ARTI PERSEPSI SOSIAL

adsense-fallback

Persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah pengindraan (penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya). Sebaliknya, alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi.

adsense-fallback

Dalam hal persepsi mengenai orang itu atau orang-orang lain dan untuk memahami orang dan orang-orang lain, persepsi itu dinamakan persepsi sosial dan kognisinya pun dinamakan kognisi sosial.

Dalam persepsi sosial ada dua hal yang ingin diketahui yaitu keadaan dan perasaan orang lain saat ini, di tempat ini melalui komunikasi non-lisan (kontak mata, busana, gerak tubuh, dan sebagainya) atau lisan dan kondisi yang lebih permanen yang ada dibalik segala yang tampak saat ini (niat, sifat, motivasi, dan sebagainya) yang diperkirakan menjadi penyebab dari kondisi saat ini. Hal yang terakhir ini bersumber pada kecenderungan manusia untuk selalu berupaya guna mengetahui apa yang ada di balik gejala yang ditangkapnya dengan indra. Dalam hal persepsi sosial, penjelasan yang ada di balik perilaku itu dinamakan

Dalam kutipan cerita pendek di atas, misalnya, John mempersepsikan Wayan sebagai pribumi yang ramah, mengajaknya makan dan tidur di rumahnya, mengajaknya jalan- jalan ke tempat yang bukan pasaran turis dan ia menyimpulkan bahwa perilaku Wayan itu disebabkan oleh sifatnya yang baik hati. Oleh karena itu, John mengatribusikan Wayan sebagai orang yang baik hati. Akan tetapi, atribusi itu berubah setelah ada informasi tambahan sehingga akhirnya John menganggap Wayan sebagai orang yang menyusahkannya saja. Demikian juga Wayan mempersepsikan John sebagai bule yang tidak sombong, yang mau diajak makan dan tidur di rumahnya yang sederhana, karena itu atribusi yang diberikan Wayan kepada John adalah baik hati dan mungkin juga murah hati. Akan tetapi, setelah Wayan ke Jakarta, ternyata John tidak mau membelikan tiket untuk keponakannya dan menyuruhnya pulang cepat-cepat. Simpulan Wayan adalah bahwa perilaku John disebabkan oleh sifatnya yang senang menjajah orang dan itulah atribusi yang diberikan Wayan kepada John akhir kisah.

Persepsi dan atribusi ini sifatnya memang sangat subjektif, yaitu tergantung sekali pada subjek yang melaksanakan persepsi dan atribusi itu. Perilaku membunuh, misalnya, dapat dianggap kelakuan penjahat yang sadis, bela diri atau kepahlawanan.

Dalam sebuah penelitian di Belanda terhadap sejumlah calon polisi berasal dari Suriname, Turki, Maroko, dan Belanda sendiri, perwira-perwira polisi penilai yang terdiri atas orang-orang Belanda sendiri cenderung memperlakukan calon-calon dari Belanda lebih baik daripada calon-calon lainnya, sementara calon- calon dari Suriname (karena bekas jajahan Belanda) diperlakukan lebih baik daripada calon-calon dari Turki dan Maroko (yang sepenuhnya imigran) (Vrij dkk., 1992).

Walaupun demikian, tidak berarti bahwa tidak ada sama sekali kecenderungan persamaan dalam persepsi. Penelitian Cunningham dkk.(1995) di Amerika Serikat terhadap sejumlah mahasiswa pendatang baru keturunan Asia, Amerika Latin, dan yang asli dari Amerika Serikat sendiri (kulit putih) yang diminta untuk menilai kecantikan (dari foto) wanita-wanita keturunan Asia, Amerika Latin, dan Amerika kulit hitam dan kulit putih, membuktikan bahwa semua ras itu menilai kecantikan lebih berdasarkan wajah daripada tubuh (korelasi=0.93). Jadi, ada persamaan persepsi antarras dalam menilai kecantikan.

Mengapa persepsi sosial itu kadang-kadang serupa, sama atau seragam, sementara kadang-kadang juga berbeda. Dijelaskan oleh Kenny (1994) bahwa ada perbedaan antara persepsi tentang orang (person perception) dan persepsi dalam hubungan antar pribadi (interpersonal perception). Dalam hal yang pertama objek- nya lebih abstrak, lebih hipotetis (seperti dalam penelitian Cunningham dan Sutomo) sehingga orang cenderung memberi persepsi yang sama (dalam hal penelitian Sutomo: persamaan persepsi di kalangan generasi muda perwira ABRI), sementara dalam hal yang kedua objeknya lebih konkret (penelitian Vrij) atau merupakan pengalaman pribadi (dalam Laumann). Dalam hubungan antarpribadi yang lebih konkret itu lebih banyak faktor yang berpengaruh, seperti motif, perilaku kita sendiri terhadap orang lain yang kemudian mempengaruhi perilaku orang tersebut dan tentu saja proses kognitif itu sendiri yang menjadi lebih majemuk ketika berhadapan dengan situasi-situasi konkret (Jones, 1990). Selain itu, faktor perbedaan kepribadian juga berpengaruh terhadap persepsi sosial, misalnya ekstraversi dan introversi (Ambady dkk., 1995), kesadaran akan diri sendiri, rasa malu, dan cemas (Schroeder, 1995), kemampuan sosial (Ambady, 1995; Schroeder, 1995), dan tingkat kecerdasan (Tur & Bryan, 1993).

