Advertisement

Zindiq berasal dari bahasa Persia yang kemudian masuk ke dalam bahasa Arab. Di kalangan bangsa Persia sendiri, kata ter­sebut mengandung arti orang yang melang­gar agama resmi negara. Ketika Islam su­dah memasuki kawasan kebudayaan Persia, dan kata zindiq masuk dalam kosa kata umat Islam, terjadilah perluasan makna.

Di kalangan umat Islam, kata zindiq pada awalnya digunakan untuk menunjuk penganut-penganut agama Manu serta semua orang yang menyembah berhala. Makna itu kemudian berkembang menjadi termasuk orang-orang materialisme dan ateisme setelah pengaruh Hellenisme me­masuki dunia pemikiran Islam.

Advertisement

Sebagai diketahui pengaruh Hellenisme menampakkan did secara jelas pada pene­rimaan metode berfikir sistematis dan rasional, yaitu almantig (logika formal) yang muncul dari tangan filosof Yunani Aristoteles.. Malah, Aristoteles tersebut di­kenal di kalangan filosof Islam dengan sebutan alMu’allim alAwwal (Guru. Per­tama). Di samping pengaruh pemikiran sistematis dan rasional, terdapat pula pe­ngaruh kuat pemikiran Neo Platonisme. Pengaruh pemikiran ini dapat dilihat pada pandangan kosmologis para filosof Islam yang muncul dalam teori emanasi atau pancaran (nazariyat Teori ini sebenarnya ingin menjelaskan bagaimana yang banyak timbul dari Yang Maha Satu. Tuhan bersifat Maha Satu, tidak berobah, jauh dari *materi, jauh dari arti banyak, Maha Sempurna dan tidak berhajat pada apapun. Kalau itulah yang menjadi haki­kat sifat Tuhan, maka pertanyaannya ada­lah, bagaimana terjadinya alam materi yang banyak dan terdiri berbagai unsur ini dari Yang Maha Satu yang tidak tersusun dari unsur-unsur? Jadi sebenarnya teori emanasi itu pada hakikatnya upaya kaum filosof untuk menjelaskan bagaimana ter­jadinya penciptaan alam semesta.

Terhadap perkembangan seperti itu, timbul reaksi di sementara kalangan umat Islam, terutam a dari mereka yang menama­kan diri sebagai golongan Sunni dan Ham­bali. Menurut mereka nas merupakan satu­satunya sumber pemikiran. Sementara lo­gika tidak dikenal di masa nabi, masa sa­habat maupun masa tabiin. Di masa ini logika bukanlah merupakan keharusan. Sebab bila dianggap sebagai keharusan maka itu berarti Rasulullah sendiri dan para sahabatnya tidak mampu memahami kandungan altQuran dan Hadis Nabi. Dan sinilah kemudian timbul semboyan man tafalsafa faqad tazandaqa (siapa yang ber­falsafat berarti ia sungguh-sungguh telah zindiq) dan semboyan man tamantqqa faqad tazandaqa (siapa yang mempergunakan mantiq (logika) maka sesungguhnya ia telah zindiq).

Tantangan keras yang cukup sistematis terhadap pemikiran filosofis ini dilancar­kan oleh Imam al-Gazali. Dua buah karya­nya, masing-masing al-Munqii min ad-Dalai (Pembebas Dari Kesehatan) dan Ta­liafut al-Falasijah (Kerancuan Para Filo­sof) berisi kritik keras terhadap pemikiran filosofis, dan lewat buku itu ia mengkafir­kan para filosof Islam, terutama al-Farabi dan Ibnu Sina. Malah secara terinci ia me­nunjukkan dua puluh masalah dalam pemikiran filosof Islam yang tidak sejalan dengan Islam. Tiga butir dari pemikiran itu, yakni:

  • bahwa alam adalah kadim (tidak mempunyai permulaan dalam waktu)
  • bahwa Tuhan tidak mengetahui juz­’iyyat (perincian peristiwa yang terjadi dalam alam) dan
  • kebangkitan jasmani tidak ada, me­lahirkan kesimpulan bahwa para filosof telah menjadi kafir atau zindiq.

Mulai saat itu pemikiran rasional dan filosofis di dalam dunia Islam menjadi mundur.

Di samping Imam al-Gazali, Ibnu Taimi­yah kemudian melancarkan kritiknya pula terhadap pemakaian logika Aristoteles. Dengan menulis buku ar-Radd’ala al-Man­tiqiyyin, ia menegaskan bahwa pemikiran akal tidak boleh melakukan penakwilan terhadap nas-nas agama. Akal hanya ber­fungsi sebagai penerima kebenaran nas sebagai post-factum serta harus tunduk kepada nas itu. Menurut Ibnu Taimiyah interpretasi metaforis tidaklah dibenar­kan, karena al-Quran dan Hadis telah men­jelaskan segala sesuatu” tentang agama. Bahkan apa yang ia istilahkan dengan usi2l al-‘ilm wa al-iman (prinsip-prinsip ilmu dan iman), yakni prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya, baik segi batinnya maupun segi lahirnya, baik segi ilmu mau­pun segi amalnya, telah dijelaskan secara tuntas oleh Rasulullah. Dengan demikian menurut Ibnu Taimiyah para filosof Islam dipandang telah menjadi zindiq dan kafir.

Dalam perkembangan berikutnya, ter­nyata terminologi zindiq tidak lagi terde­ngar dalam sejarah perkembangan pemi­ kiran Islam. Pemikiran rasional dan filo­sofis, lewat tokoh-tokoh pembaharu Islam, seperti Jamaluddin al-Afgani, Muhammad Abduh di Mesir, Syeh Waliyullah dan Say-yid Ahmad Khan serta Mohammad Iqbal di Indo Pakistan, telah memperoleh peng­hargaan kembali. Agaknya hal itu terjadi disebabkan oleh al-Quran sendiri sebenar­nya tidak mempergunakan istilah terse-but. Kata yang sering difahami semakna dengan zindiq yang ada dalam al-Quran adalah kata //had, seperti yang disebut oleh surat al-A`raf ayat 180 dengan arti orang-orang yang menyimpang dari kebe­naran yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

Advertisement