Advertisement

Bahasa Percakapan dan Bahasa Tertulis, Kepercayaan akan persatuan dan homogenitas di dalam setiap bahasa nasional menimbulkan dampak, bukan saja membuat orang lupa akan variasi kondisi bahasa yang terdapat di dalam batas setiap negara, tetapi secara keliru juga meyakinkan, bahwa harus ada kesa­maan antara bahasa yang dicakapkan suatu bangsa dan yang ditulis­kannya. Apabila suatu masyarakat bahasa yang selama ini buta huruf berkenalan dengan aksara, maka dengan tulisan itu mereka meng­gunakan bahasa yang lain. Memisahkan aksara dan bahasa, dalam hal ini menuntut kemampuan analisis yang mungkin sekali tidak di­miliki penutur, dan juga besar kemungkinan jika penutur pertama mencoba aksara, is akan melakukannya dalam bahasa asing. Mung­kin saja terjadi bahwa situasi akan menjadi stabil, dan orang-orang yang berpendidikan, yang terus menggunakan bahasa vernakular me­reka dan tidak lagi menggunakan idiom yang lain, hanya dapat menulis di dalam bahasa asing. Di dalam banyak hal, bahasa yang di­paksakan di dalam penggunaan tertulis adalah bahasa sastra “klasik” atau bahasa yang digunakan dalam teks sakral, seperti bahasa Latin di Eropa sampai fajar jaman mutakhir, dan sampai kini bahasa Sans­kerta masih digunakan di India, sedangkan bahasa Arab Quran masih digunakan di negeri-negeri Islam. Namun, hal ini tidak me­ngesampingkan upaya untuk menuliskan bahasa vernakular: pada Abad Pertengahan, orang menulis dalam bahasa Perancis, Inggris, Jerman, yang merupakan saingan bahasa Latin, apabila yang ingin dituju adalah publik lokal yang lebih luas daripada kalangan ulama.

Advertisement
Advertisement