Advertisement

Makmum secara harfiah ar­tinya mengikut, menurut dan yang ter­pimpin atau dipimpin seperti dalam ung­kapan: “Dalam hal ini. . . , saya hendak menjadi makmum saja,” Artinya dalam masalah tersebut ia hendak menjadi peng­ikut saja tidak mau menjadi imam (pemim­pin).

Dalam percakapan sehari-hari, kata makmum lebih banyak dipergunakan un­tuk sebutan bagi pengikut imam dalam salat berjemaah, yaitu salat yang dilaku­kan oleh dua orang atau lebih secara ber­sama-sama. Yang seorang bertindak seba­gai imam yakni yang berdiri paling depan, sedangkan selebihnya berkedudukan seba­gai makmum yakni yang berbaris di bela­kang imam.

Advertisement

Dalam salat jemaah, baik salat fardu yakni salat lima waktu (zuhur, asar, mag­rib, isya dan subuh) dan salat Jumat maupun dalam salat sunnahyang dilakukan secara berjemaah seperti salat id dan tara­wih, makmum harus berdiri di belakang imam, tidak boleh menyamai tempat ber­diri imam apalagi di depan imam. Jika yang menjadi makmum hanya seorang, ia berdiri di belakang imam dengan mengam­bil posisi di sebelah kanan imam. Namun jika yang menjadi makmum lebih dari satu orang, makmum berbaris (bersaf) di bela­kang imam sehingga imam berada di ba­gian tengah depan saf mereka.

Demi kesempurnaan salat berjemaah seperti dianjurkan Hadis Rasulullah dalam banyak riwayat, saf atau barisan makmum hendaknya dirapatkan dan diluruskan de­ngan sempurna, dan seyogyanya jangan membuat saf baru sebelum saf di depan dipenuhi. Apabila saf di depan sudah pe­nuh, baru kemudian dibuat barisan yang berikutnya, yakni barisan kedua, ketiga dan seterusnya. Hadis Nabi juga meng­ajarkan bahwa jika dalam salat berjemaah itu makmumnya terdiri dan kaum pria dan wanita, maka kaum pria harus meng­isi saf atau beberapa saf depan, sedangkan kaum wanita berbaris di barisan belakang setelah saf kaum laki-laki. Para wanita ti­dak dibenarkan berdiri satu saf dengan saf kaum pria. Dalam Hadis yang diriwa­yatkan al-Jamaah dan Abu Hurairah, Ra­ sulullah bersabda: “Sebaik-baik saf kaum lelaki (dalam mengerjakan salat berje­maah) ialah saf yang pertama, dan yang paling buruk adalah saf yang terakhir; dan sebaik-baik saf bagi kaum wanita ialah saf yang terakhir, sedangkan yang terburuk ialah yang pertama.” Kaum wanita boleh bermakmum kepada laki-laki, tetapi tidak kebalikannya.

Ketentuan lain yang juga harus diper­hatikan oleh makmum dalam mengerjakan salat jemaah ialah mengenai gerakan-ge­rakan salat. Gerakan-gerakan salat mak­mum semenjak takbiratul ihram sampai dengan selesai (salam) ialah harus selalu mengikuti gerakan-gerakan imam, dalam pengertian tidak boleh mendahului gerak­an-gerakan imam.

Para fukaha telah sepakat bahwa mak­mum yang mendahului imam dalam ber­takbiratul-ihram atau dalam mengucapkan salam, salatnya dinyatakan batal (tidak sah). Adapun dalam gerakan-gerakan lain, selain takbiratul-ihram, mereka berselisih pendapat (khilafiyat) tentang batal atau tidaknya salat si makmum.

Apabila seseorang mendapatkan imam tengah mengerjakan salat dalam gerakan yang mana pun, makmum hendaknya se­gera langsung bertakbiratul-Ihram dan mengikuti salat imam dalam gerakan mana pun yang sedang dilakukan imam. Kalau makmum dapat mengikuti ruku sang imam, maka dia dianggap (dihitung) telah mengikuti rakaat salat yang tengah dilaku­kan. Apabila imam telah terlebih dahulu selesai mengerjakan salat, padahal mak­mum masih kurang jumlah rakat salat yang harus diselesaikannya (karena keting­galan dan imam), ia tidak boleh ikut ber­salam (membaca salam) bersama-sama imam akan tetapi ia harus berdiri lagi dan menambah rakaat yang masih kurang sam­pai kemudian sempurna bilangan rakaat­nya. Makmum yang demikian dalam isti­lah fikih biasa disebut sebagai

masbRq, artinya makmum yang didahului atau ketinggalan dari imam.

Seandainya imam salah atau keliru da­lam perhitungan rakaat karena lupa, seper­ti mengira telah cukup padahal belum atau mengira kurang padahal telah cukup, makmum termasuk dalamnya makmum masbuk dibenarkan mengingatkan imam dengan cara membaca tasbih (subhan Alffh) dengan suara jahr (keras) sekedar didengar oleh imam. Makmum (termasuk masbuk) juga diperkenankan membantu mengingatkan imam yang terputus atau terhenti bacaan suratnya karena lupa, de­ngan cara membaca kelanjutan rangkaian ayat atau surat yang dibaca imam itu se­kadar imam dapat melanjutkan bacaan­nya.

Dalam salat jemaah, sewaktu imam membaca ayat atau surat dalam al-Quran dengan suara keras (jahr), makmum tidak usah membacanya, akan tetapi cukup mendengarkan bacaan imam seperti dinya­takan al-Quran (lihat surat al-A:ran 204) dan Hadis Nabi Muhammad yang meme­rintahkan makmum supaya mendengar­kan bacaan imam dengan tenang.

Adapun mengenai bacaan surat al-Fa­tihah bagi makmum, di kalangan para ula­ma terdapat perbedaan pendapat. Menu-rut ulama Syafilyah, makmum harus membaca surat al-Fatihah pada setiap ra­kaat, baik di kala imam membacanya de­ngan suara keras (jahr) maupun dengan pelan-pelan (sirr). Menurut ulama Maliki­yah dan Hanabilah, makmum tidak mem­baca surat al-Fatihah di waktu imam membacanya dengan jahr dan makmum membacanya di kala imam membacanya dengan sirr.

Berlainan dengan pendapat para ulama di atas, ulama Hanafiyah berpendapat bahwa makmum tidak usah membaca su­rat al-Fatihah baik sewaktu imam memba­canya dengan jahr maupun membacanya dengan sirr.

 

Advertisement