CARA BERMAIN TINJU

adsense-fallback

Cabang olahraga yang dalam permainannya dilakukan oleh dua orang. Cabang olahraga ini hanya diperuntukkan bagi atlet putra. Dua petinju saling ^rhad; )an di dalam gelanggang yang dibatasi oleh (ali tambang. Senjata yang dipergunakan hanyalah j,epalan bersarung, sedangkan pertahanan berupa ^nghalangi pukulan lawan dengan kepalan, dengan iengan, atau dengan menghindarkan diri. Petinju menang dengan angka, atau karena lawannya KO knocked out), atau TKO (technical knocked-out). Di- j.enal adu tinju profesional dan adu tinju amatir.

adsense-fallback

petinju yang pertama terkenal adalah seorang berkebangsaan Yunani bernama Theagenes dari Tha- oS yang menjadi juara pada Olympic Games tahun 450. Ia lelakukan pertandingan sebanyak 1.406 kali dengan menggunakan cestus atau sarung tinju yang terbuat dari besi. Sebagian besar penantang yang bertinju dengan Theagenes mengalami nasib malang tewas di ujung kepalan Theagenes.

Orang pertama yang mengangkat olahraga tinju untuk dipertandingkan dan menjadi salah satu cabang olahraga yang sangat populer adalah James Pigg. Ia mulai memperkenalkan bentuk pertandingan tinju di atas ring pada tahun 1718 di Inggris, dan meraih gelar juara tinju Britania Raya. Namun ketika itu dalam pertandingan tinju kepalan tangan tidak terbungkus sarung tinju.

Orang pertama yang memakai sarung tinju dalam pertandingan adalah James Broughton, seorang juara tinju Britania Raya setelah Pigg. James Broughton, selain sebagai orang pertama yang memakai sarung tinju, juga merupakan orang pertama yang menyusun dan memperkenalkan peraturan-peraturan pertandingan tinju yang dikenal dengan nama “London Prize Ring Code”. Peraturan dan sarung tinju diperkenalkan J;; mes Broughton pertama kali pada tanggal 14 Agustu: .743.

James Broughton membuka suatu akademi dan untuk melindungi murid-muridnya dari patah rahang, memar di mata, dsb. diciptakanlah sarung-sarung. Tindakan James Broughton ini merupakan kelanjutan dari dilarangnya tinju profesional pada tanggal 14 April 1743 oleh pemerintah Inggris. Pelarangan ini dikeluarkan melalui suatu undang-undang yang disahkan oleh Parlemen Inggris, dan merupakan tindak hukum pertama terhadap kegiatan tersebut.

John Sholte Douglas yang menjadi Marquis of Queensberry di tahun 1858 dan meninggal pada tahun 1900 adalah salah seorang yang harus dikenal dalam sejarah dunia tinju modern. Dialah yang memperkenalkan peraturan tinju yang lebih dikenal dengan nama “Marquis of Queensberry Rales”, sebagai pengganti “London Prize Ring Code”.

Menurut ketentuan Marquis of Queensberry Rules yang diperkenalkan tahun 1867, satu ronde (babak) Samanya 3 menit, dan waktu istirahat lamanya 1 menit. Peraturan pertandingan tinju ini disusun dan di- ciptakan oleh John Graham Chamber. Marquis hanyalah sponsor penyusunan peraturan itu.

Chambers adalah anggota Amateur Athletic Club, dan sebagaimana lazimnya pada waktu itu ia mencari pelindung untuk dipinjam namanya. Marquis of Queensberry menyetujui permohonan John Graham Ambers, dan peraturan pertandingan tinju inilah yang merupakan dasar dari Peraturan Pertandingan

Tinju Modern, yang dikenal dengan nama The Marquis of Queensberry Rules.

Meskipun sering disebut ring (lingkaran), gelanggang tinju berbentuk panggung bujur sangkar, dengan sisi 5,5 – 7 meter. Di luar tambang masih ada lantai 0,5 – 1,0 meter. Berat sarung tinju 225 gram (amatir: 225 – 340 gram), petinju bertelanjang dada, dan bersepatu kulit dengan sol tinggi dan lunak. Di balik celana pendeknya terdapat cawat pelindung. Tangan dan pergelangannya juga dilindungi dengan kain kasa dan pita perekat. Gigi dan mulutnya dilindungi dengan sepotong karet. Petinju amatir juga mengenakan semacam helm.

Pada awal tiap ronde dan juga untuk istirahat, petinju berada dalam sudut masing-masing. Mereka dapat duduk di atas dingklik (stool), yang disingkirkan ketika ronde berlangsung. Dua sudut yang lain disebut sudut netral. Awal dan akhir tiap ronde ditandai dengan bunyi bel. Satu ronde berlangsung 3 menit (amatir: 2 menit), dan waktu istirahat 1 menit. Pertandingan dapat terdiri atas 4, 6, 8, 10, 12, dan 15 ronde (amatir: 3 ronde).

