Advertisement

Majusi adalah agama Persia kuno. Dalam bahasa Persia kuno itu, pendeta agama di­sebut magu. Kata magu ini menjadi majus dalam bahasa Arab, dan dengan demikian agama yang diajarkan oleh para pendeta Persia itu disebut Majusiyah, yang selan­jutnya dalam bahasa kita disingkat saja menjadi Majusi. Nama lain bagi agama Per­sia kuno itu adalah Mazdaisme, yang ber­arti agama yang mengajarkan penyembah­an kepada Ahura Mazda (Tuhan Mazda), dan juga Zoroasterianisme atau agama Zo­roaster, yakni agama yang diajarkan oleh Zoroaster (lahir di Azerbaijan sekitar 660 SM dan wafat di Bactra sekitar 583 SM).

Pada mulanya agama Majusi mengajar­kan penyembahan kepada banyak dewa (politeisme). Kemudian muncul Zoroas­ter, yang mengaku mendapat tugas dari Ahura Mazda untuk membersihkan agama itu dari pemujaan terhadap dewa-dewa dan unsur-unsur alam, serta untuk mem­bangun moral masyarakat supaya berjuang menegakkan kebaikan dan menen­tang kejahatan. Sejak itu agama yang su­dah diperbaharui oleh Zoroaster tersebut menjadi anutan umum bangsa Persia, sam­pai tanah Persia ditaklukkan oleh umat Is­lam pada 641, Sejak penaklukan umat Islam itu, umumnya bangsa Persia mening­galkan agama Majusi dan memeluk Islam. Sisa-sisa penganut agama Majusi sebagian beremigrasi ke Bombay dan sebagian ma­sih dapat dijumpai di beberapa tempat di Persia (Iran).

Advertisement

Pegangan pokok dalam agama Majusi adalah kitab suci Avesta, yang berarti pengetahuan, dan kitab Zend-Avesta, yang berarti tafsiran terhadap Avesta. Sejauh yang digariskan Avesta, agama Majusi da­pat dipandang sebagai agama monoteistik, karena kitab itu mengajarkan bahwa satu­satunya yang pantas ditaati dan dipuja ha­nyalah Ahura Mazda. Agama Majusi tertu­duh atau lebih dikenal sebagai agama dwi­teistik, karena dalam kitab Zend Avesta, yang dalam praktek lebih berfungsi dan le­bih menentukan dari Avesta sendiri, terda­pat tafsiran yang memang membawa kepa­da paham adanya dua Tuhan. Dijelaskan bahwa Angra Mainyu (Ahriman) adalah pencipta segala kejahatan dan memiliki kedudukan yang setara dengan Ahura Mazda, pencipta segala kebaikan. Angra Mainyu bukanlah ciptaan Ahura Mazda. Kend.ati keduanya setara, hanyalah Ahura Mazda yang hams ditaati dan dipuja, kare­na Ia pada akhirnya akan memenangkan pertarungan dengan Angra Mainyu. Yang akhir ini akan binasa bersama semua peng­ikutnya.

Agama Majusi juga dikenal sebagai aga­ma dengan penyembahan kepada api, ka­rena api, sebagai cumber penerangan, di­pakai dalam agama itu sebagai simbol Ahura Mazda atau simbol kebenaran. Penghormatan kepada Ahura Mazda di­tunjukkan melalui penghormatan di ha­dapan api suci. Api itu senantiasa dijaga hidup terns dalam kuil-kuil kebaktian. Penganut Majusi, dalam kebaktian pokok mereka, mempersembahkan air suci yang beragi (hooma) bersama air biasa dan susu di hadapan api suci, di samping mende­ngarkan bagian-bagian kitab suci yang di- bacakan. Mereka juga meminum persem­bahan itu dengan maksud memperkuat ‘Ja­ya hidup menentang kodrat-kodrat jahat.

Agama Majusi memandang tanah, air, dan api sebagai benda-benda suci, yang hams dijaga kesuciannya. Mayat-mayat manusia, yang dikuburkan ke dalam ta­nah, dianggap mengotorkan benda-benda suci tersebut. Berdasarkan keyakinan de­mikian, penganut Majusi tampak begitu tega menyerahkan mayat-mayat manusia menjadi santapan burung-burung buas pe­makan bangkai. Mereka membangun me­nara khusus, yang disebut Menara Sepi (Tower of Silence), sebagai tempat pem­buangan mayat.

Advertisement