Advertisement

Tekanan Akar, Bila batang tumbuhan yang tumbuh baik dipotong pada pangkalnya dekat permukaan tanah, air dalam jumlah banyak akan tampak keluar dari tunggul-tunggulnya. Pengeluaran air ini, atau kadang-kadang disebut “perdarahan”, mungkin berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Kekuatan yang menyebabkan pengeluaran air dari permukaan yang dipotong disebut tekanan akar, karena tekanan tersebut merupakan hasil dari berlangsungnya suatu mekanisme yang terdapat dalam akar. Jika manometer air raksa ditempelkan pada tunggul yang sedang mengeluarkan cairan (  11.6), atau pada alternatif lain ditempelkan pada akar yang dipotong dari sebatang tumbuhan yang ditumbuhkan dalam suatu medium agar yang steril, dalam manometer tersebut sebuah kolom cairan akan naik dan tekanannya dapat diukur. Tekanan akar yang pernah dicatat jarang melebihi 2 bar, meskipun nilai sampai 7 bar pernah diperoleh pada akar tomat (Lysopersicon esculentum). Tekanan akar dianggap sebagai suatu gejala osmosis yang bergantung pada cairan dalam xilem yang mempunyai potensial osmosis lebih negatif daripada yang terdapat dalam larutan tanah, dengan jaringan akar di antaranya berfungsi sebagai selaput setengah tembus (semi-permeabel). Inter-pretasi ini didukung kenyataan bahwa tekanan akar tidak akan berkembang bila akar disiram dengan larutan yang mempunyai potensial osmosis sama dengan atau lebih kecil daripada potensial osmosis cairan dalam xilem. Meskipun demikian, kegiatan metabolisme yang sinambung yang dilakukan oleh sel-sel hidup dalam akar diperlukan untuk mempertahankan tekanan akar. Ini semua dipengaruhi kuat sekali oleh beberapa faktor seperti penyediaan oksigen dan penghambat pernapasan yang mempunyai efek lebih cepat terhadap pernapasan daripada terhadap permeabilitas jaringan dalam sel-sel hidup. Tampaknya sel-sel hidup dalam akar, dengan memanfaatkan energi yang dikeluarkan selama proses pernapasan, mengeluarkan zat-zat terlarut (solute) ke dalam xilem sehingga dengan demikian dapat mempertahankan potensial osmosis cairan meskipun air secara terus-menerus melewatinya.

Meskipun tidak diragukan lagi bahwa tekanan akar mampu mengembangkan tekanan positif dalam xilem, ada beberapa alasan mengapa tekanan akar ini tidak merupakan mekanisme utama dalam proses penaikan cairan dalam tumbuhan, terutama dalam pohon-pohon tinggi. (1) Banyak tumbuhan, khususnya sebagian besar konifer (pohon-pohon berdaun jarum) yang di antaranya merupakan pohon-pohon tertinggi, tidak menunjukkan gejala tersebut. (2) Laju gerakan air yang disebabkan oleh tekanan akar terlalu lambat untuk dapat mengganti kehilangan yang disebabkan oleh transpirasi. Memang sering kali tekanan negatif dapat dicatat dalam batang-batang tumbuhan yang sedang bertranspirasi dengan cepat; tekanan negatif seperti itu tidak akan ada bila cairan didorong dari bawah. (3) Tekanan akar terjadi secara musiman, tetapi musim terjadinya tekanan tersebut dengan jelas lazim bertepatan dengan musim ketika laju gerakan cairan terendah. Misalnya pada pohon-pohon yang mempunyai pertumbuhan “serentak” setahun sekali, tekanan akar mencapai nilai maksimum tepat sebelum, dan bukannya bersamaan dengan, waktu gerakan cairan ke atas yang cepat seiring dengan produksi daun-daun baru.

Advertisement

Sementara tekanan akar mungkin berperan sebagian dalam pengangkutan air pada beberapa jenis tanaman selama musim-musim tertentu, sebagian besar fisiologiwan cende-rung untuk menganggap gejala ini sebagai konsekuensi langsung kegiatan metabolisme oleh sel-sel hidup dalam akar. Oleh karena itu, penjelasan mengenai penaikan cairan tampaknya memerlukan suatu mekanisme yang dapat menarik air ke atas.

 

Advertisement