Advertisement

Madrasah Nizamiyah, adalah lemba­ga pendidikan tmggi yang didirikan Nizam al-Mulk sebagai wazir sultan Saljuq antara 1063-1092 (456-486 H). Pada 1067 (460 H) Nizam memulai pembangunan se­buah madrasah di Bagdad yang ditunjang dengan wakaf yang memadai. Melihat po­sisinya sebagai wazir upaya Nizam ini se-ring dihubungkan dengan kebijaksanaan birokratis formal. Artinya pendirian madrasah Nizamiyah adalah merupakan salah satu kebijaksanaan penguasa Saljuq guna menopang kekuasaannya. Namun apabila diperhatikan secara seksama teori tersebut tidak banyak didukung fakta-fak­ta yang ada. Umpamanya madrasah Niza­miyah khusus mengembangkan pengajaran fikih sedang sultan Saljuq cende­rung mengikuti fikih Hanafi dan khalifah Abbasiyah waktu itu dekat dengan kelom­pok ahlul-hadis (Hambali). Apalagi kalau diingat bahwa kelompok-kelompok fikih ini memiliki wadah pengajaran dan madra­sah sendiri-sendiri. Maka tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pendirian madra­sah Nizamiyah adalah inisiatif pribadi Ni­zam yang bermazhab Syafi`i, kendati ti­dak bisa dikesampingkan bahwa dia juga bermaksud memanfaatkan sarana pendi­dikan tersebut guna membangun sistem madrasah yang seragam dan berprestasi serta membentuk calon-calon ulama dan birokrat yang mempunyai wawasan iden­tik. Ternyata setelah didirikannya madra­sah Nizamiyah di Bagdad tidak kurang dari delapan buah madrasah yang mirip juga dibangun di berbagai kota, khususnya di Persia dan Khurasan, dengan nama yang sama Nizamiyah.

Madrasah Nizamiyah menekankan pe­ngajaran keagamaan beserta perangkat me­mahami teks (Wm aValat). Memang tim­bul pendapat luas bahwa madrasah Niza­miyah memainkan peranan besar dalam menyebarkan Asy`arisme, terutama dalam menghadapi Mu`tazilisme. Namun studi­studi modern mengenai madrasah tersebut tidak menemukan bukti konkrit bahwa ilmu kalam, terutama Asy`arisme, diajar­kan secara khusus dan intensif di madra­sah Nizamiyah. Bagaimanapun hams di­akui bahwa beberapa pengajar pada ma­drasah Nizamiyah juga dikenal sebagai ahli dalam ilmu kalam, bahkan penganut Asy­`arisme, umpamanya al-Juwaini (w. 1084/ 478 H) dan Abu Hamid al-Gazali (yr,. 1111/ 505 H). Karena madrasah Nizamiyah di­khususkan buat para penganut fikih

Advertisement

maka tidak mengherankan kalau pe­ngajaran ilmu fikih mendapatkan prioritas utama. Pembahasan fikih yang mengang­kat hampir seluruh masalah kemasyarakat­an memang tepat sebagai bekal untuk ca-ion birokrat atau pemimpin masyarakat kala itu. Karena orientasi pengajaran yang tertumpu kepada pemahaman sumber­sumber yang berbahasa Arab, maka pe­nguasaan bahasa Arab berikut ilmu-ilmu pendukungnya adalah sangat ditekankan. Sedangkan ilmu kalam bisa dikatakan me­rupakan subjek pilihan yang dapat diper­oleh para murid madrasah Nizamiyah se­cara pribadi lewat para ahlinya baik pe­ngajar di madrasah Nizamiyah maupun bukan.

Berkat pengaruhnya sebagai wazir, Ni­zam al-Mulk mampu menjadikan jaringan madrasah Nizamiyah sebagai lembaga pen­didikan yang berpengaruh dan besar. Dari kumpulan wakafnya yang luas, berbagai fasilitas dapat disediakan buat para pelajar dan pengajar baik berupa akomodasi, uang makan dan tunjangan. Karena prestasi dan namanya, madrasah Nizamiyah mampu merekrut para pengajar pilihan dalam bi­dang masing-masing. Mungkin karena per­saingan yang ketat di kalangan pengajar ini telah berperanan pula dalam mendo­ rong al-Gazali pada 1095 (489 H) mening­galkan posisinya sebagai direktur pada ma­drasah Nizamiyah di Bagdad. Ternyata madrasah Nizamiyah tetap bertahan bah­kan sepeninggal pendirinya Nizam al-Mulk pada 1092 (486 H). Seorang pengamat yang sempat mengunjungi Bagdad tidak lama setelah invasi Mongol pada 1258 (656 H) menceritakan bahwa pada saat itu madrasah Nizamiyah di kota tersebut ma­sih tetap berfungsi. Kendati madrasah Ni­zamiyah dan lainnya telah berperanan besar dalam melanggengkan tradisi ke­ilmuan dan menyebarkan ajaran Islam da­lam versi tertentu, tetapi keterkaitannya dengan standarisasi dan pelestarian ajaran kurang mampu menunjang pengembangan ilmu dan penelitian yang inovatif.

 

Advertisement