Advertisement

Bunyi yang Sama bagi Dua Fonem dan Sebaliknya, Kegiatan seperti di atas memungkinkan kita menyusun segmen­tasi fonematis dari berbagai ujaran, artinya menetapkan berapa fonem yang membentuk suatu penanda, misalnya empat dalam puri dan peda, lima dalam putri. Orang tergoda untuk mengira bahwa kegiatan di atas dapat pula menetapkan fonem-fonem di dalam baha­sa, artinya sekali analisis semua penanda telah dilakukan, dapat di­bandingkan dengan segmen-segmen yang ada di dalam berbagai pe­nanda tadi dan menganggapnya sebagai percontohan dari fonem yang sama dengan segmen-segmen yang mirip dengannya, seperti pe­dalam peda yang mirip dengan pe- dalam peta. Dengan cara yang sa­ma ditentukan pula fonem yang sama In di dalam kata purl dan di dalam kata bara. Meskipun demikian, apabila peda dan peta telah didekatkan, didapati suatu kesamaan fisik dari apa yang diungkap­kan oleh ejaan sebagai pe- di dalam kedua kata itu, sehingga per­bedaan antara kedua penanda itu dapat dilokalisasi di tengah kata itu. Namun, belum disimpulkan bahwa peda dan peta, awalnya di­bentuk oleh fonem yang sama karena kita tahu bahwa kesamaan fisik tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan kesamaan kebahasaan; satu fonem yang sama dapat direalisasi secara berbeda sesuai dengan lingkungannya, dan satu bunyi yang sama, sesuai dengan lingkungan­nya, mungkin merupakan realisasi dari fonem yang berbeda. Dalam bahasa Dansk, misalnya, fonem /w/ direalisasi sebagai [E] dalam net cantik’, namun sebagai [a] dalam ret ‘benar’; bunyi [a] yang merupa­kan realisasi dari fonem /w/ dalam ret, adalah realisasi fonem /a/ dalam nat ‘malam’. Jadi, dapat dikatakan bahwa kesamaan fisik tidak menimbulkan kesamaan kebahasaan, di sini In dalam bahasa Dansk­lah yang dampaknya membuka artikulasi vokal yang bersentuhan de­ngannya. Memang bahasa Dansk secara fonologis membedakan empat tingkatan pembukaan vokal depan dan hal itu dapat terjadi karena sentuhan dengan /r/ atau di konteks yang lain. Fonem ber­dngkatan pembukaan yang pertama tidak dapat ditandai oleh tambernya, yang bervariasi di antara [i] dan [e] tergantung dari konteks, tetapi dari apa yang membedakannya dalam segala posisi, vokal de-pan yang lain harus diketahui pembukaan minimumnya. Demikian juga, yang membuat fonem /w/ adalah karena di bagian depan mu­lut terdapat dua fonem yang lebih tertutup daripadanya dan satu yang lebih terbuka, artinya yang bertingkatan pembukaan ketiga. Itulah yang membedakannya dari fonem-fonem lain, sedangkan rea­lisasinya bervariasi sesuai dengan konteks, dari [E.] sampai [a]. [E] dan [a] itu, di dalam konteksnya masing-masing, berada dalam hubungan yang sama dengan vokal yang lain.

 

Advertisement

Advertisement