Advertisement

Sebagai hewan manusia mempunyai berbagai naluri dasar yang mengendalikan dan mengarahkan perilakunya agar dapat bertahan dari segala ancaman, yaitu hubungan , makan, pertahanan diri, dan pertahanan kelompok terhadap serangan dari luar.

Menurut Sigmund Freud ada dua jenis naluri atau insting, yaitu insting (untuk kelangsungan keturunan dan kelangsungan jenis) dan insting (untuk kelangsungan hidup atau preservasi) misalnya lapar dan haus. Dalam perkembangan selanjutnya menjadi insting ual atau insting kehidupan atau .eros (membangun-dan berkembang) “datf’insting kematian atau insting agresiatau tan atas (Shaffer, 1994).

Advertisement

Tokoh lain yang juga mengemukakan tentang insting adalah William Mc Dougall yang mengakui adanya banyak insting. Menurut Mc Dougall, insting adalah disposisi bawaan (bakat) yang mengarahkan perhatian, perasaan, dan perilaku dalam caracara tertentu. Arahan dari insting ini adalah tujuan perilaku. Tidak ada perilaku tanpa tujuan. Misalnya, burung membuat sarangnya secara alamiah (secara bawaan) karena tidak ada yang mengajari. Tujuan dari perilaku membuat sarang itu adalah tujuan insting atau naluri itu sendiri, yaitu untuk melindungi anak-anaknya agar jangan dimakan hewan lain.

Jika ditinjau dari teori insting, perilaku mudik lebaran juga dapat didorong oleh naluri yaitu naluri untuk tetap menjaga hubungan dalam kelompok agar tetap dapat menjaga kelangsungan (survival)keluarga, suku, dan sebagainya atau dengan perkataan lain, didorong oleh naluri kehidupan.

Akan tetapi, para pakar psikologi sosial masa kini kebanyakan tidak memperhatikan teori insting lagi karena konsepnya dianggap kurang jelas. Clark Hull pada tahun 1943 meluncurkan konsep “dorongan” (drive) yang berhubungan dengan kebutuhan fisiologik, misalnya lapar. Dorongan yang mengenergikan (menggerakkan) perilaku dinamakan “daya”. Gabungan berbagai daya dinamakan “dorongan besar” (big drive). Manusia belajar memenuhi berbagai dorongan dan mengembangkan dorongan tingkat kedua (secondary drive) yang dipelajari dari pengalaman. Kebanyakan perilaku sosial dikembangkan melalui proses pembentukan dorongan tingkat kedua ini.

Perilaku mudik, misalnya, berasal dari dorongan untuk memperoleh rasa aman dan terlindung di tengah-tengah kehidupan keluarga dan desa. Ketika seseorang merantau, dorongan untuk kembali ke keluarga tetap berlangsung.

Demikian juga dorongan untuk makan, misalnya, berkembang menjadi dorongan tingkat kedua yaitu makan nasi (tidak kenyang kalau belum makan nasi walau sudah makan makanan jenis lain). Kemudian, berkembang lagi menjadi dorongan tingkat ketiga; yaitu makan nasi padang. Dorongan tingkat keempat; makan nasi padang di restoran “Simpang Lima” yang terkenal enak, dan seterusnya.

Advertisement