Advertisement

Madrasah adalah tempat mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, terutama ilmu. Kata madrasah berakar dari kata kerja da­rasa yang berarti belajar atau darrasa (me­ngajar). Kendati madrasah merupakan produk perkembangan budaya Islami beberapa abad setelah lahirnya Islam, ke­cenderungan mengorganisir pengajaran telah membudaya sejak masa awal Islam. Dengan menggunakan fasilitas dan sarana yang ada seperti mesjid, istana, perpusta­kaan atau rumah para cendikiawan dan penyair, pengajaran berbagai ilmu dalam berbagai tingkat dilaksanakan. Di samping itu pengajaran dasar-dasar ilmu agama te­lah diberi perhatian khusus semenjak awal sebagaimana terlihat dari berdirinya mak­tab di masa kekhalifahan Umayyah.

Pertama kali istilah madrasah ditemu­kan adalah berkenaan dengan upaya kha­lifah Abbasiyah Harun ar-Rasyid guna me­nyediakan fasilitas belajar ilmu kedokter­an dan ilmu-ilmu penopang lainnya di lingkungan “klinik” (bimaristain) yang di­bangunnya di Bagdad. Kompleks ini dike­nal dengan sebutan madrasah Bagdad. Namun kelihatannya pemakaian istilah tersebut cenderung a natema, terutama kalau diperhatikan tidak adanya kelanjut­an dari madrasah Bagdad kecuali muncul­nya Baitul Hikmah di masa Makmun.

Advertisement

Munculnya madrasah berhubungan erat dengan standarisasi keilmuan. Perasaan puas dan cukup yang timbul bersamaan dengan dihasilkannya karya dan penemu­an para Fukaha, ahlul-kalam dan ahlul­hadis telah mendorong upaya pembatasan ijtihad. Hal ini semakin mencekam pan­dangan para pemuka dan ulama dengan mu ncu lny a p an dangan-p and angan ekst rim yang berkembang di kalangan kelompok­kelompok gulat. Kalau dikalangan Syi`ah timbul mekanisme semacam wasiat dan nas, maka madrasah adalah lembaga pen­didikan yang digunakan mula-mula oleh ulama-ulama fikih guna mempertahankan dan sekaligus mempromosikan pemaham­an yang diikuti. Rupanya madrasah mula­mula berkembang di Khurasan, terutama di antara kelompok mazhab Syafi`i. Nizam al-Mulk yang menjabat wazir dari sultan Saljuk (1063-1092) berupaya me- manfaatkan institusi madrasah tersebut diantaranya guna menopang usahanya memperkuat birokrasi yang direkrut dari lulusan madrasah yang sama. Dengan sis­tem pengajaran yang standar madrasah tidak ditujukan untuk mengembangkan ilmu tetapi untuk meneruskan tradisi ke­ilmuan dan pemahaman keagamaan yang ada. Keberhasilan sistem madrasah yang dikembangkan Nizam akhirnya mempe­ngaruhi para penguasa yang datang kemu­dian untuk mendirikan rangkaian madra­sah. Hal ini dapat dilihat dari usaha sultan-sultan seperti Nuruddin Zengi, Salahuddin Ayyubi dan Baibars Mamluki.

Dalam kerajaan Usmani, madrasah me­mainkan peranan penting dalam meno­pang birokrasi. Dibentuknya pos-pos pe­ngadilan Syariat (kada) dan jabatan mufti telah menimbulkan kebutuhan akan lem­baga pendidikan yang menghasilkan tena­ga-tenaga ahli dalam jabatan-jabatan terse-but. Kalau di masa awal kerajaan Usmani, para tenaga ahli syariat banyak di datang­kan dari pusat-pusat keilmuan di luar Ana­tolia, akhirnya para sultan membangun madrasah di kota-kota besar seperti Istan­bul, Edirne dan Bursa. Pemusatan pendi­dikan ini ternyata sangat efektif dalam membentuk birokrasi yang kompak dan loyal. Memang pada puncak kejayaannya, madrasah-madrasah tersebut merupakan jalur yang harus dilewati seorang yang ingin menempuh karir dal= ‘bidang aga­ma (ilmiah). Namun ketatnya sistem dan sempitnya wawasan pendidikan ini juga berpengaruh negatif terhadap perkembang­an keilmuan dalam kerajaan Usmani.

Di Indonesia, nama madrasah menjadi terkenal hanya pada awal abad ke-20, ber­samaan dengan upaya mengadakan pem­baharuan dalam sistem pendidikan di ka­langan umat Islam. Sebelumnya pendidik­an agama biasanya dilaksanakan di tempat­tempat seperti pondok, mesjid, surau dan rumah-rumah guru tanpa kurikulum yang pasti. Madrasah yang juga dikenal sebagai “sekolah Arab” memperkenalkan pema­kaian huruf latin, pengetahuan umum ku­rikulum, sistem ldasikal dan waktu belajar yang tertentu. Semenjak itu telah terjadi perubahan-perubahan bahkan akan sulit pada sepertiga terakhir abad ke-20 ini untuk menemukan lembaga pendidikan tradisional tanpa didampingi madrasah.

 

Advertisement