Advertisement

al-Maqdisi, (Syamsuddin Abu Abdul­lah Muhammad Ibnu Ahmad ibnu Abi Bakar), yang lebih dikenal dengan panggil­an al-Basysyari adalah seorang pengarang dan penulis geografi yang paling berharga dalam literatur Arab. Bentuk namanya, al-Muqaddasi, yang menunjukkan daerah asalnya, Jerusalem, melekat padanya ka­rena jasa Sprenger yang membawa manu­skrip tulisan al-Muqaddasi itu dari India ke Berlin, sehingga nama itu terkenal di Eropa. Sebenarnya, bentuk al-Maqdasi lebih tepat, karena mesjid di Jerusalem umumnya disebut Bait al-Maqdis. Yaqut selalu memanggilnya al-Basysyari.

Tanggal lahirnya tidak diketahui. Ha­nya saja, ketika di Mekah 966 (356 H), ia kira-kira berusia 20 tahun. Kakeknya, Abu Bakar al-Banna, adalah seorang arsi­tek di Palestina yang membuat pagar kota Aqqa untuk dipersembahkan kepada Ibnu Tulun. Keluarga ibunya berasal dari Biyar di Qumis, Jerusalem. Al-Maqdisi juga mempunyai pengetahuan arsitektur yang baik di samping pengetahuan umumnya yang luas. Karangan geografinya yang ter­kenal terdiri dari 2 manuskrip tua yang di­jadikan dasar edisi de Goeje dalam BGA III, Leiden 1877 dan edisi ulang 1906, yaitu manuskrip Berlin (B) dan Constan­tinopel CC). Yang pertama berjudulAtzsan at-Taqasim fi Ma`rifat al-Aqalinz, sedang­kan yang kedua hanya disebut Kitab al­AqaUrn. Yang pertama isinya lebih luas dari yang kedua yang kelihatannya cende­rung kepada Bani Fatimah di Mesir, se­dangkan yang kedua dipersembahkan ke­pada Abu al-Hasan Ali ibnu al-Hasan dari Bani Saman.

Advertisement

Penulisan dan isi karangan al-Maqdisi ini didasarkan atas tradisi penulisan geo­grafi seperti yang dilakukan oleh al-Bal­khi, al-Istakhri dan Ibnu Hauqal. Peta­peta yang terdapat dalam dua manuskrip tersebut kelihatan masih lebih sederhana dan peta-peta buatan al-Istakhri. Peta al-Maqdisi telah diterbitkan oleh. K. Mitler dalam Mappae Arabicae, vol. I—V, Stutt­gart 1926-1931. Sebagaimana yang dila­kukan oleh al-Istakhri dan Ibnu Hauqal, objeknya adalah dunia Islam abad ke-4/ 10. Pengupasannya dilakukan dengan membagi dunia Islam menjadi dunia Islam barat dan timur, kemudian masing-masing dibagi-bagi lagi menjadi wilayah-wilayah (aqalim). Dalam hal ini sama antara al­Maqdisi dan dua pengarang yang terda­hulu, hanya urutan pembahasannya saja yang berbeda ditambah dengan uraian yang umumnya lebih mendalam. Pembica­raan setiap wilayah diakhiri dengan perki­raan tentang jarak antara kota yang satu dengan yang lain. Sampai dimana al-Maq­disi terpengaruh oleh al-Istakhri dan Ibnu Hauqal masih dalam penelitian. Yang te­rang, pasal-pasal pendahuluannya tidak menunjukkan penganalisaan yang khas al­Maqdisi.

Bahasa al-Maqdisi kadang-kadang sulit dipahami, oleh karena ia menggunakan istilah-istilah yang terpakai di wilayah yang ia uraikan, padahal pengertian-pe­ngertian yang sama, dapat berbeda istilah­istilahnya karena perbedaan wilayah. Oleh karena itu, membaca karya al-Maqdisi ini terasa membosankan.

Advertisement