ARTI JALAN PINTAS MENTAL

adsense-fallback

Dalam proses kognisi manusia sering kali menggunakan jalan pintas mental (heuristics) untuk sampai pada suatu kesimpulan atau atribusi. Jalan pintas itu digunakan untuk mempercepat proses dan menghemat energi. Dengan kata lain dalam mental digunakan demi efisiensi. Misalnya, jika kita sedang berjalan di jalan yang gelap dan sepi tiba-tiba kita melihat orang berjaket kulit dan bercelana jin dengan topi dan wajah tertutup leher jaket, tangan di saku celana, dan berjalan dengan gaya mencurigakan ke arah kita, tanpa memikirkan yang lain-lain lagi (berpikir jalan pintas saja) atribusi yang kita berikan adalah bahwa orang tersebut berniat jahat. Karena itu, kita segera mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri. Coba kalau kita tidak berpikir jalan pintas, kita ragu-ragu dahulu, kita berhenti dahulu, dan mungkin bertanya dahulu kepada orang tersebut apa maksudnya, boleh jadi kita sudah benar-benar menjadi korban perampokan.

adsense-fallback

Akan tetapi, ada. kemungkinan jalan. pintas kita salaja.. Untuk membuktikan bahwa kita cenderung berpikir jalan pintas dan jalan pintas itu bisa salah, cobalah tanyakan kepada diri sendiri atau keluarga atau tetangga anda. “Berapa banyaknya angka 9 dari 0 sampai 100?”

Jawablah pertanyaan itu dahulu sebelum membaca lebih lanjut.

Biasanya dalam 2-3 detik sudah ada jawaban yaitu 9 atau 10. Jawaban yang cepat itu terjadi karena orang hanya menghitung 9, 19, 29 dan seterusnya meloncat saja pikirannya. Jika tiap puluhan ada satu angka 9, maka kalau ada 10 puluhan, angka 9-nya juga ada 10 buah. Padahal, jawaban itu salah.

Cobalah anda hitung pelan-pelan: 9, 19, 29, 39, 49, 59, 69, 79, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 98, 99. Jadi, jawaban yang benar adalah: 19.

Begitu juga simpulan kita tentang orang di tempat gelap itu bisa salah. Misalnya, kita mengambil langkah seribu dan kita terjatuh karena kaki kita terantuk batu dan tidak dapat bangun karena kesakitan, orang itu datang untuk menolong dan membawa kita ke rumahsakit dan menelpon keluarga kita. Apakah atribusi kita terhadap orang itu masih sama?

Jadi, berpikir jalan pintas mengandung bahaya kesalahan penyimpulan. Walaupun demikian, hal tersebut secara otomatis biasa dilakukan karena biasanya berhasil dan tidak salah.

Beberapa faktor dalam berpikir jalan pintas adalah sebagai berikut.

1. Representasi

Pada contoh orang di jalan gelap tersebut, kita mempunyai sejumlah informasi yang tidak lengkap: jaket kulit, jins, topi, wajah tertutup, tangan di saku, tempat gelap dan sunyi, dan gaya berjalan yang mencurigakan. Informasi yang tidak kita punyai adalah: siapa orang itu? mau apa dia? apa yang saya harus lakukan terhadapnya? Informasi yang tidak lengkap itu justru merupakan informasi terpenting untuk menentukan perilaku kita selanjutnya (lari atau jalan biasa?). Dengan kata lain, kita harus menetapkan atribusi dari orang itu berdasarkan ” *>v informasi yang tidak lengkap. Di sinilah kita berpikir jalan pintas. Menuruf rekamari’infonnasi-ihformasi dalam ingatan

kita, ciri-ciri seperti di atas, paling mewakili golongan perampok, garong, atau orang jahat. Jadi, simpulannya pasti ia orang jahat. Sementara itu, bisa jadi sesungguhnya ia karyawan biasa yang juga kemalaman seperti kita.

2. Pengutamaan (priming)

Pikiran jalan pintas dipengaruhi oleh faktor pengalaman yang paling baru (yang baru saja terjadi). Misalnya, kita baru menonton film penggarongan dan pembunuhan di tempat gelap, ketika kita melalui tempat gelap dan bertemu orang, kita cenderung cepat-cepat mengatribusikannya sebagai perampok. Pengalaman menonton film yang baru terjadi mendapatkan prioritas untuk dijadikan ukuran dalam berpikir jalan pintas. Mengenai primingini, Erdley & D’Agortino (1989) membuat eksperimen pada dua kelompok orang. Kelompok pertama diperlihatkan secara sekilas slides yang berisi kata-kata tentang kejujuran (jujur, dapat dipercaya, dan sebagainya), sedangkan pada kelompok kedua diperlihatkan selintas                kata-kata

tentang ketidakjujuran (tidak jujur, curang dan sebagainya). Kemudian, kedua kelompok itu diminta membaca uraian yang samar-samar tentang diri seseorang (pekerjaannya, la tar belakang keluarganya, kegiatannya sehari-hari, dan sebagainya) dan diminta menilai (memberi atribusi) bagaimana sifat orang tersebut. Hasilnya, kelompok pertama menilai orang itu jujur, sedangkan kelompok kedua menilainya tidak jujur.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback