Advertisement

Zuhud terhadap sesuatu ber­arti tidak mencintainya, tidak tertarik atau tidak terpikat olehnya. Dalam ka­jian tasawuf, kata zuhud biasanya dikait­kan dengan dunia (maksudnya kesenangan duniawi, yang meliputi kesenangan materi atau fisik, harta, pangkat, dan lain sebagai­nya). Zuhud terhadap dunia berarti tidak mencintai dunia, tidak tertarik, tergiur dan terlena oleh kesenangan duniawi. Orang yang memiliki sikap zuhud itu dise­but zahid.

Sikap zuhud terhadap dunia itu berakar dari penilaian bahwa dunia dengan segala kesenangannya lebih rendah nilainya dari nilai akhirat. Jadi pada sikap zuhud ter­hadap dunia itu tersirat sikap. lebih men­cintai atau tertarik kepada akhirat atau kepada Tuhan Yang Maha Baik.

Advertisement

Kata zuhud sebenarnya tidaklah pernah muncul dalam al-Quran, kecuali hanya se­kali saja dalam bentuk zahidin (12:20), dan ini hanya berkenaan dengan orang­orang yang menjual Yusuf dengan harga yang murah, lantaran mereka tidak suka atau tidak mencintainya, tidak berkaitan dengan ajaran zuhud terhadap dunia. Ken­datipun demikian, esensi ajaran supaya zu­hud terhadap dunia tidaklah sulit menda­patkannya dari al-Quran al-Karim. Kitab suci ini jelas mengajarkan bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal (kebaikan dan kenikmatannya), jika dibandingkan dengan dunia; ia juga mengecam keras orang-orang yang, karena tenggelam dan tergiur oleh banyak harta dan kesenangan duniawi, melupakan Tuhan atau akhirat.

Esensi zuhud itu juga dapat dilihat dari prihidup Nabi Muhammad dan para saha­batnya yang setia. Ia hidup dengan kehi­dupan yang sederhana, baik dalam hal ma­kanan, pakaian, dan tempat tinggalnya. Ia sering puasa, sering mengalami lapar, menghentikan makan sebelum kenyang, setiap malam bangun untuk beribadat, munajat, dan tafakkur kepada Allah. Ia ti­dak menyimpan harta, apalagi menum­puknya, dan tak ada harta yang dapat di­wariskannya kepada keluarganya, tatkala ia wafat. Para sahabat pun mengikuti pola hidup sederhana yang dicontohkan Nabi. Mereka, kendati sebagian tergolong kaya dan berharta, tetap zuhud terhadap harta yang mereka miliki. Mereka sewaktu-wak­tu siap menyerahkan harta mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Hati mereka tidak tergiur atau terlena oleh harta yang mereka miliki. Sikap Nabi dan para sahabatnya itu terhadap harta dan kesenangan dunia tidak lain dari sikap zuhud terhadapnya.

Ketika pada masa pemerintahan daulat Bani Umayyah (661-750/40-132 H) dan berlanjut dengan masa pemerintahan Bani Abbas, para penguasa baik di pusat mau­pun daerah mengembangkan pola kehi­dupan bermewah-mewah dan berfoya-fo­ya, yang dimungkinkan oleh berlimpah­ruahnya hasil rampasan perang, upeti, dan berbagai perighasilan lainnya bagi kas ne­gara, para ulama pada umumnya melihat corak kehidupan para penguasa itu (yang juga diikuti oleh sebagian masyarakat yang juga ikut menjadi kaya-raya) sebagai penyimpangan dari corak kehidupan yang diridai Tuhan. Karena merasa tidak ber­daya untuk menghentikan mereka dari ke­hidupan bermewah-mewah, yang tidak le-pas dan berbagai ragam perbuatan mak­siat, sebagian ulama terutama sejak awal abad ke-8 (2 H) memberikan reaksi dalam bentuk sungguh-sungguh menegakkan ke­hidupan zuhud dalam diri mereka. Dengan demikian muncullah zahid-zahid besar; mereka pada mulanya muncul di Kufah dan Basrah (keduanya di Irak), kemudian juga di tempat-tempat lain, seperti Khura­ san, Madinah, Mesir, dan lain sebagainya.

Di antara zahid-zahid besar yang di abad ke-8 (2 H) muncul di Kufah adalah Sufyan as-Sauri, Abu Hasyim al-Kufi, dan Jabir bin Hasyim; di Basrah adalah Hasan al-Basri dan Rabi`ah al-Adawiyah; dan di Khurasan adalah Ibrahim bin Adham dan Syaqiq al-Balkhi. Sebelum munculnya Rabi`ah al-Adawiyah, kezuhudan para za­hid besar didorong lebih kuat oleh perasa­an takut kepada azab Tuhan dan perasaan harap kepada keridaan-Nya. Akan tetapi pada din zahid wanita itu perasaan takut telah berganti dengan perasaan cinta yang bergelora kepada Tuhan. Ia mengabdi ke­pada Tuhan, bukan karena harap untuk masuk surga dan bukan pula karena takut pada azab neraka-Nya, tapi semata-mata karena mencintai-Nya.

Zuhud dalam kajian tasawuf dipandang sebagai salah satu magam (tahapan atau stasion) yang amat penting bagi calon sufi dalam perjalanan rohaniah mencapai tuju­an menjadi sufi. Sebelum menjadi sufi, se­orang calon sufi itu harus lebih dahulu menjadi zahid. Kedudukan zahid lebih rendah dan sufi, dan karena itu biasanya dikatakan bahwa tiap sufi adalah zahid, tapi tidak setiap zahid bisa berhasil men­jadi sufi. Zahid yang berhasil menjadi sufi adalah dia yang telah berhasil mencapai maqam makrifah. Bila tidak berhasil men­capai maqam makrifah itu, ia tidak dise­but sufi, tapi zahid saja.

Seperti halnya maqam-maqam yang lain, maqam zuhud juga mempunyai ting­katan-tingkatan. Ada tingkatan zuhud ter­hadap segala yang haram menurut norma syariat, ada tingkatan zuhud yang lebih tinggi, yakni zuhud terhadap segala yang diragukan kehalalannya. Zuhud yang di­usahakan para calon sufi adalah zuhud tingkat tertinggi, yakni zuhud terhadap dunia materi dan apa yang dibutuhkan oleh jasmani, kendati halal menurut nor-ma syariat. Hanya dengan zuhud tingkat tertinggi itu, dapat dicapai kecintaan ter­tingepada akhirat atau kecintaan terting­gi pada Tuhan.

 

Advertisement