Advertisement

Mahmil (Mahmal) adalah tempat du­duk beratap yang dibangun di atas pung­gung unta. Sebagai sarana transportasi vital yang praktis dan efisien, unta telah terbukti sangat bahkan           mobilitas suku-suku Arab bahkan keberhasilan pa­sukan khalifah menguasai wilayah-wilayah di luar semenanjung Arabia. Kemampuan unta mengangkut beban yang relatif besar dan menelusuri padang pasir untuk waktu yang panjang membuatnya simbol komu­nikasi canggih. Karenanya mudah dipaha­mi jika unta juga digunakan sebagai media guna mengekspresikan kekuasaan atau ke­kayaan seorang penguasa. Hal ini dapat di­temui dalam hadiah yang dikirim lewat “unta berhias” (mahmil) dan seorang pe­nguasa atau hartawan kepada koleganya pada upacara-upacara penting.

Namun dalam sejarah Islam, mahmil mempunyai makna yang khas. Sentralitas Ka’bah dalam kehidupan keagamaan telah mengundang para penguasa baik khalifah maupun sultan untuk membuat nama me­reka mengiang harum di sekitar Ka’bah. Di antara upaya mereka ke arah ini adalah lewat pengiriman mahmil ke Mekah pada musim haji yang menunjukkan perhatian keagamaan dan sekaligus kemampuan me­reka. Walaupun setiap muslim bebas me­masuki Mekah, Hijaz selalu tunduk ‘di bawah rezim politik tertentu. Akibatnya pemeliharaan Ka’bah secara umum men­jadi prerogatif penguasa wilayah Hijaz yang biasanya berkedudukan di luar seme­nanjung Arabia. Memang penggantian se­lubung Ka’bah (kiswah) setiap tahun me­rupakan upacara penting, terbukti dari iringan kafilah, yang menyertai mahmil pembawa kiswah. Tentunya penemuan sarana transportasi modern dan penataan politik pada abad ke-20 telah menghilang­kan fungsi mahmil dalam pemeliharaan Ka’bah dan simbol wibawa penguasa mus­lim.

Advertisement

Advertisement