Advertisement

Mahabbah berarti cinta, yakni perasaan rindu dan senang yang isti­mewa terhadap sesuatu; perasaan demiki­an menyebabkan perhatian seseorang ter­pusat kepadanya, bahkan mendorong orang itu untuk memiliki, bersatu, atau selalu dekat bersamanya. Secara umum dapat dinyatakan bahwa mahabbah itu tertuju kepada kebaikan atau kebenaran, dan benci sebagai lawannya tertuju kepa­da yang buruk atau kebatilan.

Di antara ajaran Islam tentang mahab­bah (cinta) adalah cinta kepada kebaikan untuk sesama rnanusia Hadis Nabi mene­gaskan bahwa tidak sempurna iman sese­orang sebelum is mencintai sesuatu (kebaikan) bagi saudaranya sesama manusia, sebagaimana ia mencintainya untuk diri­nya. Ini mengandung arti bahwa bila ia mencintai atau menginginkan (misalnya:) kesehatan yang baik, pengetahuan yang banyak, kecukupan dalam penghidupan, ketenteraman, dan ‘lain sebagainya, bagi dirinya, maka haruslah ia juga mengingin­kan agar semuanya itu dapat dinikmati oleh saudara-saudaranya sesama umat ma­nusia. Dengan kata lain segala macam ke­baikan hams atau boleh dicintai, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Perasaan cinta seperti ini mut­lak diperlukan demi membangun hubung­an yang mesra sesama umat manusia, baik. dalam lingkungan yang kecil maupun da­lam lingkungan yang besar.

Advertisement

Mengingat obyek yang dapat dicintai itu beraneka ragam banyaknya dan berbeda icualitasnya, maka agar cinta itu dapat di­aktualkan menurut proporsi yang benar, Islam mengajarkan bahwa Allah dan Ra­sul-Nya haruslah lebih dicintai dari apa saja yang lain. Allah memberikan ancaman kepada orang-orang yang lebih mencintai sesuatu, terbanding mencintai Allah dan Rasul-Nya, dengan ungkapan (9:24) seba­gai berikut: “Katakanlah, jika bapak-ba­pak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan ru­mah-rumah yang kamu senangi, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatang­kan putusan=Nya.” Tuntunan Islam agar orang lebih mencintai Allah dan Rasul­Nya tidak lain maksudnya agar umat ma­nusia ini lebih mencintai kebaikan atau kebenaran yang sesungguhnya, bukan yang palsu.

Manifestasi mencintai Allah dan Rasul­Nya antara lain adalah mentaati ajaran­ajaran-Nya, yang disampaikan lewat Rasul­Nya. Cinta yang menampakkan diri dalam ketaatan itu, niscaya dibalas pula dengan cinta oleh Tuhan, sebagaimana dikatakan­Nya (3:31): “Katakanlah, jika kamu men­cintai Allah, maka ikutilah (taatilah) aku (Rasul-Nya), niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu.” Selain itu, dari ayat-ayat al-Quran dapat dipahami bahwa kalau seseorang ingin di­cintai oleh Tuhan, haruslah ia berupaya menjadi orang yang, memiliki sifat-sifat berikut ini: berbuat balk, suci, bertakwa, bertobat, sabar, bertawakal, dan adil, ser­ta tidak menjadi orang yang: kafir, ber­dosa, lalai, lalim, sombong, berkhianat, merusak, melanggar batas, boros, atau bersikap buruk lainnya.

Mahabbah kepada Tuhan telah dikem­bangkan demikian hebat oleh sufi wanita, Rabi`ah al-Adawiyyah (w. 801/184 H), dan para sufi yang datang sesudahnya. Rabi`ah, dengan gelora cinta yang luar bia­sa kepada Tuhan, pernah mengabadikan cintanya dalam ucapan-ucapan sebagai be­rikut: “Aku mengabdi kepada Tuhan bu­kan karena takut kepada neraka, bukan pula karena ingin masuk surga, tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya.” “Tuhanku, jika kupuja Engkau karena ta­kut kepada neraka, bakarlah daku di da­lamnya; dan jika kupuja Engkau, karena mengharap surga, jauhkanlah daku dari­padanya; tetapi, jika Kau kupuja semata­mata karena Kau, maka janganlah•Kau sembunyikan kecantikan-Mu yang kekal itu dariku”. “Ya Tuhan, bintang di langit telah gemerlapan, mata telah bertiduran, pintu-pintu istana telah dikunci, dan tiap pecinta telah menyendiri dengan kekasih­nya, dan inilah daku berada di hadapan­Mu”. “Wahai Kekasih hati, hanya Engkau­lah Kekasih bagiku. Kasihanilah pembuat dosa yang datang kepada-Mu. Wahai Keka­sih Engkaulah harapanku, kebahagiaan, dan kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain diri-Mu.”

Para sufi telah mengembangkan mahab­bah mereka kepada Tuhan sedemikian rupa, sehingga Tuhan bagi mereka bukan lagi dirasakan sebagai zat yang ditakuti, tetapi sebagai Kekasih yang sangat dirin­dukan. Mereka asyik-maksyuk dengan Ke­kasih mereka, Tuhan, dan dengan rasa de­mikian, dapat dipahami, mereka tidak merasa berat mengerjakan ibadat, seperti mengerjakan salat sunah mencapai 400 rakat sehari semalam. Dengan saat-saat asyik maksyuk dengan Kekasih mereka itu  pulalah muncul dan sebagian mereka ung­kapan-ungkapan yang, bila tidak dikaitkan dengan suasana perasaan mereka, kelihat­annya ganjil, seperti layaknya dua insan sedang berkasihan, “aku adalah Kau”, “Kau adalah aku”, “Kau berada di hati­ku, bagaikan roh berada dalam tubuh”, dan lain sebagainya. Ungkapan-ungkapan demikian tentu tidak terasa ganjil, bila dilihat dalam kaitannya dengan perasaan mahabbahnya yang membara dengan Tu­han.

Menurut kalangan sufi, cinta sufi kepa­da Tuhan, setelah Ia memperlihatkan ke­cantikan-Nya kepada sufi itu (setelah ter­jadinya kasyaf) akan lebih hebat lagi, ter-banding dengan cintanya yang bergelora pada waktu sebelum terjadinya penyaksi­an kecantikan tersebut.

Advertisement