhan, tapi akan ber­nilai baik, sekiranya perbuatan mencuri itu diperintahkan-Nya; menurut mereka, Tuhan boleh (jaiz) saja melarang atau me­nyuruh manusia mencuri. Menurut mere­ka, seandainya Tuhan tidak menurunkan wahyu-Nya, maka manusia tidak akan me­ngetahui kehendak-Nya (perintah dan la­rangan-Nya). Dengan demikian manusia tidak akan mengetahui mana perbuatan yang diperintahkan dan mana pula yang dilarang-Nya; karena itulah manusia tidak mampu mengetahui nilai baik-buruknya suatu perbuatan, jika Tuhan tidak menu­runkan wahyu-Nya.

Sebaliknya, dalam pandangan para filo­sof muslim, golongan Mu`tazilah, dan be­berapa golongan lainnya dalam Islam, nilai baik dan buruk itu melekat pada perbuat­an itu sendiri. Mencuri itu buruk, bukan­lah karena dilarang oleh Tuhan; jujur itu baik, bukan karena diperintahkan Tuhan. Menurut pihak ini, karena mencuri itu buruk, maka Tuhan melarangnya; dan karena jujur itu baik, maka Ia menyuruh­nya. Manusia, bila dapat mengaktualkan potensi makrifahnya dengan baik, niscaya mampu mengetahui (memiliki makrifah) tentang baik atau buruknya suatu per­buatan, kendati misalnya Tuhan tidak me­nurunkan wahyu-Nya.

Berkenaan dengan kemampuan manusia untuk memiliki makrifah tentang Tuhan, para ulama terbagi dua juga. Para filosof dan teolog muslim, pada satu pihak, ber­pendirian bahwa manusia dengan akalnya mampu memiliki makrifah tentang adanya Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Berdasarkan pengetahuan yang cermat tentang dunia yang empiris, manusia dapat membuat ke­simpulan yang logis tentang Tuhan.

Kaum Sufi, pada pihak lain, membagi makrifah tentang Tuhan ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan paling rendah adalah makrifah kaum awam. Kaum awam ini me­mang mengetahui (mempunyai makrifah tentang Tuhan, tapi hanya berdasarkan sikap tasdiq (membenarkan) keterangan yang berasal dan rasul-Nya. Tingkatan ke­dua (pertengahan) adalah makrifah pada filosof dan teolog. Mereka mengetahui Tu­han berdasarkan pertimbangan atas kenya­taan-kenyataan dunia empiris, bukan ber­dasarkan penyaksian langsung terhadap­Nya. Baik makrifat tingkatan kedua, apa­lagi tingkatan paling rendah, menurut pe­nilaian kaum Sufi, tidaklah memberikan keyakinan penuh pada hati manusia. Ha­ nya makrifah tingkatan ketiga, yakni mak­fah hakiki, yang memberikan keyakinan penuh kepada hati. Itulah makrifah ten-tang Tuhan, yang diperoleh setelah terbu­kanya hijrzb (tirai) yang menutup panda­ngan hati atau batin yang mengarah ke atas (kepada Tuhan). Makrifah hakiki ini tidak bisa diperoleh dengan ketajaman lo­gika akal, tapi dengan ketajaman mata hati. Ketajaman mata hati ini hanya ditemukan pada para rasul atau nabi Tuhan, dan pada para sufi yang telah berhasil menyucikan hatinya, melalui ketekunan beribadat, ber­zikir, dan latihan rohaniah lainnya.

Istilah lain yang sama maksudnya de­ngan makrifah adalah ilmu. Betapa tinggi­nya makna ilmu yang semakna dengan makrifah itu, terlihat dalam ungkapan ha­dis yang sudah populer di kalangan kaum muslimin: “Siapa yang menginginkan du­nia, haruslah ia mencapainya dengan ilmu; siapa yang menginginkan akhirat, haruslah ia mencapainya dengan ilmu; dan siapa yang menginginkan keduanya, haruslah ia mencapainya dengan ilmu.”

Advertisement