Advertisement

Senyatanya, pengalaman bangsa Indonesia mencatat bahwa asrama pelajar Stovia (asrama calon dokter) di akhir abad xix dan awal abad xx telah menyatukan penduduk nusantara menjadi satu. bangsa. Di asrama ini mereka menyadari bahwa penduduk Nusantara ini berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia. Dari pengalaman-pengalaman itu pernoeda2 di tahun 1928 pada kerapatannya yang menghasilkan  ikrar Soempah Pemoeda menyatakan bahwa internaat atau asrama adalah pemersatu bangsa.

Asrama Mahasiswa Kedokteran Jalan Prapatan 10 dalam sejarah tercatat sebagai tempat berkumpulnya pejuang bangsa menjelang proklamasi kemerdekaan RI. Mahasiswa penghuni asrama ini adalah pejuang berintelektual tinggi yang tangguh. Penghuni asrama Prapatan 10 antara Iain : Eri Soedewo, M. Kamal, Soeroto Koento, Soebijanto Djojohadikoesoemo, Soedarpo Sastrosatomo, MT Harjono, Soejono Martosewojo, M. Ridwan Meuraxa, dan masih banyak lainnya. Semuanya adalah pahlawan dan sebagian besar dari mereka menjaga Bung Karno dan Bung Hatta saat proklamasi juga saat rapat samudera di lapangan Ikada pada 19 September 1945

Advertisement

Era diperlukannya asrama mahasiswa sekarang telah lalu. Jika di luar negeri masih dikenal Hall of Residence, dormitory atau student hostel, di Indonsia asrama mahasiswa dianggap tidak bermanfaat lagi, olbh karenanya banyak asrama mahasiswa yang dibubarkan. Asrama Daksinapati. di Rawamangun, Asrama Putri Wisma Rini di Bidaracina, Asrama Pegangsaan Timur, Asrama Darmaputra di Baciro, Asrama Ratnaningsih di Sagan, Asrama Yasma Putra di Code, Asrama Stella Duce di selatan Bulak Sumur, Asrama mahasiswa UGM Realino di Mrican, Asrama Yasma Putri di Pringgokusuman, Asrama Putri Widyasana di KiduI Loji semuanya telah tidak berperan lagi, gantinya adalah kamar kontrakan dan indekosan yang didirikan oleh penduduk sekitar kampus perguruan tinggi dan para “investor” rumah pondokan.

 

Advertisement