Advertisement

Daulat Mamalik, “Kerajaan Budak” yang menguasai Mesir dan Siria selama 267 tahun antara abad ke 13 sampai de­ngan awal 16. Kata mamalik adalah jamak dari mamluk yang berarti “yang dimiliki” yaitu budak atau hamba sahaya. Kaum Mamalik berasal dari para pengawal belian Turki yang dimiliki penguasa Ayyubi ter­akhir di Kairo, al-Malik as-Salih Ayyub. Kematian as-Salih pada 1249 (647 H) me­nimbulkan krisis, apalagi Mesir sedang menghadapi serangan tentara Salib di bawah Louis IX. Dalam situasi tersebut “istri” as-Salih, Syajarat ad-Dun mengam­bil-alih pimpinan dengan dukungan para komandan Mamalik. Sementara itu putra as-Salih, Turansyah, yang tiba di Kairo dari posnya di Mesopotamia, tak lama ke­mudian dibunuh. Secara resmi Syajarat ad-Dun berkuasa. Untuk menghindari kri-

tik, termasuk dari khalifah al-Mustesim, ia pun mengawini komandan Mamalik, Ai­bak, yang selama ini mendukungnya, dan kemudian seorang pangeran Ayyubi ber­umur 6 tahun diprokiamirkan sebagai sul­tan. Peranan Aibak yang sentral dalam upaya mengatasi berbagai pemberontakan, terutama dari amir-amir Ayyubi, telah mendorongnya melepaskan din dan sultan figuran dan Syajarat ad-Durr lewat intrik. Sejak 1250 (648 H) secara resmi dinasti Budak di bawah Aibak muncul di Kairo.

Advertisement

Kekuasaan Mamalik yang panjang lazim­nya dibagi menjadi dua periode. Pertama, 1250-1382 ,(648-784 H) disebut dinasti Mamalik Bahriyah (Daulat al-Atrak): di­namakan demikian karena para Mamalik tersebut pada asalnya menempati barak di Raudah, tepian Nil (al-Bahr). Yang jelas para Mamalik Bahriyah berasal dari Asia Tengah, khususnya Turki Qipcaq. Kedua, 1382-1517 (784-923 H) disebut dinasti Mamalik Buijiyah (Daulat al-Jirkas); dina­makan demikian karena sebelumnya para Mamalik Burjiyah mengalami latihan mili­ter dan tinggal di benteng (qarah) Muqat­tam yang bermenara (burj) atas inisiatif Sultan Qalatun 1280-1290 (678-689 H). Secara umum Mamalik Burjiyah ber­asal dari kelompok Sirkasia di Kaukasus (Eropa Timur). Kendati kekuasaan Mama­lik di Mesir dan Siria dihancurkan Sultan Salim pada 1517 (922 H), tetapi kaum Ma­malik Burjiyah tetap memegang peranan militer penting di Mesir hingga Muham­mad Ali mengadakan pembersihan pada 1811 (1226 H). Di samping itu terdapat perbedaan penting di antara dua periode tersebut berkenaan dengan masalah suk­sesi: Mamalik Bahriyah cenderung meng­anut dasar suksesi kekeluargaan; sedang­kan Burjiyah secara umum menolak suk­sesi lewat keturunan.

Daulat Mamalik menempati posisi pen­ting dalam perkembangan sejarah Islam. Pada awal berdirinya, kekuatan Mamalik berhasil menahan serangan Mongol Tatar. Di bawah pimpinan Sultan Qutuz yang diplomatis dan taktis tentara Mamalik ber­hasil memukul persekutuan tentara Mo­ngol dan Armenia yang dikepalai Kitbu­gha di Ain Jalut, dekat Nablus pada 1260 (658 H). Dalam euforia kemenangan, Baibars mengambilalih pimpinan dengan menyingkirkan Qutuz. Baibars cepat me­manfaatkan situasi guna menumpas sisa­sisa kekuatan Ayyubi di Siria. Kemudian dibawanya al-Mustansir al-Abbasi ke Kairo dan dibai`at sebagai khalifah pada 1261

(659 H). Selama masa pemerintahannya di wilayah Mamalik telah dikembangkan sampai Sirenaika (Barqah) di barat, Nubia dan Hijaz di selatan dan Sisilia di utara. Sejumlah kantong-kantong tentara Salib di Levant dihancurkan, begitu juga dengan kelompok-kelompok Ismaili di Siria. Di samping itu, Baibars juga aktif dalam mem­bangun hubungan dagang dan persahabat­an dengan penguasa-penguasa besar, ter­masuk Aragon, Bizantium, Sisilia, Golden Horde, dan India. Dengan fondasi yang dicanangkan Baibars ini sultan-sultan Ma­malik terus memperkokoh diri. Memang pada masa pemerintahan Qalaun dan anaknya, Khalil, pertahanan terakhir ten­tara Salib di Tripoli dan Aker (Acre) ber­hasil dikuasai masing-masing pada 1289 (688 H) dan 1291 (690 H).