Petinju dikatakan jatuh (down), apabila ada ang-gota badan (kecuali telapak kaki) yang menyentuh lantai. Wasit akan menghitung berapa lama petinju jatuh. Untuk itu ia memerintahkan lawan petinju itu menyingkir ke salah satu sudut netral, (dan tetap berada di situ sampai diperintahkan lain), kemudian mulai dengan hitungannya, yang berselang 1 detik. Seorang petinju dikatakan KO apabila setelah 10 hitungan ia belum sanggup bangkit. Selain bila jatuh, petinju juga akan dikenai hitungan apabila bersandar lemas pada tambang, atau keluar dari gelanggang. Apabila wasit menganggap seorang petinju tidak dapat meneruskan perlawanannya, ia dapat dinyatakan kalah TKO. Pertandingan juga dapat dihentikan oleh wasit karena alasan lain, misalnya atas nasihat dokter pertandingan. Kekalahan semacam ini lazim disebut kalah RSC (referee stops the contest).

Apabila sampai akhir ronde yang direncanakan belum, ada petinju yang KO, petinju dimenangkan atas dasar angka yang diberikan oleh juri. Juri ini biasanya terdiri atas tiga orang. Yang dinilai juri adalah: banyaknya pukulan efektif dan bersih, serta pertahanan yang terampil. Kecurangan yang mengurangi nilai adalah: meninju di bawah sabuk, memukul ketika lawannya roboh atau sedang bangkit, mendengkul, menyiku, menanduk, memukul dengan kepalan terbuka, memukul pinggang (ketika berdekapan, clinch), memukul leher bagian belakang, dan beberapa tindakan lagi. Bila seorang petinju berkali-kali melakukan kecurangan, ia dapat dinyatakan kalah karena diskualifikasi.

Ada beberapa istilah untuk serangan dan pertahanan. Hook ialah pukulan pendek dengan lengan tertekuk (mirip kait), uppercut pukulan dengan tangan dari bawah ke atas pada jarak pendek, jab pukulan lurus ke depan yang diperkuat oleh dorongan kaki yang berada di belakang (dalam hal jab kiri, kaki yang di belakang adalah kaki kanan), dan cross adalah pukulan panjang atau pendek, yang menyilang lengan lawan. Pukulan terakhir ini kadang disebut swing (ayunan). Istilah pertahanan: tangkisan (parrying, membelokkan pukulan lawan, dapat dengan kepalan terbuka), merunduk (ducking), blokade, dan menghindar.

Masing-masing petinju dapat dibantu oleh tiga orang. Namun ketika ronde berlangsung, di atas panggung hanya hadir satu wasit di samping kedua petinju itu. Juri berada di dekat panggung.

/Petinju diadu bila bobotnya seimbang. Dikenal kelas? terbang (bobot maksimum profesional: 50,8 kilogram; amatir: 50,8 kilogram), bantam (bmp: 53,5; bma: 54,0), bulu (bmp: 57,2; bma: 56,7), ringan (bmp: 61,2; bma: 60,0), welter (bmp: 66,7; bma: 66,7), menengah (bmp: 72,6; bma: 74,8), berat-ringan (bmp: 79,4; bma: 80,7), berar(bmp dan bma:- tak-terbatas). Pada tinju amatir juga dikenal kelas welter-ringan (bma: 63,0) dan menengah-ringan (bma: 70,8).

Di Indonesia olahraga tinju masuk dan dipopulerkan oleh tentara Hindia Belanda atau KNIL (Konink- lijk Nederlands Indische Leger). Ring tinju yang pertama didirikan di Indonesia pada jaman kolonial itu masih ada hingga kini, yaitu ring tinju di Jasdam V Jaya serta Jasdam VII Diponegoro (Semarang).

Lebih-lebih dengan tampilnya petinju-petinju profesional yang disebut “kelompok modern” di mass media dunia, seperti Jack Dempsey, the “Manassa Mauler” tahun 1920, Joe Louis tahun 30-an, serta mulai munculnya nama-nama petinju dari Malaysia, Filipina, Hong Kong – seperti Joe Eagle, Johny Mor- tell, Tiger Dollah, Rio Gill, Louis Blanco — maka mulailah tinju dikenal di Jakarta.

Arena pertandingan tinju tahun 30-an, atau masa- masa awal perkembangan tinju di Indonesia, diadakan di Jakarta – atau Betawi ketika itu —yaitu di Varia Park (Krekot), Deca Park (sekarang sebelah utara Lapangan Monas).

Tinju di Indonesia berkembang dengan baik setelah beberapa atlet Indonesia, baik sebagai atlet tinju amatir maupun profesional, melejit meraih berbagai gelar juara di arena internasional sejak tahun 1970-an.

 

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback