Advertisement

Kesultanan Sulu, Sebelum dijajah Spanyol, Filipina diperintah oleh sejumlah pemimpin lokal yang menguasai pulau-pu­lau tertentu secara independen. Menjelang abad ke-16 agama Islam telah diterima oleh beberapa buah negeri, termasuk Sulu, Mindanao, dan bahkan Manila.

Sulu merupakan tempat pertama kali agama Islam dikembangkan di Filipina. Kemungkinan besar Sulu telah mempunyai perkampungan muslim pada akhir abad ke-13. Pada tahap awal orang-orang Islam yang datang ke Sulu terdiri dari kaum pe­dagang yang kemudian mengawini wanita lokal dan kebanyakan menetap di pusat­pusat perdagangan. Tokoh-tokoh utama yang dikaitkan dengan periode kedatang­an Islam ini adalah, di antaranya, Tuan Masya’ikha dan Tuan Maqbalu. Menjelang pertengahan abad ke-14, bersamaan de­ngan pertumbuhan kerajaan-kerajaan Me­layu Islam di sekitar Selat Malaka, Sulu ikut merasakan intensitas Islamisasi. Se­makin tersebarnya Islam di Sulu telah mendorong berdirinya sebuah kesultanan pada abad ke-15. Dua nama penting, yaitu Raja Baguinda Minangkabau dan Syarif al­Hasyim, dikaitkan dengan pendirian kesul­tanan Sulu tersebut. Lewat struktur ad­ministrasi kesultanan dan aktivitas pribadi para ulama, Islam telah diperkenalkan ke kawasan-kawasan pedalaman, dan pulau­pulau sekitarnya khususnya Mindanao. Se­makin kokohnya kekuasaan Sulu telah mendatangkan kemajuan dalam bidang ekonomi dan perkembangan kehidupan keagamaan dan intelektual. Sulu telah menjadi bagian penting dari percaturan dunia Melayu serta Islam pada abad ke-15.

Advertisement

Munculnya kekuatan Eropa di Asia Tenggara sejak awal abad ke-16 telah mengancam kerajaan-kerajaan Islam, ter­masuk Sulu. Kalau Portugis dan Belanda menjadi musuh di kawasan selatan, maka Spanyol telah muncul sebagai ancaman di utara, terutama Sulu dan Brunei. Memang pada abad ke-16 keberadaan Islam di Asia Tenggara sebagai kekuatan politik cukup mendapat tantangan berat. Yang juga pen­ting Spanyol, sama dengan Portugis, me­luaskan wilayah kekuasaan dengan dijiwai rasa balas-dendam (reconquista) terhadap orang Islam; sebagai kelanjutan dari proses pemusnahan Islam dan Andalusia (Spa­nyol dan Portugis) sejak abad ke-15. Dam­pak semangat ini dapat dilihat dari upaya mereka menyebarkan agama Kristen Kato­lik yang mereka anut dan menggeneralisasi orang Islam sebagai Moor (identik dengan sebutan ejekan “liar”). Bahkan akhiniya kaum muslimin di Filipina, khususnya di Sulu dan Mindanao, telah dikenal dengan sebutan Bangsa Moro; sebuah ejekan yang diubah menjadi simbol perjuangan mela­wan penindasan dan ketidakadilan. Me­mang akhirnya kesultanan Sulu terlibat dalam peperangan panjang melawan Spa­nyol, yang dikenal sebagai Perang Moro.

Bangsa Moro telah melawan kedatangan Spanyol sejak awal. Pada tahap pertama perlawanan tersebut berkobar antara 1565 sampai dengan 1663. Dalam periode ini Spanyol berhasil, di antaranya, mengalah­kan Brunei (1578) yang memang merupa­kan sekutu Sulu. Namun keberhasilan ke­kuatan Brunei mengusir mereka telah mendorong Spanyol untuk mengadu nasib di Filipina Selatan dengan menyerang ke­sultanan-kesultanan kecil di Mindanao. Pa­da 1590-an Spanyol berhasil menguasai Tampakan, dan kemudian mencoba untuk menyerang kesultanan Maguindanao. Te­tapi Spanyol menghadapi perlawanan yang gigih dari sultan Maguindanao, yang menikmati bantuan dari penguasa-pengua­sa Brunei, Sulu dan Ternate. Bahkan pada 1599 sultan Maguindanao berhasil menye­rang kedudukan Spanyol di Negros, Pa­nay, dan Cebu. Sementara itu, armada laut Sulu pada 1603 menyerang kota Du-lag di Leyte yang dikuasai Spanyol. Se­waktu Datu Ache dan Raja Bongso meme­rintah Sulu, kedudukan Spanyol di Cama­rines, Leyte, dan Bohar telah mengalami serangan-serangan dari Sulu.

Pada periode antara 1635 dan 1663 Ra­ja Qudarat (Sulu) dan Spanyol berlomba menguasai Mindanao. Sulu mendapat ban­tuan dari Makasar dan Basilan. Sulu dan Basilan akhimya kalah, dan Spanyol ber­hasil membangun benteng-benteng dan menyebarkan agama Kristen di pulau ter­sebut. Bagaimanapun Sulu, Basilan dan Maguindanao tetap bertahan sehingga Spa­nyol menawarkan perjanjian damai. Hasil dari perjanjian tersebut, di antaranya, Spa­nyol menarik kembali pasukannya pada 1663.

Peperangan antara Bangsa Moro dan Spanyol berkobar lagi pada 1718. Perjan­jian damai 1663 telah dilanggar Spanyol dengan pendirian benteng di Zamboanga. Pada akhir 1720 Sultan Badaruddin (Su­lu) yang didukung 3.000 tentara dan 104 kapal mengepung benteng Spanyol di Zamboanga. Pengepungan ini diakhiri se­telah berlangsung hampir empat bulan ke­tika bantuan Spanyol tiba. Akibat keka­lahan Sulu di Zamboanga, timbul inisiatif dari sementara pemimpin Sulu untuk ber­damai dengan Spanyol.

Pada 1752 Spanyol menyerang Jolo, ibukota Sulu. Tetapi pertahanan Jolo ru­panya cukup kuat untuk menangkis se­rangan tersebut. Bahkan Sulu kemudian melancarkan berbagai serangan terhadap kedudukan Spanyol di Samar, Panay, Min­doro, Calamianes dan Romblon. Namun pada awal 1761 terjadi pergeseran kekuat­an sewaktu Inggris menghancurkan keku­atan Spanyol di Filipina Selatan; Manila pun berhasil diduduki. Kemudian Inggris yang diwakili oleh Alexander Dalrymple membuat “Perjanjian Persahabatan dan Perdagangan” dengan Sultan Mu’izzuddin (Sulu) pada 28 Januari 1761.

Namun sejak 1851 Spanyol kembali melancarkan berbagai usaha untuk menguasai Mindanao dan Sulu. Bangsa Moro terus bertahan dan menangkis serangan Spanyol sehingga Amerika Serikat mendu­duki Filipina pada 1899. Kendati kesul­tanan-kesultanan Moro di Sulu dan Min­danao menjadi semakin lemah tetapi Spa­nyol selalu menghadapi perlawanan gigih untuk menjajah kawasan tersebut. Juga, Amerika Serikat tidak berhasil menun­dukkan Bangsa Moro. Kegagalan ini se­terusnya diwarisi oleh negara Filipina yang merdeka, sebagaimana terbukti dari terus berkobarnya api perjuangan Bangsa Moro untuk memperoleh hak-hak mereka secara penuh.

 

Advertisement