Sultan-sultan Mamalik memerintah se­cara efisien berkat kerjasama para amir yang bersatu dalam sebuah oligarki. Sultan dan para amir, yang juga Mamalik, mem­bangun pasukan budak pribadi: al-mama­lik as-sultaniyah, dan mamdlik al-uinard’. Hanya anggota al-manik as-sultaniyah saja lazimnya dipromosikan sebagai jende­ral dan perwira istana; tetapi mamalik al­umara’ pun pada giliran amir mereka men­jadi sultan akan dipromosikan juga. Di luar kelompok budak terdapat juga pa­sukan non-budak (hatigh) yang terdiri dari pelarian tentara Mongol (al-wafidi­yah) dan keturunan Mamalik. Sistem pe­ngambilan talon tentara yang berasal dari budak nonmuslim di bawah umur diatur sedemikian rupa sehingga loyalitas mereka betul terjamin. Para budak anak-anak ini dididik hanya menaati bos (khusydasy) masing-masing. Pada saat mereka telah memenuhi .persyaratan sebagai tentara yang mampu, loyal dan suka mengabdi barulah dianggap sebagai tentara muslim yang otomatis merdeka. Mereka mendapat­kan kuda, persenjataan, dan tanah (iqta’).

Selama dalam training, pertama mereka mendapatkan pelajaran agama Islam dan bahasa Arab; kemudian setelah cukup kuat barulah dididik dalam bidang kemili­teran. Dengan banyaknya amir yang me­miliki pasukan pribadi, maka sultan yang berkuasa tidak bisa begitu saja menge­nyampingkan mereka. Modus vivendi yang labil dan rumit ini dapat dilihat, umpama­nya, dalam pergantian sultan yang begitu cepat pada 1309 (708 H), 1342 (743 H), dan 1421 (824 H); atau berkuasanya se­orang sultan dalam periode yang terpisah, misalnya an-Nasir Muhammad, an-Nasir Hasan, as-Salih Hajji, az-Zahir Barquq, dan an-Nasir Faraj.

Selama pemerintahan sultan Mamalik yang berjumlah lebih 45 Mesir, khususnya Kairo, telah menjadi pusat terpenting bagi perkembangan kebudayaan Islam dengan bahasa Arab sebagai basis. (Irak dan Per­sia yang dikuasai Mongol dan lainnya me­ngembangkan budaya Islam yang sangat diwarnai Persia). Posisi ini kelihatannya terus dinikmati Kairo sampai zaman mo­dern. Di zaman Mamalik “Kairo” meng­hasilkan penulis-penulis terkenal seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun,

dan as-Suyuti. Juga, Kairo menyaksikan perkembangan ekonomi yang pada giliran­nya menopang kemajuan seni-budaya ter­utama seni-bangun, keramik, ukir-ukiran dan kerajinan. Bangunan mesjid, madra­sah, klinik, makam dan istana yang didiri­kan penguasa Mamalik menjadi saksi kon­krit hingga kini. Karenanya tak menghe­rankan apabila keindahan seni arsitektur Mamalik yang berlatar belakang kemegah­an kolosal tetap dikagumi. Perdagangan internasional terutama antara Laut Te­ngah dan Samudera Hindia yang terus di­galakkan penguasa Mamalik berperan be­sar dalam menyangga ekonomi kerajaan.

Bagaimanapun oligarki militer Mamalik mempunyai keterbatasan sewaktu meng­hadapi perubahan perimbangan kekuatan antarbangsa. Kedatangan Portugis ke Lautan Hindia sejak 1498 (903 H) telah sangat mengurangi peranan wilayah Ma­malik sebagai jalur perdagangan utama. Juga, solidaritas Mamalik yang mendatang­kan kekuatan dan keberanian rupanya menjadikan mereka konservatif, menolak pengembangan pemakaian senjata api se­cara besar-besaran. Pada pihak lain keraja­an Usmani yang terus berkembang dan bahkan mengancam Mamalik telah me­manfaatkan keampuhan senjata api. Da-lam situasi yang demikian serangan pasu­kan Sultan Salim ke Siria dan kemudian Mesir pada 1516-1517 (922-923 H) ten­tu sulit untuk dibendung, sebagaimana ditandai dengan kekalahan fatal pasukan dua sultan Mamalik terakhir: Gauri di Aleppo dan Tuman Bei di Kairo.

 

Advertisement