CARA KERJA DAN PENGERTIAN PESAWAT LAYANG

adsense-fallback

CARA KERJA DAN PENGERTIAN PESAWAT LAYANG – Atau glider, adalah jenis pe sawat terbang tanpa mesin. Agar dapat mengangkasa pesawat layang harus ditarik lebih dulu oleh pesawat terbang bermesin, mobil atau derek stasioner, hingga mencapai ketinggian 300 sampai 600 meter. Bila alir­an udara cukup baik dan pilotnya pandai mencari alir­an udara yang menguntungkan, pesawat layang dapat menempuh jarak ratusan kilometer.

adsense-fallback

Karena permukaan bentang sayap sangat luas, ber­hambatan kecil, serta tak bermesin, glider dapat me­layang turun lebih pelan dibanding kapal terbang bia­sa. Ketika mendarat, glider meluncur dan bertumpu pada satu roda di bagian bawah badannya. Selain membantu pengereman, papan peluncur yang berada di depan roda juga melindungi badan glider dari ge­sekan.

Cara pengendalian glider mirip dengan cara pe­ngendalian pesawat terbang. Pilot menggerakkan tongkat dan pedal untuk mengoperasikan elevator, ke­mudi, dan aileron yang akan menyebabkan glider naik, turun, atau berputar. Karena pesawat itu tidak memiliki mesin, untuk dapat tetap berada di udara, pilot harus memanfaatkan arus udara naik untuk me­nambah ketinggian terbang. Bila tidak, glider akan te­rus melayang turun.

Arus naik termal dapat terjadi karena permukaan tanah yang tidak rata. Umumnya permukaan lapangan terbuka lebih panas daripada hutan. Udara panas ini bobotnya lebih ringan dan secara berkala mengalir naik. Selain itu, arus naik juga terjadi karena adanya aliran udara yang lewat di atas pegunungan, atau di tempat bertemunya dua massa udara yang berbeda, panas dan dingin. Di dalam arus termal, pesawat la­yang dapat menambah ketinggiannya. Indikasi yang menunjukkan adanya arus udara naik adalah bertambahnya gumpalan awan kumulus. Pilot pesa­wat layang harus mengarahkan pesawatnya menuju awan tersebut karena kemungkinan besar ia akan mendapatkan arus termal di tempat itu. Awan gulung­an besar yang mengawali terjadinya badai adalah je­nis awan kumulus besar. Di dalam dan df bawah awan ini terdapat arus naik yang kuat sekali. Jenis awan ini sangat berbahaya bagi pilot pesawat layang yang ti­dak berpengalaman.

Penciptaan.

Pesawat layang tercipta ketika manu­sia mulai berupaya untuk terbang. Bisa dikatakan, pe­sawat layang merupakan langkah awal menuju tercip- tanya pesawat terbang bermesin. Sir George Cayley, seorang warga Inggris, pada tahun 1809 berhasil membuat pesawat layang dengan ukuran sebenarnya. Dan pada tahun 1853 ia berhasil mengudarakannya dengan melintasi sebuah lembah. Teknik pelemparan pesawat layang ke udara dengan tarikan motor dite­mukan pertama kali pada tahun 1897 oleh ahli teknik Skotlandia, Percy S. Pilcher. Setelah Wright bersau- mengadakan percobaan dengan glider di Carolina Utara, Amerika Serikat, pada tahun 1902, pem­buatan pesawat layang mulai dilupakan orang karena pada saat itu perhatian orang beralih untuk menciptakan pesawat terbang bermesin.

Terbang layang kembali diusik di Jerman setelah berakhirnya Perang Dunia I, tahun 1918. Akibat keka­lahannya dalam Perang Dunia I, diadakannya Perjan­jian Versailles menghalangi Jerman mengembangkan pesawat terbang bermesin. Akibatnya, beberapa ahli teknik bangsa Jerman kembali lagi mengutak-atik pembuatan pesawat layang. Hingga tahun 1928 Jer­man berhasil membuat pesawat-pesawat layang yang handal. Selama Perang Dunia II glider-glider besar yang ditarik pesawat terbang bermesin digunakan se­bagai alat transportasi prajurit-prajurit dan artileri. Dalam invasinya ke Belgia pada tahun 1940, Jerman menjadi negara pertama yang menyertakan pesawat layang dalam operasi militer. Saat ini, terbang layang sudah menjadi olahraga kompetisi. Yang sering di­lombakan adalah kecepatan waktu tempuh dan jarak tempuh maksimal.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback