Advertisement

Bahasa “Ibu”, Bilingual dan Unilingual, Dalam berbagai situasi yang telah dibicarakan sampai sekarang, terdapat situasi bilingual atau plurilingual. Pengamatan yang cermat pada berbagai kasus itu memungkinkan kita mengesampingkan kon­sepsi naif yang mengatakan bahwa terdapat situasi yang pasti, yang disebut “bilingualisme”, apabila individu yang sama menguasai dua bahasa sama baiknya, yang sama sekali tidak sama dengan kasus indi­vidu yang berbicara, terkadang dengan sangat lancar, satu atau se­jumlah bahasa di samping bahasa pertama yang dipelajarinya, yaitu bahasa yang disebut “bahasa ibu”. Dalam hal ini perlu dikemukakan sejumlah fakta untuk mengesampingkan praduga, yang pada jaman romantisme abad XIX, dipaksakan di kalangan borjuis yang unili­ngual di dalam bangsa-bangsa besar di Eropa: bahasa pertama yang dipelajari tidak selalu bahasa yang digunakan oleh ibu, tetapi mung­kin saja bahasa dari pelayan atau dari siapa pun yang terus menerus berhubungan dengan anak itu. Bahasa pertama itu tidak perlu men­jadi bahasa yang digunakan individu pada masa dewasa secara lebih lancar: seorang anak berusia lima tahun dalam waktu empat bulan mampu menguasai bahasa keduanya dan tidak mampu meng­gunakan, maupun memahami bahasa pertamanya lagi. Berjuta-juta remaja di seluruh dunia belajar menggunakan bahasa baru dengan rasa lebih aman dan lebih jelas daripada idiom yang digunakannya pada masa kanak-kanak, apakah idiom itu berbentuk patois, dialek atau bahasa nasional.

Advertisement
Advertisement