Advertisement

1. Proses belajar operant

Seorang pengikut Watson, B.F. Skinner (1953) sependapat dengan Watson bahwa perilaku manusia selalu dikendalikan oleh faktor luar (faktor lingkungan, rangsang atau Ia mengatakan bahwa dengan memberikan ganjaran positif (positive reinforcement), suatu perilaku akan ditumbuhkan dan dikembangkan, sedangkan jika diberikan ganjaran negatif (negative reinforcement), suatu perilaku akan dihambat.

Advertisement

Anak yang buang air di celana, misalnya, selalu mendapat marah dari ibunya (ganjaran negatif). Sebaliknya, jika ia mengatakan dahulu kepada- ibunya bahwa ia akah buang air, sehingga ibu dapat membawanya ke WC, anak itu akah dipuji

dan disanjung ibunya (ganjaran positif). Lama-kelamaan anak itu belajar buang air di WC saja, bukan di sembarang tempat. Di pihak lain, jika anak itu mengatakan bahwa ia ingin buang air, padahal ia tidak sakit perut, ibunya juga akan memarahinya karena setelah repot-repot mendudukkannya di WC, anak itu tidak mau buang air. Dengan demikian, anak itu belajar bahwa ia hanya boleh mengatakan “mau buang air” jika sakit perut. Proses belajar seperti ini oleh Skinner dinamakan proses belajar operant.

Dalam contoh kutipan di awal bab ini, protes dari Uskup dan aktivis LSM serta bantahan dari Pangab dan Dirut Freeport adalah juga hasil proses belajar.

Tanpa adanya pelanggaran HAM (atau yang dianggap sebagai pelanggaran HAM), tidak ada protes (sebab tidak menghasilkan ganjaran apa pun). Sebaliknya, jika tidak ada protes juga tidak ada bantahan. Dalam istilah Skinner, rasa sakit perut pada anak (ingin buang air) adalah stimulus diskriminan yang merangsang timbulnya perilaku bicara “mau buang air”, sedangkan pelanggaran HAM adalah stimulus diskriminan pada protes dan protes, adalah stimulus diskriminan pada bantahan.

Perbedaan antara proses belajar klasik dan proses belajar operant adalah adanya stimulus diskriminan tersebut yaitu yang membedakan antara kondisi di mana suatu perilaku akan berhasil secara efektif dan kondisi di mana perilaku tidak akan efektif.

Teori tentang belajar atau proses kondisioning operant dikembangkan oleh Skinner dari eksperimennya dengan tikus. Tikus dilatih melalui proses kondisioning klasik untuk menekan sebuah tuas jika ia mau makanan. Jika tuas ditekan, makanan keluar dari sebuah lubang. Setelah tikus mampu menekan tuas setiap kali ia menginginkan makanan, Skinner mengkondisikannya lagi dengan lampu. Kali ini hanya jika lampu menyala, tuas itu dapat menghasilkan makanan jika ditekan. Kalau tidak ada lampu, tuas tidakmendatangkan apa pun, walaupun ditekan-tekan. Lama-kelamaan tikus belajar untuk menekan tuas hanya jika lampu menyala. Nyala lampu tersebut dinamakan rangsang diskriminan (pembeda), yaitu yang membedakan antara keadaan di mana ada ganjaran dan

tidak ada ganjaran. a Contoh lain dari sti diskriminan dalam kehidupan sehari- hari adalah dering telepon untuk mengangkat gagang telepon, lampu merah untuk menghentikan kendaraan, wajah ibu yang ceria untuk minta uang jajan, pintu komandan yang terbuka untuk seorang anak buah melapor, dan sebagainya. Asosiasi antara stimulus diskriminan dan kehadiran ganjaran negatif atau positif sangat tergantung pengalaman masa lalu orang yang bersangkutan. Dengan demikian, faktor masa lalu (antecedent) sangat penting pada teori belajar dari Skinner. Ini pun membedakannya dari Pavlov dan Watson yang hanya menekankan pada hubungan sesaat antara rangsang dan reaksi perilakunya.

 

2. Proses belajar sosial

Tokoh lain yang berorientasi ke lingkungan adalah Albert Bandura (karya-karyanya dipublikasikan sekitar tahun 1977 dan 1986). Akan tetapi, berbeda dari Skinner yang sama sekali mengingkari faktor kesadaran (kognitif), Bandura berpendapat bahwa faktor kesadaran sangat penting. Jadi, sumber penyebab perilaku bukan hanya eksternal (faktor lingkungan), tetapi juga internal (faktor kognitif).

