Advertisement

Kesultanan Siak Sri Indrapura, merupakan kerajaan Islam yang didirikan oleh Sultan Abdul Rahmat Syah pada 1723. Lokasinya di negeri Buantan, seki­tar 10 km di hilir kota Siak Sri Indrapura sekarang. Dalam menjalankan pemerintah­an, raja dibantu oleh semacam dewan yang terdiri dari pembesar-pembesar kera­jaan yang biasa disebut Datuk, seperti: Datuk Lima Puluh dengan gelar Sri Be­juangsa, Datuk Tanah Datar dengan gelar Sri Pakerma Raja, dan Datuk Pesisir de­ngan gelar Maharaja Ketuanga. Ada pula yang membantu dalam pelaksanaan peme­rintahan dan militer, seperti: Panglima Perang, Datuk Bendahara, Datuk Bintan Kanan, Datuk Bintan Kiri dan Datuk Hamb a Raja. Dalam pemerintahan daerah, Sultan dibantu oleh pembesar daerah, yai­tu Penghulu, Batin dan Orang Kaya. Peng­hulu adalah kepala suku yang dalam men­jalankan tugasnya dibantu oleh Sangko Penghulu (wakil), Lelo Penghulu yang ber­tugas dalam urusan adat dan berfungsi se­bagai hulubalang, dan Malim Penghulu yang bertugas dalam urusan agama dan kepercayaan. Adapun yang menyangkut organisasi pemerintahan seluruh kerajaan dibagi menjadi 10 wilayah semacam pro­pinsi, yaitu: (1) Negeri Siak Sri Indrapura, (2) Bukit Batu, (3) Negeri Merbau, (4) Te­bing Tinggi, (5) Negeri Bango, (6) Tanah Putih, (7) Negeri Kubi, (8) Negeri Pekan­baru, (9) Tapung Kanan dan (10)Tapung Kiri.

Pada masa pemerintahan putra Abdul Jalil Rahmat Syah, yaitu Abdul Jalil Mu­zhaffar Syah (1746-1760), Siak terlibat dalam pertempuran dengan Belanda yang terjadi di Guntung 1752 Pertempuran ini dimenangkan oleh Siak, sehingga Belanda terpaksa mundur untuk beberapa lamanya. Tahun 1761, Siak terlibat lagi dalam per­tempuran melawan Belanda. Antara 1760 —1784, tidak diketahui siapa yang men­jadi raja di Siak, tetapi yang jelas,.perkem­bangan Islam semakin meningkat berkat datang seorang pedagang dan juga penyiar Islam dari tanah Arab yang bernama Sayid Osman. la kawin dengan Tengku Embong Badriyah, putri Sultan Alamuddin, yang dari keturunannya ini muncul dinasti Sa­yid Usman yang memerintah Siak, dan sejak itu sultan-sultan Siak memakai gelar as-Sayid. Antara 1784-1811, Siak yang diperintah oleh Sultan as-Sayid Ali Abdul Jalil Saefuddin mengalami puncak kejayaannya. Masa itu, Siak mempunyai 12 daerah taklukan, yaitu: (1) Kota Pi­nang, (2) Pagarawan, (3) Batu Bara, (4) Ba­dagai, (5) Kualiluh, (6) Panai, (7) Bilah, (8) Asahan, (9) Serdang, (10) Langkat, (11) Temiang dan (12) Deli. Sayang, pada 1858, Siak terpaksa menandatangani Traktat Siak sebagai akibat kelemahan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah dalam menghadapi Belanda. Isinya antara lain: pihak Belanda mengakui hak otonomi ke­rajaan Siak, akan tetapi daerah taklukan­nya seperti Deli, Serdang, Langkat dan Asahan harus diserahkan kepada Belanda. Akibatnya, Siak menjadi mundur. Raja Siak yang terakhir adalah Sultan as-Sayid Syarif Qasim II yang memerintah antara 1908-1946. Jasanya yang paling besar adalah dalam bidang pendidikan. Tahun 1915 ia mendirikan HIS dan 1917 men­dirikan Madrasah al-Hasyimiyah untuk tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah. Untuk yang terakhir ini, guru-gurunya didatang­kan dari Sumatra Barat dan ada yang ta­matan al-Azhar di Kairo. Didirikannya pula Latfah School untuk wanita (1926) dan Madrasah an-Nisa (1929). Disediakan pula olehnya beasiswa bagi mereka yang melanjutkan studinya di Diniyah Putri Padang Panjang. Atas jasa-jasanya itu, namanya diabadikan sebagai nama Insti­tut Agama Islam Negeri (JAIN) Pakanbaru, Riau. Kesultanan Siak ini berakhir ketika Sultan Syarif Qasim II menyerahkan ke­kuasaan sepenuhnya kepada Pemerintah Republik Indonesia pada 1946.

Advertisement

Advertisement