Advertisement

Kesultanan Palembang, yang lengkapnya adalah Kesultanan Palembang Da-russalam, merupakan kerajaan Islam di Palembang, Sumatra Selatan, yang wilayah nya meliputi kota Palembang sekarang, se­belah hilir dan hulu sungai Musi dan anak anak sungainya termasuk Bangka dan Beli­tung. Palembang sendiri didirikan 1 Juni 683 (berdasarkan prasasti Bukit) dan me­rupakan wilayah kerajaan Budha Sriwi­jaya (683 —akhir abad ke-8). Setelah meng­alami kekosongan pemerintahan sebagai akibat jatuhnya Sriwijaya, Palembang ber­turut-turut menjadi wilayah taklukan atau protektorat Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram di Jawa. Di antara adipati Maja­pahit yang memerintah Palembang adalah Ario Damar yang dikenal juga dengan nama Ario Dillah (Abdillah) yang sudah ber­agama Islam karena kawin dengan putri Camps bekas istri Prabu Brawijaya V (1468-1478) yang muslimah. Ia meme­rintah antara 1455-1486, kemudian di­gantikan oleh Raden Suhun, kemudian Pangeran Surodirejo, tetapi keduanya te­tap tinggal di Majapahit sehingga Palem­bang seperti talc bertuan. Penguasa yang memerintah atas nama Demak adalah Pa­ngeran Sedo Ing Lautan (1547-1552). Di­katakan demikian, karena ia mangkat di Laut Jawa sepulangnya dari Demak me­nyampaikan upeti. Semasa dengan keme­lut di Demak yang berlanjut dengan berdi­rinya Pajang, terdapat serombongan bang­sawan dari Jawa ke Palembang dipimpin oleh Kiai Gedeh Ing Suro, putra Pangeran­Sedo Ing Lautan, yang kemudian meme­rintah Palembang dengan sebutan Kiai Ge­deh Ing Suro Tuo (1547-1552). Penggan­tinya (ia tidak berputra) adalah kemenak­annya, Kiai Mas Anom Adipati Ing Suro yang disebut Kiai Gedeh Ing Suro Mudo (1573-1590). Ia digantikan oleh putra­nya, Kiai Mas Adipati (1590-1595) dan sementara itu pemerintahan di Jawa sudah beralih ke Mataram.

Penguasa-penguasa yang memerintah atas nama Mataram adalah:

Advertisement

(1)   Pangeran Madi Ing Angsoko (1595­1630),

(2)   Pangeran Madi Alit (1629-1633),

(3)   Pangeran Sedo Ing Puro (1630­1639), ketiga-tiganya putra Kiai Gedeh Ing Suro Mudo,

(4)      Pangeran Sedo Ing Pesarean (1651­1652), dan

(5)      Pangeran Sedo Ing Rajek (1652­1659).

Dalam pada itu, kontak dengan Belanda sudah dimulai sejak awal abad ke-17 yang berlanjut dengan hubungan dagang. Tabun 1630, Belanda dibolehkan membangun lo­ji, dan 1642 terjadi perjanjian dagang, te­tapi 1657 terjadi perselisihan yang meng­akibatkan pertempuran pada 1659. Istana Batu Ampar dihancurkan oleh Belanda. Pangeran Sedo Ing Rajek menyingkir ke Indralaya di tepi Sungai Ogan dan wafat di Sakatiga.

Sementara itu, penguasa Mataram su­dah beralih dari Sultan Agung (1613­1645) kepada putranya, Amangkurat I (1645-1677) dan sejak itu, hubungan Pa­lembang dan Mataram terputus akibat di­tolaknya upeti dari Palembang. Adik Pa­ngeran Sedo Ing Rajek, Kiai Mas Endi Pa­ngeran Ario Kusumo, yang menggantikan ayahnya menjadi penguasa di Palembang lalu berdiri sendiri dan bergelar Sultan Su­suhunan Abdurrahman Khalifatul Muk­minin Sayidul Imam (1706 —1714/ 1118 — 1126 H). Sekitar 1700, Palembang mengi­rim bantuan kepada Jambi untuk mela­wan raja Batu di hulu Jambi di bawah pimpinan putra Kiai Mas Endi kedua, Pa­ngeran Senopati Jayo Ing Lago dengan memperoleh kemenangan. Agaknya kare­na itu, Pangeran Jayo Ing Lago yang di­angkat menggantikan ayahnya sebagai sul­tan di Palembang dengan gelar Sultan Mu­hammad Mansyur Jayo Ing Lago (1706— i:714/1118-1126 H). Pengganti sultan ini mestinya Raden Abubakar, tetapi tewas karena pengkhianatan. Gantinya adalah Raden Lumbu yang masih anak-anak yang walinya adalah Raden Uju, adik Jaya Ing Lago, tetapi kemudian yang terakhir ini diberi gelar Sultan Komaruddin di Truno yang mengakibatkan kemelut. Setelah me­lalui pahit getir penderitaan, akhirnya Ra­den Lumbu berhasil menjadi raja, dengan gelar Sultan Muhammad Badaruddin Jaya Wikramo (1724-1758/1136-1171 H). Kemelut baru timbul antara sultan dengan kakaknya, Pangeran Mangkubumi Muham­mad Ali. Yang terakhir ini kemudian terbunuh, tetapi anaknya, Raden Kelid, me­nuntut tahta. Oleh keluarga kesultanan is dianjurkan dikirim ke Batavia dan mene­mui ajalnya di tangan kompeni. Perselisih­an selanjutnya dapat diselesaikan dengan baik. Akhirnya, oleh karena putra mahko­ta, Raden Jailani terbunuh, yang meng­gantikan Jayo Wikramo adalah putra ke­duanya, Pangeran Adi Kesumo dengan ge­lar Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (1758-1776/1171-1190 H). Ia digantikan oleh putra sulungnya, Mu­hammad Baha’uddin dengan gelar Sultan Muhammad Baha’ud din (1776-1803/ 1190-1218 H). Selanjutnya, yang meme­rintah di kesultanan Palembang adalah: Raden Muhammad Hasan Sultan Susu­hunan Mahmud Badaruddin (1803-1821/ 1218-1236 H), Sultan Susuhunan Husin Dhiya’uddin (1813-1817/1228-1233 H), Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu (1819-1821/1234-1236 H), Sultan Ah­mad Najamuddin Prabu Anom (1821­1823/1236-1240 H), dan Sultan Pange­ran Keramo Jayo (1823-1825/1238­1240 H).

Tentang hubungannya dengan Belanda, setelah perang 1658-1659, perjanjian per­sahabatan dan perdagangan dibuat lagi 1662 dan Belanda boleh membuat loji di Sungai Aur. Perjanjian ini diperkuat dan diperbaharui beberapa kali (1678, 1679, 1681 dan 1691). Sementara itu, setiap ter­jadi perselisihan intern kesultanan, Belan­da selalu ikut campur untuk mengambil keuntungan. Tahun 1755, dibuat lagi per­janjian monopoli lada dan timah, dan 1763 mengenai hasil bumi di Bangka. Ta­hun 1787, terjadi kericuhan antara Palem­bang dan Belanda, dan 1811, Sultan Mah­mud Badaruddin II (1803-1821) memba­kar loji Belanda di Sungai Aur. Tahun 1812, Inggris yang berkuasa waktu itu me­nyerbu Palembang, sehingga Sultan Mali-mud Badaru.ddin menyingkir ke pedalam­an dan melakukan perang gerilya. Inggris kemudian mengakuinya sebagai Sultan kembali (1813), tetapi dimakzulkan lagi. Setelah Hindia Belanda kembali kepada Belanda (1816), Sultan Mahmud Badarud­din diangkat kembali, tetapi kemudian timbul perselisihan yang mengakibatkan perang (1819-1821) yang akhirnya Sul­tan bersama keluarganya diasingkan ke Ternate. Oleh karena perlawanan rakyat tidak berhenti di bawah Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom, kesultanan Pa­lembang Darussalam dihapuskan oleh Be­landa .1825.

 

Advertisement