Untuk mengukuhkan pendapatnya, Bandura melakukan eksperimen yang dinamakan “belajar tanpa mencoba” (no-trial learning). Dalam eksperimen yang dilakukannya pada tahun 1965 ini, Bandura menggunakan anak-anak sebagai subjeknya. Ariak-anak itii dibagi dalam tiga kelompok dan semuanya diperlihatkan sebuah film yang menggambarkan adegan seorang dewasa yang sedangberperilaku agresif terhadap sebuah boneka badut terbuat dari karet yang bernama Bo-bo. Boneka Bo-bo itu dipukuli dengan palu, kemudian dibanting, sambil pelakunya berteriak-teriak dan menjerit-jerit kepada si boneka. Setelah film singkat tersebut, kelompok anak yang pertama ditunjukkan lagi sebuah film tentang pelaku tersebut (tokoh model) yang sedang diberi permen dan minuman ringan oleh seorang lain. Kelompok kedua diperlihatkan film yang menggambarkan model tersebut sedang dihukum (dipukuli) oleh seorang dewasa lain, sedangkan kelompok ketiga tidak diperlihatkan apa pun setelah penayangan film Bo-bo tersebut. Tahap berikutnya, anak ditinggalkan sendiri bersama sebuah boneka Bo-bo. Bandura mengamati perilaku anak tersebut dari kaca searah yang ditempatkan di dinding ruangan. Ternyata, anak-anak dari kelompok pertama dan ketiga, segera menirukan perilaku model dalam film, yaitu memukuli dan membanting Bo-bo seraya berteriak-teriak. Sedangkan kelompok kedua, tidak melakukan apa-apa.

Jelaslah di sini bahwa anak dapat bereaksi menirukan model, walaupun ia tidak mengalami sendiri peristiwa tersebut. Subjek dari kelompok kedua tidak melakukan tindakan agresif pada Bo-bo karena khawatir ia sendiri akan mengalami hukuman tersebut, walaupun dalam kenyataannya ia tidak pernah mengalami sendiri hukuman tersebut. Akan tetapi, bukan berarti bahwa kelompok kedua yang tidak melakukan perilaku agresif itu sama sekali tidak belajar sesuatu dari yang dilihatnya. Ketika ketiga kelompok itu diminta untuk mengulangi segala sesuatu yang dilihatnya dalam film, kali ini dengan cara memberi permen kepada semua kelompok, ketiga kelompok dapat melakukannya dengan rinci, termasuk kelompok dua. Dengan demikian, jelaslah bahwa tidak melakukan sesuatu bukan berarti tidak mempelajari sesuatu.

Dari eksperimen tersebut Bandura telah membuktikan bahwa proses belajar tidak hanya tergantung pada faktor lingkungan, tetapi jug?, pada faktor kognitif.

Penerapan dari teori Bandura tersebut antara lain terlihat dalam proses belajar sosial. Seorang anak kecil mula-mula memperhatikan ayahnya menyikat gigi, kemudian ia ingin ikut- ikutan menyikat gigi. Proses peniruan terjadi secara motorik (gerak nyata). Pada tahap berikutnya, ketika anak menjelang sekolah di taman kanak-kanak, orang tua dapat mengarah- kannya dengan kata-kata (melalui media lisan). Akhirnya, anak itu mengembangkan keteraturan dan ukuran-ukuran baku sendiri (misalnya; selalu bangun pukul 06.00, langsung menggosok gigi, mandi, sarapan, sekolah, dan seterusnya). Jika anak dapat memenuhi ukuran-ukuran baku yang dikembangkan- nya sendiri itu, maka timbul kepuasan dan kepercayaan diri

efficacy).Sampai dewasa pun ukuran baku untuk diri sendiri ini sangat penting untuk menentukan prestasi seseorang. Murid yang dapat mengerjakan matematika adalah murid yang berpikir (kognitif) bahwa ia dapat memahami matematika, orang yang bisa berhenti merokok adalah orang yang berpikir bahwa ia bisa berhenti merokok dan seterusnya. Selama ukuran bakunya adalah ia tidak dapat (tidak dapat mengerjakan matematika, tidak dapat berhenti merokok), maka sampai kapan pun orang itu tidak akan dapat mengerjakan matematika atau berhenti merokok.

 

3. Kerja sama dengan individu yang lebih mahir

Seorang psikolog Rusia bernama Lev Vygotsky berpendapat bahwa proses belajar sosial juga dapat terjadi dengan bekerja sama dengan orang yang lebih mahir (orang tua, kakak, guru, dan sebagainya).

Proses belajar yang terarah ini lebih cepat karena anak dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu.

Advertisement