Advertisement

Bentuk Linear dan Sifat Vokal, Jadi, bahasa mana pun diungkapkan dalam bentuk linear dari ujaran yang menampilkan apa yang sering kali disebut tuturan. Ben­tuk linear bahasa manusia pada dasarnya diturunkan oleh sifat vokal­nya: ujaran lisan harus terjadi dalam waktu dan harus ditangkap oleh indra pendengaran sebagai suatu urutan. Keadaannya sama sekali berbeda apabila komunikasi berupa gambar dan ditangkap oleh in­dra penglihat: memang pelukis melukiskan unsur-unsur lukisannya secara berurutan, namun penonton menangkap amanat lukisan ter­sebut sebagai suatu keutuhan, atau dengan menaruh perhatiannya se­cara berurutan pada unsur-unsur amanat. Ia dapat mengikuti urutan mana pun tanpa valensi amanat tersebut terganggu oleh sistem visual komunikasi, seperti yang tampak pada rambu-rambu lalu lintas, tidak linear, namun berdimensi dua. Sedangkan sifat linear ujaran terungkap dalam urutan monem-monem dan fonem-fonem. Di da­lam urutan tersebut, tempat fonem bernilai pembeda, sama seperti pilihan suatu fonem: tanda masuk /masuk/ mengandung fonem-fo­nem yang sama dengan kusam /kusam/, namun keduanya tak teran­cu. Keadaannya agak berbeda dalam hal satuan artikulasi pertama. Memang, pemburu membunuh harimau berarti sesuatu yang lain daripada harimau membunuh pemburu, namun tidak jarang terjadi bahwa sebuah tanda berpindah tempat di dalam suatu ujaran tanpa perubahan makna yang berarti: dia akan datang besok dan besok dia akan datang. Lagi pula cukup sering terjadi bahwa leksem diimbuhi morfem yang sambil menunjukkan fungsinya di dalam ujaran, arti­nya hubungannya dengan tanda lain, memungkinkan kesatuan yang dibentuknya berada pada berbagai posisi tanpa benar-benar meng­ganggu makna secara. keseluruhan. Contohnya adalah mengenai kata puerum, yang sebagaimana adanya ditandai sebagai objek oleh unsur -um, sehingga mungkin diletakkan sesudah atau sebelum kata kerja: puer-um uidet atau uidet puer-um.

Advertisement
Advertisement