Advertisement

Benang Sari dan Butir Serbuk Sari, Satu benang sari pada dasarnya tersusun atas 2 bagian, yaitu satu tangkai sari (filament), dan satu kepala sari (anther). Walaupun ada berbagai variasi dalam bagian-bagian kecilnya, sedikit sekali benang sari yang kedua bagiannya ini sulit dibedakan. Pada kebanyakan benang sari kepala sarinya terbagi dalam 2 belahan atau cuping kepala sari yang terletak pada kedua belah sisi penghubung ruang sari (connective), yaitu sambungan dari tangkai sari. Pada setiap cuping kepala sari terdapat 2 bagian ruangan membujur, yaitu kantung serbuk sari, dan letak dinding pemisah antara keduanya tampak dari luar berbentuk alur yang membujur secara vertikal di sisi cuping kepala sari (7.3). Menjelang waktu matang, kantung serbuk sari penuh dengan sel induk serbuk sari (= mikrospora). Setiap butir serbuk sari dibungkus oleh 2 lapis dinding, dinding dalam yang tipis tersusun atas selulosa, disebut intin, dan dinding luar yang tebal dan mengandung kutin, disebut eksin. Dinding sel biasanya memiliki satu atau lebih bagian (tingkap atau celah) yang tertutup lapisan eksin tipis sekali, dan melalui salah satu tingkap ini tabung serbuk sari kemudian akan muncul. Pada tumbuhan yang penyerbukannya dengan angin, eksin pada seluruh permukaan butir serbuk sari sama tebal, kecuali pada beberapa tingkap. Pada tumbuhan yang diserbuk serangga eksinnya berukir atau tertutup duri-duri berbagai pola yang kadang-kadang rapih sekali dan pola ini khas untuk satu jenis. Modifikasi ini dianggap membantu butir serbuk sari untuk menempel pada badan serangga atau pada kepala putik yang reseptif.

Jika butir serbuk sari matang, dinding pemisah antara kedua kantung serbuk sari pada setiap cuping kepala sari akan pecah, sehingga kepala sarinya menjadi beruang dua, dan butir-butir serbuk sari itu kemudian dilepaskan melalui celah membujur yang timbul sepanjang alur lateral yang menjadi tanda letaknya dinding pemisah asal (7.3b). Seperti halnya pelepasan spora secara paksa dari sporangium paku, pembebasan butir serbuk sari ini bergantung kepada tegangan jaringan yang disebabkan oleh mengeringnya jaringan itu. lapisan serabut mengering, dinding radialnya tertarik Lan dinding luar tangensialnya yang tidak menebal terlempar menjadi gulungan. Bagian permukaan dinding-dalam tangen-sial hampir tetap tidak berubah bentuknya, sebab sabuk “enebalan mengayu pada permukaan dinding ini membentuk mata jala (meshwork) yang mencegah pengerutan. Kohesi =tam isi sel dan adhesi isi sel dengan dinding menghalangi masuknya udara ke dalam sel. Dengan meningkatnya kekengan, ketegangan pada dinding radial makin meningkat sampai tegangan yang dihasilkannya menyebabkan sel-sel yang berdinding tipis robek sepanjang. alur masing-masing :aping kepala sari yang merupakan bagian yang lemah, dan akibatnya menggulunglah kepala sari. (7.3d dan f). Satu celah yang merenggang pada setiap sisi kepala sari memunculkan butir serbuk sari, yang kini bebas untuk diangkut ke kepala putik yang reseptif. Kebanyakan kepala sari membuka dengan jalan terbentuknya 2 celah membujur seperti di atas, tetapi ada pula cara pecah macam lain. Umpamanya beberapa kepala sari mempunyai pori ujung, dan melalui pori ini serbuk sari diperas ke luar; bentuk lainnya adalah kepala sari yang mempunyai penutup yang dapat terangkat seperti katup.