Selanjutnya, perlu diperhatikan bahwa berbeda dari persespi pada umumnya (khususnya pada benda-benda atau lingkungan alamiah), persepsi sosial sangat menggantungkan diri pada komunikasi. Bagaimana persepsi seseorang tentang orang lain sangat tergantung pada komunikasi yang terjadi antara keduanya. Komunikasi di sini tidak berarti hanya komunikasi lisan (seperti dalam percakapan-percakapan John dan Wayan dalam kutipan cerpen di atas), juga dan bahkan terutama komunikasi non- lisan (gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sebagainya). Dengan perkataan lain, komunikasi nonlisan jauh lebih bermakna daripada komunikasi lisan (apalagi komunikasi tulisan) dalam persepsi sosial.

Contohnya adalah dalam bertelepon. Kalau yang menerima telepon adalah mesin penjawab otomatis (answering machine) atau suara komputer, maka kita hanya bisa menerima informasi belaka (“Halo, kami sedang tidak di rumah, titipkan pesan anda setelah terd-engar nada fop”, atau “Terima kasih Anda telah menggunakan jasa PT TELKOM. Untuk mengetahui rekening anda bulan lalu, silakan tekan satu…, dan seterusnya”). Tidak ada atribusi yang dapat kita simpulkan dari komunikasi sejenis ini (apakah suara mesin atau komputer itu marah atau ramah tidak dapat ditetapkan sama sekali). Sebaliknya, jika dua orang bertatap muka, walaupun tidak bicara sekalipun, dapat timbul atribusi-atribusi tertentu. Apakah orang itu tersenyum atau mengerdipkan mata, atau wajahnya cemberut, dan sebagainya semuanya itu menyebabkan kita dapat memperkirakan atribusi yang ada di balik perilaku. Apalagi, antara dua orang yang berpacaran. Biar diam seribu bahasa, dua pasang mata yang berpandangan dapat menjadi pengungkap rasa.

Penelitian Montepare & Zebrowitz-McArthur (1988), misalnya, membuktikan bahwa gaya berjalan remaja (gait) berbeda dari orang dewasa. Remaja berjalan secara lebih lepas, persendiannya seakan- akan tidak terikat kaku, sehingga mereka tampak lebih melenggang dan kadang-kadang meloncat-loncat. Hal ini mencerminkan emosi yang riang, bebas, dan lepas. Karena itu, orang dewasa yang ingin menunjukkan emosi yang bebas, riang, dan lepas, juga akan memilih gaya jalan seperti remaja (diekspresikan, misalnya, dalam tari balet, tarian India, atau joget dangdut).

Kalaupun atribusi terjadi dalam komunikasi lisan, penyimpulan atau perkiraan atribusi bukan didasarkan oleh isi ucapan-ucapan lisan semata, melainkan karena perilaku yang menyertai komunikasi lisan itu. Dalam kasus cerpen di atas, misalnya, John mengatribusikan Wayan sebagai pribumi yang wataknya jelek bukan karena kata- katanya semata, melainkan karena selama Wayan tinggal di rumah John ia tidak pernah menanyakan keadaan John dan tiba-tiba ia membawa kemenakannya tanpa persetujuan John.

Dalam percakapan telepon (tanpa tatap muka) jika percakapan itu terjadi langsung antarpribadi, terjadi proses saling memberi atribusi. Akan tetapi, bukan berdasarkan isi percakapan semata melainkan lebih berdasarkan nada suara, tekanan suara, tarikan napas, teriakan kecil, tangisan, keluhan, tawa, dan isyarat-isyarat nonlisan lainnya.

Komunikasi lisan sering kali kurang dapat dipercaya dibandingkan dengan komunikasi nonlisan. Oleh karena itu, di kalangan pemuda-pemudi yang sedang dirundung asmara ada istilah “rayuan gombal” atau “janji palsu” atau “berani sumpah tapi takut mati”.

Jadi, kita pun harus sangat berhati-hati dalam memberikan atribusi pada suatu perilaku. Seorang kasir di toko swalayan yang tersenyum kepada setiap pelanggan, belum tentu benar-benar berhati ramah karena mungkin senyum hanya karena tugas pekerjaannya saja. Sebaliknya, seorang Satpam yang membentak anak-anak kampung agar keluar dari kawasan pertokoan yang dijaganya, belum tentu berhati bengis terhadap anak-anak.

Bagaimana dampak proses persepsi sosial ini dalam perka- winan, misalnya, dapat kita lihat dalam penelitian terhadap 44 pasangan suami-istri di Norwegia. Hasil penelitian mem- buktikan bahwa pasangan yang dapat saling mengerti melalui komunikasi dan sama-sama merasa dapat saling mempengaruhi (meminta pasangannya untuk melakukan hal tertentu dan benar- benar dilakukan oleh pasangannya) akan mempunyai lebih sedikit masalah daripada pasangan-pasangan yang lebih egosentris (kurang mau mendengar pihak lain) (Wichstrom & Holte, 1993).

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback