Advertisement

Bahasa yang Lain atau Gaya yang Lain?, Orang cenderung membedakan kasus di mana bahasa tertulis adalah “bahasa yang lain” dari bahasa vernakular, dari kasus di mana bahasa tertulis dianggap sebagai gaya yang lain. Namun, keadaannya tidak sela!u sederhana. Apabila bahasa tulis dikenal sebagai salinan dari bahasa-bahasa percakapan yang lazim, maka sulit untuk menen­tukan secara objektif tingkat perbedaan yang memungkinkan kita untuk berbicara mengenai dua bahasa dan bukan dua gaya. Apakah kita harus mengatakan bahwa untuk menulis, ulama roman di abad VIII menggunakan (bahasa Latin namun Latin yang seperti apa!) suatu gaya yang lebih kuno daripada bahasa mereka sendiri, ataukah mereka menggunakan, sesuai dengan kesempatan, sebuah bahasa, bahasa “roman” lokal dan sebuah bahasa lain, bahasa Latin? Atau, untuk mengambil contoh yang mutakhir, di dalam kerangka apa kita harus mengelompokkan hubungan timbal balik antara bahasa Arab lisan, bahasa surat kabar, dan bahasa Quran di Mesir? Jelaslah bahwa penggunaan etiket yang sama (“roman lokal”, “Arab”) sebenarnya suatu petunjuk bahwa persatuan dirasakan di belakang keanekaan, dan suatu alat yang ampuh untuk mempertahankan keyakinan bahwa divergensi yang ada hanya bersifat stilistik dan tidak mendasar. Mungkin akan dikatakan bahwa persatuan akan bertahan selama perbedaan bentuk dirasakan sebagai pelengkap, selama setiap kesem­patan di dalam kehidupan menuntut bentuk tertentu dan bukan yang lain, dan akibatnya, selamanya penutur tidak pernah dihadapkan pada suatu pilihan. Hadirnya gaya yang sangat bervariasi di dalam bahasa percakapan dan bahasa tulis yang memberikan kesan akan adanya kesinambungan yang panjang dan tanpa jalan keluar, tentu saja hanya akan memperkuat kesan akan adanya persatuan. Itulah yang terjadi di Perancis saat ini dan yang membuka perbedaan yang besar di antara bahasa resmi dan bahasa percakapan sehari-hari: di antara bahasa tulis yang mengenal passe simple sebagai kala pence­ritaan, yang memarkah kalimat interogatif dengan inversi subjek, dan hanya mengenal nous sebagai kata ganti tidak bertekanan orang pertama jamak, dan gaya akrab dan santai di mana cerita ditampil­kan dalam kala kini, pertanyaan ditandai oleh intonasi naik atau oleh est-ce que, di mana nous partons berubah menjadi on se trotte ‘kita berangkat’, terdapat gaya antara yang mengabaikan passé simple, namun mengenal variasi yaitu inversi interogatif (veux-tu? ‘maukah kau?’) dan menggunakan nous tak bertekanan dan bukan on sebagai kata ganti orang pertama jamak, atau merupakan saingannya.

Advertisement
Advertisement