Advertisement

ABSORPSI AIR, Meskipun tumbuhan lazim memperoleh keperluan airnya dari tanah, air dalam tanah ada dalam berbagai kondisi yang tidak selalu tersedia bagi tumbuhan. Karena itu, masalah absorpsi melibatkan pertimbangan mengenai hubungan air dengan tanah.

Hubungan antara Tanah dan Air, Dalam semua tanah kerangka partikel mineral dirembesi oleh sistem rongga yang kompleks, yaitu rongga tanah, yang ukurannya bermacam-macam. Rongga ini menduduki sekitar 30 persen volume tanah dalam tanah berpasir sampai sekitar 50 persen dalam tanah liat, dan dapat dianggap sebagai tempat penyimpanan air yang secara berganti-ganti diisi dan dikosongkan. Sampai kira-kira 50 tahun yang lalu diperkirakan bahwa bila air berkurang pada lapisan atas tanah, air akan diganti oleh air kapiler dari lapisan bawah yang lembap. Tetapi sekarang diketahui bahwa penaikan kapiler dari air hanya terbatas sampai 1 m dan laju gerakannya sangat lambat. Ini berarti bahwa air tanah hanya akan tersedia bagi tumbuhan bila rongga-rongga itu ditumbuhi akar.

Advertisement

Bila hujan jatuh pada tanah kering yang baik drainasenya, bidang air meresap ke dalam tanah sampai suatu kedalaman yang bergantung kepada banyaknya air hujan yang jatuh per satuan luas dan tipe tanah. Setelah beberapa hari, gerakan air ke bawah akan terhenti dan akan terbentuk batas yang relatif tajam antara lapisan bagian atas yang lembap merata dan tanah kering di bagian bawah. Dalam tanah yang kelembapannya merata, air, mengisi rongga-rongga kecil dan ditahan oleh kekuatan kapiler dan tegangan permukaan. Di sini air membentuk lapisan (film) tipis pada permukaan partikelpartikel yang mengelilingi rongga-rongga besar. Air ini disebut air kapiler (  11.10). Terpisah dari lapisan tipis pada permukaan partikel-partikel tanah di sekelilingnya, rongga-rongga lebih besar terutama terisi udara karena air mengalir ke luar dengan cepat sebagai akibat dari pengaruh gaya tarik bumi. Air kapiler, seperti halnya air gravitasi (air yang mengalir karena pengaruh gravitasi atau gaya tarik bumi), tersedia bebas bagi tumbuhan, tetapi jika habis maka ada air tersisa yang diadsorpsi oleh partikel-partikel koloid humus dan tanah liat. Air ini, yang disebut air higroskopik atau air terikat, erat diikat oleh kekuatan fisik dan tidak tersedia bagi tumbuhan.

Atas dasar kondisi air yang ada dalam tanah, dapat disusun dua buah indeks yang menyatakan persentase air yang tersedia dalam tanah tertentu bagi perkembangan tumbuhan. Kedua indeks tersebut adalah kapasitas lapang dan persentase layu. Tanah dikatakan ada dalam kapasitas lapang bila tanah itu mengandung air kapiler dalam jumlah maksimum, yaitu jumlah maksimum yang dapat dipertahankan melawan gravitasi. Dalam kondisi seperti itu wadah penampungan air penuh meskipun rongga-rongga besar sebagian besar terisi udara yang menyediakan oksigen bagi respirasi akar-akar tumbuhan. J adi dalam keadaan kapasitas lapang tanah berudara baik, meskipun lembap merata. Oleh karena itu, tanah yang ada dalam atau mendekati keadaan kapasitas lapang adalah tanah yang paling baik untuk pertumbuhan sebagian besar jenis tumbuhan.

Persentase layu adalah persentase air dalam tanah yang tidak dapat diambil oleh akar-akar tumbuhan. Indeks ini diukur dengan menumbuhkan sebatang tumbuhan pada contoh tanah yang ditaruh dalam pot kedap air sampai tumbuhan mulai menjadi layu secara permanen (yaitu tumbuhan tidak dapat menjadi segar lagi dalam satu malam setelah menjadi layu pada hari sebeluinnya). Kandungan air dalam tanah pada persentase layu berbeda-beda dari tanah yang satu ke tanah yang lain dan berkisar antara kurang dari 5 persen dalam tanah kasar berpasir sampai kira-kira 20 persen dalam tanah liat yang halus. Persentase layu tanah dapat ditentukan dengan agak tepat dan nilai yang diperoleh hampir sama tanpa memandang jenis tumbuhan yang dipakai untuk penentuan.

Dari apa yang telah dikemukakan mengenai kekuatankekuatan untuk mempertahankan air dalam tanah akan jelas bahwa sewaktu tanah mengering potensial air dalam larutan tanah akan berkurang sehingga absorpsi menjadi lebih sukar. Nilai dalam tanah yang tergenang air sebenarnya nol, dalam keadaan kapasitas lapang kurang dari 1 bar, dan pada persentase layu rata-rata sekitar 15 bar (  11.11). Bila kandungan air dalam tanah menurun di bawah persentase layu, potensial air menurun dengan cepat dan segera mencapai nilai minus beberapa ratus bar. Namun, tanpa memandang macam tanah atau macam tumbuhan, tumbuhan tidak dapat mengambil air dari partikel-partikel- tanah jika suatu tekanan lebih dari 15 bar diperlukan untuk melepaskannya. Tahap kritis ini, yang bertepatan dengan persentase layu, dicapai p.ada kandungan air lebih tinggi pada tanah liat daripada dalam tanah berpasir, karena tanah liat dapat menahan lebih banyak air dalam keadaan terikat yang tidak tersedia bagi tumbuhan. Tumbuhan mungkin dapat mengabsorbsi air dari tanah berpasir yang mengandung 10 persen air, tetapi tidak dari tanah liat dengan kandungan air yang sama.

Advertisement