Advertisement

Pembentukan tetrad butir-butir serbuk sari melalui meiosis menandai awal generasi gametofit jantan. Pada awal pembentukannya sebutir serbuk sari memiliki sitoplasma yang pekat dan satu inti yang terletak di tengah-tengah. Segera setelah itu terbentuklah vakuola, sehingga inti terdorong ke satu sisi (7.4). Kemudian inti ini membelah diri menjacti satu sel vegetatif yang besar dan satu sel generatif yang jauh ebih kecil, yang kemudian membelah diri lagi menjadi 2 gamet jantan. Pembelahan yang terakhir ini dapat terlaksana sebelum pemencaran butir serbuk sari, atau lebih sering lagi selama perkecambahan butir serbuk sari di atas kepala putik yang reseptif. Gametofit jantan yang hanya terdiri atas 3 sel itu dengan demikian lebih tereduksi lagi daripada gametofit betina.

Pembuahan

Melalui berbagai macam cara (seperti oleh angin, air dan hewan) butir serbuk sari dipindahkan dari kepala sari pada satu benang sari ke kepala putik dari satu daun buah. Pemindahan ini disebut penyerbukan dan telah diuraikan di atas. Segera setelah diletakkan di atas kepala putik yang reseptif, tanpa memandang bagaimana caranya tiba di sana, butir serbuk sari itu harus berkecambah sebelum tiba di bakal biji yang terkurung di dalam bakal buah. Butir serbuk sari berkecambah dengan jalan mengeluarkan tabung serbuk sari yang tumbuh menembus jaringan tangkai putik dan tiba di rongga bakal buah. Inti vegetatifnya terletak dekat ujung tabung serbuk sari yang sedang tumbuh itu, diikuti oleh sel generatif. Ketika tabung sedang tumbuh menembus tangkai putik, sel generatif (jika belum membelah diri sebelum butir serbuk sari terpencar) akan membelah diri menjadi dua garnet jantan. Pada sebagian besar angiosperma tabung serbuk sari memasuki bakal biji melalui mikropil, tetapi pada beberapa jenis serbuk sari masuk melalui tangkai bakal biji. Setelab mencapai kantung embrio, ujung tabung serbuk sari mendesak masuk dan melepaskan isinya. Inti salah satu sel jantan berfusi dengan sel telur menjadi zigot, yaitu sel pertama clan* generasi sporofit berikutnya. Inti jantan lainnya berfusi dengan inti endosperma sekunder membentuk inti endosperma primer, yang pada tipe kantung embrio yang sedang diuraikan ini menjadi triploid. Inti ini lambat laun mengalami serangkaian pembelahan dan terbentuklah suatu jaringan yang dikenal sebagai endosperma. Jaringan ini menjadi kava akan hara dan mengelilingi embrio yang sedang berkembang. Keterlibatan kedua inti jantan pada proses fusi itu disebut t’mbuahan ganda. Sejauh dapat dinilai, mungkin hal ini dalam angiosperma, dan tak ada proses yang :tmikian terjadi pada kelompok tumbuhan lainnya. Sulit

keuntungan apa yang dapat diperoleh dengan adanya pembuahan ganda itu pada angiosperma, selain suatu spekulasi bahwa karena endosperma berisi komponen genetika jantan an betina, mungkin sedikit banyak endosperma ini memerikan lingkungan yang lebih cocok bagi embrio (yang juga memiliki komponen genetika yang sama) daripada endosperma yang tidak memiliki komponen jantan, seperti pada protalus betina dari gimnosperma. Terlepas dari apakah pembuahan ganda ini memiliki manfaat biologi atau tidak, kehadirannya yang secara universal itu saja sudah merupakan -71al yang sangat penting ditinjau dari sudut filogenetika, sebab :al ini menyokong pandangan, bahwa angiosperma itu merupakan kelompok alami yang memiliki nenek-moyang yang sama.

 

Advertisement